Pertempuran
Kamis, 15 Mei 1817, tepat saat hari beranjak siang. Strategi penyerangan ini dikerahkan Thomas Matulessy dalam dua lapis kekuatan. Barisan depan terdiri dari para Kapitan yang bersenjatakan Senapan lantak, Flintlock musket, & Karabin; senjata-senjata yang mereka miliki sejak berdinas di militer Inggris. Sementara itu, dari barisan belakang, rakyat dalam jumlah yang sangat besar menggunakan Parang Salawaku beserta Senjata tajam lainnya.[3]
Mendengar bunyi tembakan yang semakin ramai dan kacaunya keadaan, residen van den Berg yang diliputi kepanikan segera menaiki anak tangga di atas gerbang Benteng Duurstede untuk mengibarkan Bendera Putih, akan tetapi simbol menyerah itu tidak mampu meredam amarah dari rakyat. Terompet kerang (Tahuri) ditiup, Tifa dipukul, serta diiringi Tarian Cakalele yang menandakan pembalasan dendam dari rakyat yang tidak tertahankan lagi.
Dalam keputusasaan, Johannes van den Berg terpaksa keluar untuk menghadapi para Kapitan. Ia sempat berdialog dengan mereka dan meminta maaf, namun ia ditembak; kali ini mengenai pahanya. Saat terkena tembakan Senapan lantak pertama, Residen van den Berg masih bertahan hidup. ia berupaya mundur dan menutup kembali pintu gerbang benteng, dengan napas tersengal-sengal ia lari menuju tembok bagian belakang benteng yang cukup dangkal agar segera melompat dan melarikan diri.
Namun, upaya van den Berg untuk menutup pintu gerbang sia-sia. Dengan kekuatan ribuan massa, rakyat berhasil mendobrak dan menerobos masuk ke dalam. Di dalam pelataran benteng, pecahlah pertempuran jarak dekat yang brutal; rakyat merangsek ke setiap sudut, melumpuhkan serta membantai seluruh prajurit beserta Pejabat Belanda yang mencoba melawan.
[Duurstede di Saparua, karya Charles William Meredith van de Velde, 1844.]
Pergerakan van den Berg yang berusaha kabur akhirnya terdeteksi oleh para Kapitan bersenjata, residen akhirnya dipukul menggunakan pangkal senjata di bagian kepala dan tersungkur jatuh tak berdaya, Residen kemudian diseret ke area terbuka di depan tiang Bendera Belanda yang terletak di sisi tengah bagian belakang Benteng Duurstede di mana rakyat telah berkumpul untuk menyaksikan jatuhnya simbol penjajahan di atas tanah Maluku.
Setibanya di depan tiang Bendera Belanda, Thomas Matulessy meminta kepada Guru Jemaat, Yakub sahetapy untuk berdoa kepada sang residen, sebelum Residen Saparua, Johannes Rudolph van den Berg, ditembak Berkali-kali hingga tewas.
Dalam peristiwa bersejarah ini rakyat beserta para kapitan di bawah komando Thomas Matulessy telah berhasil merebut Benteng Duurstede dan membantai serta menewaskan hampir seluruh penghuni benteng. Total 40 korban yang mencakup Residen Saparua, Johannes Rudolph van den Berg, Istrinya Johanna Christina Umbgrove dan kedua anaknya Gerardus van den Berg dan si bungsu Rudolph van den Berg, 1 orang administrator, 17 prajurit yang terdiri dari tentara Eropa dan Pribumi beserta 18 tenaga kerja lokal di Benteng Duurstede.
Residen Van den Berg, sempat meminta bantuan, tetapi catatannya tidak sempat terkirim dan catatan ini ditemukan belakangan yang menyatakan:
“Sergeant komt spoedig cito met 12 man met scherp geladen, om mij te verlossen, alles is in oproer” Van den Berg.
Terjemahan Bebas:
"Sersan segera datang dengan 12 orang Bersenjata tajam, untuk menyelamatkan saya, semuanya dalam kekacauan" Van den Berg.[4][5][6]
Satu-satunya orang Belanda yang selamat adalah Putra dari Johannes Rudolph Van den Berg berusia Lima Tahun yang bernama Jean Lubbert Van den Berg