ENSIKLOPEDIA
Pernyataan perang Jerman terhadap Amerika Serikat
| Deklarasi perang terhadap Amerika Serikat | |
|---|---|
Hitler mengumumkan deklarasi perang | |
| Dipersembahkan | Desember 11, 1941; 84 tahun lalu (1941-12-11) |
| Lokasi | Reichstag, Jerman Nazi |
| Penulis | Adolf Hitler dan Joachim von Ribbentrop |
| Tujuan | Menyatakan perang terhadap Amerika Serikat karena "telah melanggar... semua aturan netralitas demi menguntungkan pihak musuh Jerman" |
Jerman Nazi menyatakan perang terhadap Amerika Serikat pada tanggal 11 Desember 1941, empat hari setelah serangan Jepang ke Pearl Harbor dan tiga hari setelah Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang. Para pejabat Jerman menyatakan bahwa tindakan ini merupakan tanggapan atas "serangkaian provokasi" oleh Amerika Serikat ketika negara tersebut secara resmi masih menjadi negara netral selama Perang Dunia II. Adolf Hitler mengambil keputusan tersebut setelah berkonsultasi selama dua hari dengan Reichsmarschall Hermann Göring, Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel, Großadmiral Erich Raeder, dan Menteri Luar Negeri Jerman Joachim von Ribbentrop. Mereka sepakat menyarankan Hitler untuk segera menyatakan perang mengingat dipublikasikannya rencana perang rahasia AS yang bernama Rainbow Five atau Victory Program [en], serta agar Kriegsmarine dapat memulai Masa Bahagia Kedua.[1] Keputusan ini kerap disebut sebagai keputusan Hitler yang "paling membingungkan" sepanjang Perang Dunia II.[2]
Latar belakang
Hubungan antara Jerman dan Amerika Serikat terus memburuk sejak awal Perang Dunia II, sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya kerja sama antara Amerika Serikat dan Britania Raya. Destroyers for Bases Agreement, Lend-Lease, Piagam Atlantik, penyerahan kendali militer Islandia dari Britania Raya kepada Amerika Serikat, perluasan Zona Keamanan Pan-Amerika, serta berbagai dampak lain dari hubungan istimewa yang terjalin di antara kedua negara tersebut telah meregangkan hubungan antara Jerman dan Amerika Serikat—yang saat itu secara teknis masih merupakan negara netral. Kapal-kapal perang Amerika Serikat yang mengawal kapal pasokan Amerika bermuatan bantuan menuju Britania Raya bahkan sudah terlibat dalam perang de facto yang tidak diumumkan melawan U-boot Jerman.[3]
Keinginan Roosevelt untuk membantu Britania Raya, terlepas dari keberatan lobi isolasionis Amerika yang berpengaruh serta Undang-Undang Netralitas yang diberlakukan oleh Kongres untuk mencegah keterlibatan langsung dalam perang, mendorong AS untuk mendobrak batas-batas tradisional netralitas demi mencegah dominasi Poros di Eropa. Menjelang tahun 1941, sebagian besar isi Undang-Undang Netralitas telah dicabut oleh Undang-Undang Lend-Lease dan memberikan Roosevelt kebebasan lebih untuk menyalurkan bantuan lanjutan bagi Britania Raya tanpa hambatan hukum. Bahkan sebelum Pertempuran Prancis pada tahun 1940, opini publik Amerika terhadap Jerman sudah menjadi semakin negatif, terutama setelah Roosevelt memenangkan masa jabatan pemilu berikutnya pada tahun 1940.[4]
Pada tanggal 7 Desember 1941, pasukan Jepang meluncurkan serangan mendadak terhadap Armada Pasifik Amerika Serikat yang berpangkalan di Pearl Harbor, Hawaii, yang menjadi pertanda dimulainya perang antara Jepang dan Amerika Serikat. Jepang tidak memberi tahu sekutunya, Jerman, terlebih dahulu sebelum serangan tersebut, meskipun duta besar Jepang telah menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri Jerman, Joachim von Ribbentrop, pada awal bulan Desember bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan Kekaisaran Jepang telah memburuk hingga ke titik di mana pecahnya pertempuran sudah di depan mata. Ia kemudian diinstruksikan untuk meminta komitmen Jerman agar menyatakan perang sesuai dengan ketentuan Pakta Tripartit jika hal itu terjadi. Sebelumnya, Hitler dan Ribbentrop telah mendesak Jepang untuk menyerang dan merebut Singapura dari Inggris, dengan keyakinan bahwa tindakan tersebut tidak hanya merugikan pihak Inggris, tetapi juga membantu menjaga agar AS tetap berada di luar perang.[5]
Para pemimpin Jepang, termasuk Hideki Tojo, merasa khawatir bahwa serangan terhadap Amerika Serikat akan menyebabkan Jerman berpihak pada sesama ras mereka dan ikut serta dalam pengepungan Jepang bersama Amerika Serikat dan Britania Raya. Oleh karena itu, pihak Jepang mendesak kepastian mengenai kesetiaan Jerman dan Italia kepada Jepang.[6] Pada tanggal 28 November 1941, Ribbentrop mengonfirmasi kepada Hiroshi Ōshima, duta besar Jepang untuk Jerman, apa yang telah dikatakan Hitler sendiri kepada Menteri Luar Negeri Jepang Yōsuke Matsuoka: bahwa jika Jepang terlibat dalam perang dengan Amerika Serikat, Jerman tentu saja akan ikut serta dalam perang di pihak Jepang. Ketika pihak Jepang meminta jaminan tertulis mengenai hal ini, Hitler memenuhinya dengan persetujuan tegas dari Mussolini. Perjanjian ini, yang disusun pada tanggal 4 Desember, mengikat kekuatan-kekuatan utama Poros untuk ikut berperang melawan Amerika Serikat jika terjadi pertempuran dengan Jepang dan pada dasarnya menggantikan Pakta Tripartit menjadi sebuah aliansi ofensif alih-alih aliansi defensif.

