Peristiwa anoksik oseanik atau peristiwa anoksik (kondisi anoksia) merujuk kepada interval pada masa lalu Bumi dimana belahan-belahan samudra terisi dengan oksigen (O2) di kedalaman pada sebuah wilayah geografi besar. Pada beberapa peristiwa, perairan euksinia yang terdiri dari hidrogen sulfidaH2S, dikembangkan.[1] Meski peristiwa ini tidak terjadi selama jutaan tahun, catatan geologis menunjukkan bahwa peristiwa anoksik telah terjadi beberapa kali di masa lalu. Peristiwa anoksik bertepatan dengan beberapa kepunahan massal dan mungkin berkontribusi kepadanya.[2] Peristiwa kepunahan massal ini mencakup beberapa yang geobiolog gunakan sebagai penanda waktu dengan penanggalan biostratigrafi.[3] Di sisi lain, ada berbagai lapisan serpih hitam yang tersebar di seluruh dunia, yang berasal dari Kapur Tengah yang mengindikasikan adanya peristiwa anoksik tetapi tidak berhubungan dengan kepunahan massal.[4] Banyak geolog percaya bahwa peristiwa ini terhubung erat dengan melambatya sirkulasi laut, pemanasan iklim dan naiknya gas rumah kaca. Peneliti menyarankan volkanisme berkembang (terlepasnya CO2) sebagai "pemicu pusat eksternal dari euksinia"[5][6]
Kashiyama, Yuichiro; Nanako O. Ogawa; Junichiro Kuroda; Motoo Shiro; Shinya Nomoto; Ryuji Tada; Hiroshi Kitazato; Naohiko Ohkouchi (May 2008). "Diazotrophic cyanobacteria as the major photoautotrophs during mid-Cretaceous oceanic anoxic events: Nitrogen and carbon isotopic evidence from sedimentary porphyrin". Organic Geochemistry. 39 (5): 532–549. doi:10.1016/j.orggeochem.2007.11.010.
Kump, L.R.; Pavlov, A.; Arthur, M.A. (2005). "Massive release of hydrogen sulfide to the surface ocean and atmosphere during intervals of oceanic anoxia". Geology. 33 (5): 397–400. Bibcode:2005Geo....33..397K. doi:10.1130/G21295.1.
Demaison G.J. and Moore G.T., (1980),"Anoxic environments and oil source bed genesis". American Association of Petroleum Geologists (AAPG) Bulletin, Vol.54, 1179–1209.