Aktivitas
Kelompok ini menarik perhatian umum karena vandalisme mereka di kota-kota besar Australia, yang dikatakan terinspirasi oleh Nazisme. Kelompok ini menargetkan sekolah-sekolah dengan jumlah warga minoritas etnik yang besar dengan cara membawa poster-poster berslogan "Jaga Australia agar Tetap Putih", sambil menggunakan kata-kata hinaan seperti "abo", "nigger", dan "chink". Menteri pendidikan Viktoria, James Merlino, menyatakan bahwa kata-kata itu "jahat dan menjijikkan".[7]
Kelompok ini menarik perhatian internasional ketika mereka membuat kampanye poster berbahasa Mandarin di univesritas-universitas, mengancam deportasi bagi mahasiswa asal Tiongkok.[8]
Sebelum Survei Pos Hukum Pernikahan Australia, kelompok ini mengirimkan propaganda homofobik kepada gereja-gereja, kampus-kampus, dan tempat-tempat umum, yang menyamakan pernikahan sesama jenis dengan pedofilia.[9]
Akun Twitter-nya dilarang pada 18 Desember 2017.[10]
Perlawanan Antipode juga mengeluarkan poster-poster besar dari atas jembatan di jalan tol, menyatakan "revolusi putih".
Di Canberra pada April 2018, dilaporkan bahwa ada beberapa poster kelompok ini di sekeliling kota.[11]