Berdasarkan ketentuan dalam perjanjian mereka, Jerman berkewajiban untuk membantu Jepang jika ada negara ketiga yang menyerang Jepang, tetapi tidak jika Jepang yang menyerang negara ketiga tersebut. Ribbentrop mengingatkan Hitler tentang hal ini dan mencatat bahwa deklarasi perang terhadap Amerika Serikat akan menambah jumlah musuh yang diperangi Jerman, tetapi Hitler mengabaikan kekhawatiran ini karena menganggapnya tidak krusial bagi hasil akhir perang dan, hampir sepenuhnya tanpa konsultasi, menyatakan perang terhadap Amerika Serikat.[5] Hitler berusaha mendahului apa yang ia yakini sebagai deklarasi perang yang akan segera dilakukan oleh Roosevelt, meskipun Roosevelt sebenarnya tidak berencana untuk menyatakan perang terhadap Jerman.[7][8][9] Secara umum, hierarki Nazi memandang rendah keteguhan militer AS di bawah kepemimpinan Roosevelt, sebuah sikap yang secara luas dianggap sebagai kesalahan fatal dalam pemikiran strategis mereka. Di mata mereka, Amerika Serikat adalah negara yang korup, dekaden, dan didominasi oleh Yahudi yang dilemahkan oleh populasi besar Afrika-Amerika, imigran, dan Yahudi-Amerika.[10]
Opini publik Amerika berbalik sangat menentang Jerman setelah peristiwa Pearl Harbor yang diyakini diilhami atau diorganisasi oleh Jerman. Jajak pendapat Gallup pada tanggal 10 Desember (setelah Pearl Harbor tetapi sebelum deklarasi perang Jerman) menemukan bahwa 90% warga Amerika menjawab "Ya" untuk pertanyaan "Haruskah Presiden Roosevelt meminta Kongres untuk menyatakan perang terhadap Jerman serta terhadap Jepang?"[11][12][13]
Deklarasi Jerman
Hitler tiba di Berlin pada hari Selasa, 9 Desember dan bertemu dengan Goebbels pada tengah hari. Dalam pertemuan tersebut, ia mengungkapkan niatnya untuk menyatakan perang melalui sebuah pidato di hadapan Reichstag serta menunda deklarasi tersebut selama 24 jam agar memiliki waktu untuk bersiap.[14] Pertemuan lanjutan dengan Goebbels pada tanggal 10 Desember memfinalisasi perencanaan tersebut, meskipun Hitler belum mulai mengerjakan pidatonya. Waktu yang dipilih adalah pukul 15.00 karena jam tersebut dirasa tepat bagi para pendengar radio Jerman serta membuat siarannya dapat diterima di Tokyo pada pukul 22.00 dan di Washington DC pada pukul 08.00. Ribbentrop menelepon duta besar Jerman di Roma dan memintanya untuk menghubungi Mussolini guna memastikan bahwa deklarasi perang Italia dikoordinasikan dengan deklarasi Jerman. Sementara itu, terjadi aktivitas diplomatik yang intens untuk memastikan bahwa amendemen Pakta Tripartit yang diminta oleh pemerintah Jepang dapat diselesaikan; pihak Jerman meminta agar duta besar Jepang, Hiroshi Ōshima, diberi wewenang untuk menandatangani klausul "tidak ada perdamaian terpisah" atas nama Tokyo demi menghemat waktu.[15]
Britania Raya dan Amerika Serikat sudah mengetahui niat Jerman melalui intelijen sinyal Magic. Pada tanggal 9 Desember, Roosevelt menyampaikan salah satu siaran nasional fireside chats [en]-nya dan menyatakan bahwa rakyat Amerika harus "selalu ingat bahwa Jerman dan Italia, terlepas dari adanya deklarasi perang resmi, menganggap diri mereka sedang berperang dengan Amerika Serikat saat ini, sama seperti mereka menganggap diri mereka sedang berperang dengan Britania atau Rusia".[16] Churchill berpidato di House of Commons pada pagi hari tanggal 11 Desember dan menyatakan bahwa "Tidak hanya Imperium Britania saat ini, tetapi Amerika Serikat juga sedang berjuang demi keberlangsungan hidupnya; Rusia sedang berjuang demi keberlangsungan hidupnya, dan Tiongkok sedang berjuang demi keberlangsungan hidupnya. Di belakang empat komunitas pejuang besar ini berbaris semua semangat bebas dan harapan dari semua negara yang ditaklukkan di Eropa... Sungguh akan membawa aib bagi generasi kita jika kita tidak memberi mereka pelajaran yang tidak akan dilupakan dalam catatan seribu tahun".[17]
Pada hari Kamis, 11 Desember 1941, Kuasa Usaha Amerika Serikat Leland B. Morris [en], diplomat tertinggi Amerika Serikat di Jerman, dipanggil ke kantor Menteri Luar Negeri Joachim von Ribbentrop; di sana, Ribbentrop membacakan deklarasi resmi tersebut kepada Morris;[18] pertemuan tersebut berlangsung dari pukul 14.18 hingga 14.21.[19][perlu rujukan lengkap] Teksnya adalah:
TUAN KUASA USAHA:
Pemerintah Amerika Serikat, setelah melanggar semua aturan netralitas secara sangat terang-terangan dan dalam tindakan yang terus meningkat demi menguntungkan pihak musuh Jerman, serta terus-menerus bersalah atas provokasi paling parah terhadap Jerman sejak pecahnya perang Eropa—yang dipicu oleh pernyataan perang Britania Raya terhadap Jerman pada tanggal 3 September 1939—pada akhirnya telah beralih ke tindakan agresi militer terbuka.
