PT Petral Group berdiri pada tahun 1969 oleh dua pemegang saham dari Petra Oil Marketing Corporation Limited yang terdaftar di Bahama dan kantor di Hong Kong, serta Petral Oil Marketing Corporation yang terdaftar di Kalifornia, AS.[1] Kedua perusahaan pemegang saham kemudian merger pada tahun 1978 menjadi Petra Oil Marketing Limited yang terdaftar di Hong Kong.[1]
Antara tahun 1979-1992 Petra Oil Marketing Limited dimiliki perusahaan Zambesi Invesments Limited (Hong Kong) dan Pertamina Energy Services Pte Limited (Singapura) dan diakusisi pada tahun 1998 oleh PT Pertamina (Persero) dan pada 2001 mengubah namanya menjadi PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) sesuai dengan persetujuan pemegang saham.[2]
Aktivitas utama Petral adalah melakukan jual-beli minyak, dengan fokus pembelian minyak untuk dijual ke Pertamina.[1] Semua aktivitas itu dilakukan di Singapura.[1] Pada tahun 2012 pendapatan usaha perusahaan ini mencapai US$ 33,292 miliar, dan membukukan laba bersih US$ 46 juta.[1]
Setelah dibubarkan pada Mei 2015, Pertamina hemat Rp 250 Miliar Per Hari.[3]
Skandal Mafia Migas
Pembubaran Petral yang sempat melahirkan optimisme nyatanya tidak lantas memberantas mafia migas.[4] Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menilai perombakan pejabat tanpa adanya pembenahan serius dari pemerintah membuat upaya perbaikan tata kelola Pertamina menjadi tidak tuntas.
Pada 2025, skandal korupsi yang merugikan negara sebesar 1 kuadtrilyun terungkap setelah bos patra niaga di tangkap Kejaksaan. Kasus ini kembali menyeret Petral. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil eks Direktur Utama Pertamina Energy Services Pte Ltd (Petral) Bambang Irianto untuk diperiksa sebagai tersangka pada Senin (10/3/2025). [5]