Pada tanggal 11 September 1941, Presiden Amerika Serikat secara terbuka menyatakan bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika untuk menembak di tempat setiap kapal perang Jerman. Dalam pidatonya pada tanggal 27 Oktober 1941, ia sekali lagi menegaskan secara tersurat bahwa perintah ini berlaku. Bertindak berdasarkan perintah tersebut, kapal-kapal Angkatan Laut Amerika secara sistematis telah menyerang kekuatan laut Jerman sejak awal September 1941. Dengan demikian, kapal-kapal perusak Amerika, seperti Greer, Kearny, dan Reuben James, telah melepaskan tembakan ke arah U-Boot Jerman sesuai rencana. Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat, Tuan Knox, mengonfirmasi sendiri bahwa kapal-kapal perusak Amerika menyerang U-Boot Jerman.
Selain itu, kekuatan laut Amerika Serikat, di bawah perintah pemerintah mereka dan bertentangan dengan hukum internasional, telah memperlakukan dan menyita kapal-kapal dagang Jerman di laut lepas sebagai kapal musuh.
Oleh karena itu, Pemerintah Jerman menetapkan fakta-fakta berikut:
Meskipun Jerman di pihaknya telah mematuhi aturan hukum internasional secara ketat dalam hubungannya dengan Amerika Serikat sepanjang periode perang saat ini, Pemerintah Amerika Serikat akhirnya melangkah ke tindakan perang terbuka terhadap Jerman setelah bermula dari pelanggaran-pelanggaran netralitas awal. Pemerintah Amerika Serikat dengan demikian secara nyata telah menciptakan keadaan perang.
Oleh karena itu, Pemerintah Jerman memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan menyatakan bahwa dalam keadaan yang ditimbulkan oleh Presiden Roosevelt ini, Jerman juga, terhitung sejak hari ini, menganggap dirinya berada dalam keadaan perang dengan Amerika Serikat.
Terimalah, Tuan Kuasa Usaha, ungkapan hormat saya yang setinggi-tingginya.
11 Desember 1941.
RIBBENTROP.[20]
Menurut George F. Kennan, seorang diplomat yang bekerja bersama Morris, setelah membacakan deklarasi tersebut, Ribbentrop meneriaki Morris, "Ihr Präsident hat diesen Krieg gewollt; jetzt hat er ihn"code: de is deprecated ("Presiden Anda menginginkan perang ini; sekarang dia mendapatkannya"), lalu berbalik cepat dan meninggalkan ruangan.[21][22]
Teks yang sama telah dikirimkan kepada Hans Thomsen, kuasa usaha Jerman di Washington, dengan instruksi untuk menyerahkannya kepada Cordell Hull, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, pada pukul 15.30 waktu musim panas Jerman (pukul 08.30 Waktu Standar Timur).[23] Namun, setibanya mereka di sana, Hull menolak menemui delegasi Jerman. Mereka baru bisa menyerahkan nota tersebut pada pukul 09.30 kepada Ray Atherton, kepala Divisi Urusan Eropa.[24] Di Berlin, terjadi kegemparan karena Mussolini memutuskan untuk mendahului Hitler dengan menyatakan perang melalui pidato dari balkon di Palazzo Venezia pada pukul 14.45. Sekitar 100.000 orang berkumpul untuk mendengarkan pidatonya yang hanya berlangsung selama empat menit.[25]
Pada pukul 15.00, Hitler berpidato di hadapan 855 deputi Reichstag yang berkumpul di Gedung Opera Kroll. Pidato tersebut berlangsung selama 88 menit dan merinci berbagai keberhasilan Jerman hingga saat itu.[26] Bagian kedua pidato tersebut dikhususkan untuk menyerang Roosevelt serta "dunia kapitalis-Yahudi Anglo-Saxon", yang diakhiri dengan pernyataan bahwa "Dalam 2.000 tahun sejarah Jerman yang kita ketahui, Volkcode: de is deprecated kita tidak pernah lebih bersatu dan padu daripada hari ini."[27] Pada hari yang sama, para duta besar Jerman di ibu kota negara-negara penandatangan Pakta Tripartit lainnya—yaitu Hungaria, Rumania, Bulgaria, Kroasia, dan Slowakia—diinstruksikan untuk mendapatkan deklarasi perang mereka terhadap Amerika Serikat.[24]
Roosevelt telah menulis nota singkat kepada Kongres pada pagi hari tanggal 11 Desember untuk meminta mereka menyatakan perang terhadap Jerman dan Italia. Saat Kongres bersidang pada siang hari, mosi tersebut disahkan oleh kedua majelis tanpa penolakan, meskipun terdapat beberapa anggota yang abstain. Wakil Presiden Henry Wallace tiba di Gedung Putih dengan membawa dokumen deklarasi tersebut, yang kemudian ditandatangani oleh Roosevelt pada pukul 15.00.[28]
Opini pascadeklarasi

Menurut ajudan angkatan laut Hitler, Laksamana Karl-Jesko von Puttkamer, serangan Jepang ke Pearl Harbor sebenarnya mendongkrak keyakinan Hitler untuk memenangkan perang serta meningkatkan moral di kalangan pimpinan tinggi angkatan bersenjata. Peter Padfield menulis:
Berita [tentang Pearl Harbor] mengejutkan Hitler meskipun ia telah mengetahui niat mereka untuk menyerang di suatu tempat pada suatu waktu dan telah memutuskan untuk mendukung mereka jika mereka menyerang Amerika Serikat. Kini, dengan gegabah mengabaikan kekuatan finansial dan produksi Amerika yang masif serta, menurut... von Puttkamer, buta terhadap kenyataan bahwa kekuatan tersebut dapat diproyeksikan melintasi Atlantik, ia mendapatkan kembali keyakinan akan hasil akhir perang yang membawa kemenangan. Para jenderalnya menderita halusinasi berbasis daratan yang sama: seluruh staf markas besarnya larut dalam "kegembiraan yang meluap-luap"; segelintir orang yang melihat lebih jauh "menjadi semakin kesepian". Para perwira angkatan laut pun tidak melihat hal ini dengan lebih jelas daripada para jenderal.[29]
Meskipun alasan yang diklaim Hitler untuk menyatakan perang terhadap Amerika Serikat sangat banyak, ia tidak berkewajiban berdasarkan perjanjian untuk mendukung Jepang kecuali jika negara tersebut diserang secara langsung oleh pihak ketiga. Ia terdorong untuk merespons dengan cepat karena antusiasmenya terhadap serangan mendadak Jepang yang menentukan—strategi yang juga digunakan oleh pasukan Jerman saat menyerang Uni Soviet dalam Operasi Barbarossa pada Juni 1941. Bahkan, Hitler pernah menyampaikan secara pribadi kepada duta besar Jepang bahwa "[S]eseorang harus menyerang – sekeras mungkin – dan tidak membuang waktu dengan menyatakan perang."[5] Prospek perang berskala global ini juga mempertegas kecenderungan Hitler terhadap pemikiran yang muluk-muluk serta memperkuat perasaannya bahwa ia adalah sosok yang memiliki pengaruh sejarah yang besar. Seperti yang ia katakan dalam pidato deklarasinya di hadapan Reichstag:
Saya hanya bisa bersyukur kepada Takdir Ilahi karena telah mempercayakan kepemimpinan dalam perjuangan bersejarah ini kepada saya, perjuangan yang selama lima ratus atau seribu tahun ke depan akan digambarkan sebagai penentu, tidak hanya bagi sejarah Jerman, tetapi juga bagi seluruh Eropa dan bahkan seluruh dunia.[5]
Apa pun konsultasi yang dicari Hitler untuk keputusannya, ia tidak mengundang siapa pun dari Wehrmachtcode: de is deprecated untuk memberikan saran, kecuali mungkin para jenderal penjilat seperti Alfred Jodl dan Wilhelm Keitel. Jodl, yang merupakan penasihat militer utama Hitler dalam perencanaan operasi, dan wakil langsungnya, Jenderal Walter Warlimont, kelak mengenang bahwa hal itu "merupakan keputusan independen sepenuhnya yang lain, di mana tidak ada saran dari Wehrmachtcode: de is deprecated yang diminta ataupun diberikan". Kemungkinan besar jika mereka dimintai saran, kepemimpinan militer akan menyarankan untuk tidak memperluas perang, mengingat besarnya krisis di Front Timur. Ajudan Luftwaffecode: de is deprecated Hitler, Nicolaus von Below, yang diberi tahu mengenai keputusan untuk memperluas perang sekembalinya dari cuti satu bulan, merasa tercengang oleh "ketidaktahuan" Hitler tentang potensi militer Amerika Serikat dan melihatnya sebagai contoh dari "pendekatan amatiran Hitler serta pengetahuannya yang terbatas tentang negara asing". Hitler juga tidak memerintahkan persiapan yang diperlukan untuk keputusan semacam itu ataupun mempertimbangkan aspek logistik apa pun.[30] Ia mungkin melihat adanya keuntungan strategis karena AS diperkirakan akan fokus menanggapi serangan Pearl Harbor, sementara armada U-Boot Jerman dikerahkan untuk menyerang jalur pelayaran Amerika di Atlantik, sehingga memutus jalur pasokan logistik ke Britania Raya.[31] Namun, ia tidak memberikan pemberitahuan awal kepada Laksamana Karl Dönitz agar dapat memosisikan U-Boot miliknya demi memanfaatkan situasi baru ini secara maksimal.[30]
Ketidaktahuan Hitler mengenai AS serta kapasitas industri dan demografi negara tersebut untuk mengobarkan perang di dua front juga turut memengaruhi keputusannya.[5][32] Sejak pertengahan Maret 1941—sembilan bulan sebelum serangan Jepang—Presiden Roosevelt telah menyadari sepenuhnya permusuhan Hitler terhadap Amerika Serikat serta potensi destruktif yang ditimbulkannya. Akibat sikap di dalam Gedung Putih ini serta perkembangan pesat kapasitas industri Amerika sebelum dan sepanjang tahun 1941 untuk mulai menyediakan persenjataan, pesawat tempur, dan kapal bagi angkatan bersenjatanya demi mengalahkan Blok Poros secara keseluruhan, AS telah berada di jalur menuju ekonomi perang total yang kelak menjadikannya "gudang senjata demokrasi" bagi dirinya sendiri dan para sekutunya. Namun, Hitler meremehkan kekuatan militer Amerika Serikat, sebuah pandangan yang juga diamini oleh Hermann Göring. Dengan pasukan Jerman yang sudah berada di pinggiran kota Moskwa, Hitler mungkin juga memperhitungkan bahwa kekalahan cepat Uni Soviet akan membebaskan sumber daya ekonomi dan militer Jerman yang sedang terikat dalam invasi tersebut.[33]
Faktor lainnya adalah prasangka rasial Hitler yang mendalam membuatnya memandang AS sebagai demokrasi borjuis yang dekaden dan dipenuhi oleh orang-orang ras campuran—sebuah populasi yang sangat dipengaruhi oleh orang Yahudi dan "kaum Negro", tanpa sejarah disiplin otoriter untuk mengendalikan dan mengarahkan mereka, serta hanya tertarik pada kemewahan dan "hidup enak" sembari menari, minum-minum, dan menikmati musik "bercorak Negro". Negara seperti itu, dalam pemikiran Hitler, tidak akan pernah sudi melakukan pengorbanan ekonomi dan manusia yang diperlukan untuk mengancam Jerman Nasional Sosialis. Pandangan ini menjadi dasar bagi penilaian keliru yang sangat berbahaya terhadap negara yang—sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Hitler dalam buku yang tidak diterbitkannya, Hitlers zweites Buch [de]code: de is deprecated (Buku Kedua, 1928)—akan menjadi tantangan paling serius bagi Reich Ketiga setelah kekalahan Uni Soviet yang ia rencanakan.[34]
Potensi ekonomi dan komposisi rasial Amerika memiliki implikasi terhadap konstruksi ideologis Hitler sendiri, bahkan memengaruhi caranya melihat masalah Jerman saat ini dan harapan masa depannya. Gagasan utamanya mengenai Lebensraum (ruang hidup) dan ras menjadi kunci bagi pandangannya terhadap Amerika Serikat. Bagi Hitler, Amerika Serikat adalah sebuah negara dengan inti ras 'Nordik' kulit putih; ia menganggap inti ras inilah yang membawa kesuksesan ekonomi dan standar hidup di sana serta melihatnya sebagai model bagi visinya tentang 'ruang hidup' Jerman di Eropa.[catatan 1]
Selain itu, dari sudut pandang Jerman, Amerika Serikat sebenarnya sudah dianggap sebagai pihak yang terlibat perang. Roosevelt telah melangkah sejauh mungkin untuk terlibat dalam perang sebagaimana yang bisa dilakukan oleh suatu kekuatan netral dan mungkin juga telah melewati batas tersebut. Selama lebih dari satu tahun, AS telah menyediakan bantuan ekonomi dalam jumlah besar kepada Britania dan Uni Soviet dalam bentuk pinjaman, kredit, dan Lend-Lease. Dalam Piagam Atlantik, Roosevelt juga telah berjanji bahwa Amerika akan menjadi "gudang senjata demokrasi" untuk mencegah dominasi Blok Poros di Eropa. Serangan Jerman terhadap pelayaran Amerika – yang terjadi setelah periode ketika U-Boot diperintahkan untuk menghindarinya sebisa mungkin – telah dimulai jauh sebelum deklarasi resmi Jerman. Hal ini membuat kapal-kapal angkatan laut Amerika mau tidak mau terlibat dalam konflik dengan kapal-kapal Jerman. Ribbentrop menyatakan pendapat bahwa kekuatan-kekuatan besar tidak menunggu perang dinyatakan terhadap mereka. Bagi Hitler—yang tidak mengetahui ketegangan dalam hubungan Anglo-Amerika—Amerika Serikat yang sudah hampir menjadi pihak terlibat perang mungkin akan tetap menyatakan perang secara resmi terhadap Jerman dalam situasi apa pun.[33]
Dari perspektif pemerintah Amerika Serikat, negara tersebut berkewajiban untuk membantu sesama negara demokrasi dalam perjuangannya melawan agresi Fasis di Eropa, yang membutuhkan dukungan materi dan finansial tanpa melalui jalur perang, baik bagi Imperium Britania maupun Uni Soviet. Hal ini memicu perdebatan sengit di Amerika Serikat, tetapi sebagian besar warga Amerika mendukung pemberian bantuan tersebut tanpa harus melibatkan Amerika secara langsung dalam pertempuran. Terpilihnya kembali Roosevelt pada tahun 1940 juga mendorongnya untuk mengupayakan bantuan berkelanjutan lebih lanjut bagi Britania Raya, mengingat ia telah menyetujui Perjanjian Destroyers for Bases sebulan sebelum pemilu tahun 1940. Kebijakan beli dan angkut juga telah diterapkan satu tahun sebelumnya, yaitu pada September 1939. Meskipun kebijakan-kebijakan ini mau tidak mau meregangkan diplomasi antara kedua negara, hubungan Amerika dengan Jerman sebenarnya telah memburuk selama bertahun-tahun, terutama setelah penarikan duta besar Amerika Serikat untuk Jerman pada tahun 1938 menyusul peristiwa Kristallnacht.[35][36]
Salah satu keuntungan yang diperoleh Hitler dari deklarasi perang terhadap AS adalah sebagai pengalih perhatian propaganda bagi publik Jerman guna mengalihkan perhatian mereka dari situasi perang melawan Uni Soviet, ketika Jerman telah mengalami kemunduran parah dan pertempuran berkepanjangan yang tidak disangka-sangka. Hitler telah meyakinkan rakyat Jerman bahwa Uni Soviet akan dihancurkan jauh sebelum musim dingin tiba, tetapi kenyataannya hal itu tidak terjadi dan hampir tidak ada kabar baik yang bisa disampaikan. Momentum serangan Jepang di Pearl Harbor memungkinkan Hitler untuk mengarahkan pidato rancangannya di hadapan Reichstag dengan cara yang lebih positif demi memeras nilai propaganda sebanyak mungkin dari peristiwa tersebut. Hitler sebenarnya menunda pidato tersebut – dan deklarasi perang itu sendiri – selama beberapa hari demi mencari momen psikologis yang tepat untuk menyampaikan pengumuman.[37] Namun, motif propaganda ini hampir tidak cukup untuk membenarkan deklarasi perang terhadap AS, terutama mengingat bahwa tindakan tersebut justru akan menciptakan "aliansi yang tidak alami" antara dua entitas politik yang berbeda jauh dan sebelumnya saling bermusuhan, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Terdapat pula motivasi yang terkait dengan psikologi Hitler sendiri. Pada saat Wehrmacht baru saja dipaksa oleh Tentara Merah dan musim dingin Rusia untuk beralih ke posisi bertahan dalam invasi ke Rusia, Hitler mungkin ingin menunjukkan melalui deklarasi perang ini bahwa ia masih mengendalikan situasi. Selain itu, sepanjang hidupnya, Hitler selalu bertaruh dan menang pada pilihan yang tidak diunggulkan serta mempertaruhkan segalanya pada satu lemparan dadu. Strategi tersebut telah menguntungkannya hingga titik ini, tetapi kurangnya informasi yang ia miliki tentang AS dan prasangka ideologisnya terhadap negara tersebut membuat pilihan ini menjadi keputusan yang sangat buruk dan tidak menguntungkan dirinya. Namun, dari perspektif sejarah, pilihannya tampak seperti sebuah tindakan yang putus asa.[32]
Terlepas dari alasan Hitler di balik deklarasi tersebut, keputusan ini secara umum dipandang sebagai blunder strategis yang sangat besar di pihaknya. Keputusan tersebut memungkinkan Amerika Serikat untuk memasuki perang Eropa di pihak Britania Raya, Uni Soviet, dan Sekutu tanpa banyak penentangan publik, sembari tetap menghadapi ancaman Jepang di Pasifik. Hitler pada kenyataannya telah mengikat Jerman dalam perang melawan Amerika Serikat di tengah perang pemusnahan terhadap Uni Soviet dan sebelum berhasil mengalahkan Britania. Ia mengabaikan opsi untuk menunda konflik dengan AS selama mungkin—sebuah langkah yang sebenarnya dapat memaksa Amerika Serikat berkonsentrasi pada perang di Pasifik melawan Jepang serta mempersulit negara tersebut untuk terlibat dalam perang di Eropa. Setidaknya hingga batas tertentu, Hitler memegang kendali untuk mengatur waktu intervensi Amerika Serikat. Namun sebaliknya, dengan menyatakan perang terhadap Amerika, ia justru memberikan kebebasan bagi Roosevelt dan Churchill untuk bertindak sesuka mereka.[3][8][9][38][39][40][41]
Dari sudut pandang Hitler dan sebagian besar elite politik serta militer Jerman, menyatakan perang terhadap AS sebagai tanggapan atas serangan Pearl Harbor merupakan risiko yang telah diperhitungkan untuk memerangi AS sebelum mereka siap mempertahankan diri secara efektif. Pada saat itu, kepemimpinan Jerman meyakini bahwa Amerika Serikat secara efektif telah bertindak sebagai pihak terlibat perang dalam konflik tersebut, mengingat adanya tindakan seperti Lend-Lease pasokan kepada Britania untuk mendukung upaya perang mereka dalam menghadapi agresi Jerman, pernyataan publik Presiden Roosevelt, pengerahan tentara dan Marinir Amerika ke Islandia, serta pengawalan konvoi melintasi Atlantik oleh Angkatan Laut AS yang terkadang terlibat kontak dengan U-Boot. Serangkaian tindakan tersebut, ditambah dengan intervensi Amerika sebelumnya dalam Perang Dunia I, mengarah pada asumsi bahwa perang di antara kedua negara tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu, keputusan diambil untuk menggunakan serangan tersebut sebagai alasan deklarasi perang resmi demi mendepak Britania dari konflik melalui perluasan operasi kapal selam dan penyerangan langsung terhadap pelayaran komersial AS.
Meskipun deklarasi perang Hitler terhadap Amerika Serikat pada akhirnya menyebabkan kejatuhannya, pada awalnya langkah ini tampak berhasil mencapai tujuannya untuk memutus jalur pasokan Britania secara lebih efektif. Kurangnya taktik, peralatan, dan prosedur militer AS untuk memerangi U-Boot menyebabkan tahun 1942 menjadi tahun yang paling mematikan sepanjang perang dalam hal kerugian kapal dagang;[42] deklarasi perang tersebut memicu dimulainya periode Masa Bahagia Kedua bagi armada U-Boot.[43]
Deklarasi perang Hitler membawa kelegaan besar bagi Perdana Menteri Britania Winston Churchill, yang mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya dua perang paralel yang terputus – yaitu Britania Raya dan Uni Soviet melawan Jerman di Eropa, serta AS dan Imperium Britania melawan Jepang di Timur Jauh dan Pasifik. Dengan berlakunya deklarasi Jerman Nazi terhadap Amerika Serikat, keterlibatan Amerika bersama Britania di kedua medan perang sebagai sekutu penuh menjadi pasti. Hal ini juga menyederhanakan masalah bagi pemerintah Amerika, sebagaimana yang dikenang oleh John Kenneth Galbraith:
Ketika peristiwa Pearl Harbor terjadi, kami [para penasihat Roosevelt] merasa putus asa. ... Kami semua dirundung kecemasan yang mendalam. Suasana hati rakyat Amerika sudah jelas – mereka bertekad bahwa Jepang harus dihukum. Kami bisa saja terpaksa memusatkan seluruh upaya kami di Pasifik, sehingga sejak saat itu tidak dapat memberikan bantuan kepada Britania selain sekadar bantuan luar. Sungguh sangat mencengangkan ketika Hitler menyatakan perang terhadap kami tiga hari kemudian. Saya tidak bisa melukiskan betapa besarnya rasa kemenangan yang kami rasakan saat itu. Tindakan tersebut sepenuhnya tidak rasional untuk ia lakukan dan saya rasa hal itu telah menyelamatkan Eropa.[44]
Joachim Fest, salah satu penulis biografi Hitler, berargumen bahwa keputusan Hitler "sebenarnya bukan lagi merupakan tindakan atas kehendaknya sendiri, melainkan sebuah isyarat yang dikendalikan oleh kesadaran mendadak akan ketidakberdayaan dirinya sendiri. Isyarat tersebut merupakan inisiatif strategis penting terakhir dari Hitler."[8] Sejarawan Ian Kershaw mencirikan keputusan Hitler untuk menyatakan perang terhadap AS—padahal ia tidak diwajibkan untuk melakukannya—sebagai "[S]ebuah langkah maju khas Hitler, yang mencoba merebut inisiatif ... [N]amun langkah tersebut lahir dari kelemahan, bukan kekuatan. Dan tindakan itu lebih tidak rasional daripada keputusan strategis mana pun yang diambil hingga tanggal tersebut."[45] Dalam analisis biografisnya, Anmerkungen zu Hitler [de], jurnalis Sebastian Haffner menyatakan mengenai keputusan Hitler, "Hingga hari ini [1979], tidak ada penjelasan rasional yang dapat dipahami untuk apa yang membuat seseorang tergoda untuk menggambarkannya sebagai tindakan kegilaan. ... Bahkan jika dipandang sebagai tindakan putus asa pun, deklarasi perangnya terhadap Amerika benar-benar tidak masuk akal."[46][catatan 2]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Hingga tanggal 24 Februari 1945, Hitler berbicara tentang "wilayah luas" Amerika Serikat di Amerika, yang "cukup untuk menyerap energi seluruh rakyat mereka", sebagai model yang ia harap dapat ditiru oleh Jerman di Eropa, "untuk memastikan kemandirian ekonomi sepenuhnya di dalam wilayah dengan ukuran yang selaras dengan populasinya", serta menambahkan bahwa "bangsa yang besar membutuhkan lahan yang luas". Genoud, Francois, ed. (1961). The Testament of Adolf Hitler. The Hitler–Bormann Documents, February–April 1945. London. hlm. 88. Mengenai masalah dengan sumber ini, lihat Kershaw (2000), n. 121, hlm. 1024–25.
- ↑ Haffner berspekulasi bahwa keputusan tersebut mungkin menandai awal dari posisi pamungkas Hitler bahwa jika rakyat Jerman tidak memiliki "keinginan" yang cukup untuk memenangkan perang, mereka layak untuk hancur lebur sepenuhnya. Ia mengutip kemunduran baru-baru ini di Front Timur serta pernyataan Hitler pada tanggal 27 November kepada Menteri Luar Negeri Denmark dan Kroasia, "Jika suatu hari bangsa Jerman tidak lagi cukup kuat atau tidak lagi cukup siap berkorban untuk mempertaruhkan darahnya demi eksistensinya, biarlah ia binasa dan dimusnahkan oleh kekuatan lain yang lebih kuat ... Dalam hal ini, saya tidak akan meneteskan air mata untuk bangsa Jerman." Haffner berkomentar, "Apakah deklarasi perang terhadap Amerika merupakan petunjuk pertama bahwa Hitler secara batin telah beralih haluan? Apakah ia telah memutuskan bahwa jika ia tidak bisa tercatat dalam sejarah sebagai penakluk terbesar, setidaknya ia akan menjadi arsitek dari bencana terbesar?" (hlm. 120)
Referensi
- ↑ "The Big Leak - Rainbow Five".
- ↑ Kershaw (2007), hlm. 382
- 1 2 Bullock (1992), hlm. 766-67
- ↑ Gallup, George (1940). Gallup Vault: U.S. Opinion and the Start of World War II.
- 1 2 3 4 5 Bullock (1992), hlm. 661–664
- ↑ Hotta, Eri (Desember 2007). Pan-Asianism and Japan's War 1931-1945. New York: Palgrave Macmillan. hlm. 184. ISBN 978-0-230-60103-1.
Secara khusus, [Yoshimichi] merasa khawatir bahwa Hitler yang 'pernah menyebut orang Jepang sebagai ras kelas dua' mungkin akan memilih bersekutu dengan Amerika Serikat dan Britania Raya. Ia berspekulasi bahwa begitu Jepang menyatakan perang terhadap Amerika Serikat, Jerman akan bergabung dengan Amerika Serikat dan Britania Raya, dipersatukan oleh 'kebencian bersama terhadap ras kuning.'
- ↑ Kershaw (2007), hlm. 444–446
- 1 2 3 Fest, Joachim C. (1975). Hitler. New York: Vintage. hlm. 655–657. ISBN 0-394-72023-7.
- 1 2 Burleigh, Michael (2000). The Third Reich: A New History. New York: Hill and Wang. hlm. 731–732. ISBN 9780809093250.
- ↑ Table Talk, ed. Martin Bormann (1953). Pernyataan tanggal 7 Januari 1942
- ↑ Cantril, Hadley. "Public Opinion: 1935-1946". hlm. 1173.
- ↑ Norpoth, Helmut. "Unsurpassed: The Popular Appeal of Franklin Roosevelt". hlm. 39.
- ↑ Hill, Richard F. "Hitler Attacks Pearl Harbor: Why the United States Declared War on Germany". hlm. 37.
- ↑ Mawdsley 2011, hlm. 221
- ↑ Mawdsley 2011, hlm. 236
- ↑ Mawdsley 2011, hlm. 223–225
- ↑ Mawdsley 2011, hlm. 247
- ↑ Read, Anthony (2004). The Devil's Disciples: Hitler's Inner Circle. W. W. Norton & Company. hlm. 783. ISBN 978-0-393-04800-1.
- ↑ hlm. 247
- ↑ "German Declaration of War with the United States : December 11, 1941". The Avalon Project. Lillian Goldman Law Library. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Maret 2013. Diakses tanggal 2 November 2013.
- ↑ Kennan, George F. (2020) Memoirs 1925-1950. hlm. 96. Diarsipkan 6 November 2021 di Wayback Machine.. Plunkett Lake Press.
- ↑ Inti dari pernyataan Ribbentrop kepada Morris, tanpa komentar deskriptif, dikonfirmasi oleh Bloch, Michael (1992) Ribbentrop: A Biography. New York: Crown. hlm. 347 ISBN 0-517-59310-6, mengutip Documents on German Foreign Policy - Series D - Volume XIII - June 23 - December 11 1941 (1945) hlm. 1004–1005. United States Government Printing Office, Telegram No. 577 (11 Desember 1941) dari "Schmidt"
- ↑ Smyth & Lambert 1964, hlm. 999
- 1 2 Mawdsley 2011, hlm. 253
- ↑ Mawdsley 2011, hlm. 248-249
- ↑ "Hitler's Speech Declaring War Against the United States". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Agustus 2021. Diakses tanggal 21 Oktober 2021.
- ↑ Mawdsley 2011, hlm. 250–253
- ↑ Mawdsley 2011, hlm. 253–254
- ↑ Padfield, Peter (1984) Dönitz: The Last Fuhrer: Portrait of a Nazi War Leader London: Victor Gollancz. ISBN 0-575-03186-7. hlm. 235; mengutip Warlimont, W. (1964) Inside Hitler's Headquarters Weidenfeld, hlm. 208
- 1 2 Kershaw (2007), hlm. 383–84
- ↑ Kershaw (2016), hlm. 352
- 1 2 Ullrich, Volker (2020). Hitler: Downfall: 1939–1945. Diterjemahkan oleh Chase, Jefferson. New York: Knopf. hlm. 221–222. ISBN 978-1-101-87400-4.
- 1 2 Overy, R. J. (1998). The Origins of the Second World War. London: Longman. hlm. 94. ISBN 0-582-290856.
- ↑ Hillgruber (1981), hlm. 50–51
- ↑ "Bill to Aid Britain Strongly Backed". The New York Times. 9 Februari 1941.
- ↑ Weeks 2004, hlm. 24
- ↑ Kershaw (2000), hlm. 444–45
- ↑ Alexander, Bevin (2000). How Hitler Could Have Won World War II. New York: Crown. hlm. 108. ISBN 0-8129-3202-1.
- ↑ Kershaw (2007), hlm. 382–430.
- ↑ Shirer, William L. (1960). The Rise and Fall of the Third Reich. New York: Simon and Schuster. hlm. 900.
- ↑ Hillgruber (1981), hlm. 95. Kutipan: "Deklarasi perang Hitler terhadap Amerika Serikat... bukanlah langkah kebijakan luar negeri yang objektif... Sebaliknya, itu adalah isyarat yang dirancang untuk menyembunyikan fakta bahwa ia tidak lagi dapat mengendalikan arah perang... Pengakuannya... pada tanggal 3 Januari 1942 bahwa ia 'belum' tahu 'bagaimana Amerika dapat dikalahkan' sudah menjelaskan semuanya."
- ↑ Farley, Robert (2 September 2016). "What If Hitler Never Declared War on the U.S. During World War II?". National Interest.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2020. Diakses tanggal 12 September 2016.
- ↑ Redford, Duncan, dan Grove, Philip D. (2014) The Royal Navy: A History Since 1900. Tauris. hlm. 182.
- ↑ Galbraith, John Kenneth, diwawancarai oleh Gitta Sereny (1995). Albert Speer: His Battle with the Truth. New York: Knopf. hlm. 267–68. ISBN 0-394-52915-4.
- ↑ Kershaw 1991, hlm. 159.
- ↑ Haffner, Sebastian (1979). The Meaning of Hitler. Diterjemahkan oleh Ewald Osers. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. hlm. 117–18. ISBN 0-674-55775-1.
Sumber
- Bloch, Michael (1992) Ribbentrop. New York: Crown Publishing. ISBN 0-517-59310-6.
- Bullock, Alan (1992) Hitler and Stalin: Parallel Lives. New York: Knopf. ISBN 0-394-58601-8
- Genoud, François ed. (1961) The Testament of Adolf Hitler: The Hitler–Bormann Documents, February–April 1945. London:Cassell
- Hillgruber, Andreas (1981) Germany and the Two World Wars Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 0-674-35322-6.
- Kershaw, Ian (1991). Hitler. Profiles in Power. Harlow, England: Pearson Education. ISBN 0-582-43756-3.
- Kershaw, Ian (2000) Hitler: 1936–1945: Nemesis. London: Allen Lane. ISBN 978-0393049947
- Kershaw, Ian (2007) Fateful Choices: Ten Decisions That Changed the World, 1940-1941 New York: Penguin. ISBN 978-1-59420-123-3
- Templat:Cite hellback
- Mawdsley, Evan (2011). December 1941: Twelve Days that Began a World War. New Haven, Connecticut: Yale University Press. ISBN 978-0-300-15445-0.
- Smyth, Howard M.; and Lambert, Margaret, ed. (1964). Documents on German Foreign Policy, 1918-1945. London: H.M.S.O.
- United States Department of State (13 December 1941) Department of State Bulletin. Washington, DC: Government Printing Office
- Weeks, Albert L. (2004), Russia's Life-Saver: Lend-Lease Aid to the U.S.S.R. in World War II, Lanham, Maryland: Lexington Books, ISBN 978-0-7391-0736-2
External links
Media terkait 11 December 1941 Reichstag speech di Wikimedia Commons