Searah jarum jam dari kiri atas: pertama. Militer Amerika Serikat dalam baku tembak dengan Pasukan Taliban di Provinsi Kunar, kedua. F-16 Strike Amerika menjatuhkan JDAM seberat 1.000 pon di atas sebuah gua di Afghanistan timur, ketiga. Seorang Tentara Afganistan sedang melakukan survei di atas sebuah Humvee, keempat. Tentara Afghanistan dan Amerika bergerak menembus salju di Provinsi Logar; pejuang Taliban yang menang setelah mengamankan Kota Kabul, kelima. Seorang tentara Afganistan yang mengamati sebuah lembah di Provinsi Parwan, keenam, Pasukan NATO bersiap untuk menaiki Helikopter Chinook selama Operasi Black Prince.
Tanggal
7 Oktober 2001 – 30 Agustus 2021 (19 tahun, 10 bulan, 3 minggu, 2 hari)
2 Tentara Bayaran Asing: 3.917 Tewas Total: 52.824 Tewas
Warga Sipil: 46,000 Tewas Total: 147.824+ Tewas
Perang Amerika di Afganistan atau Perang Afganistan (2001-2021) dimulai setelah Serangan 11 September 2001, Amerika Serikat memulai kampanye Perang Melawan Terorisme mereka di Afganistan, dengan tujuan menggulingkan kekuasaan Rezim Taliban di Afganistan yang dituduh melindungi Pendiri Kelompok Milisi Al Qaeda, Osama bin Laden yang di tuduh menjadi dalang utama dalam peristiwa Serangan 11 September 2001 di Kota New York. Aliansi Utara Afganistan menyediakan mayoritas pasukan bersama Pasukan Sekutu (Amerika dan NATO), dengan pasukan yang banyak, persenjataan yang lengkap, dan di lengkapi dengan kendaraan tempur yang canggih, Aliansi Utara bersama Pasukan Sekutu dengan mudah menyerbu dan menduduki Kota Kabul lalu mengusir para pejabat Pemerintahan Rezim Taliban dari Ibukota Afganistan tersebut.[1][2][3][4]
Nama kode yang diberikan oleh Amerika Serikat untuk konflik ini adalah Operasi Kebebasan Abadi (Operation Enduring Freedom) (2001-2012) dan berubah nama menjadi Operation Freedom's Sentinel (2012-2021).
Nyatanya setelah kalah dan terusir dari Kota Kabul, para Gerilyawan Al Qaeda dan Taliban masih mampu untuk melakukan aksi teror terutama pengeboman terhadap fasilitas-fasilitas milik militer Sekutu, khususnya Amerika di Afganistan, sebaliknya pada sisi lain, Amerika, NATO, dan Aliansi Utara yang menguasai Pemerintahan Afganistan justru di hadapkan pada kegagalan demi kegagalan menghentikan aksi teror mereka di Afganistan, sekalipun Pemimpin pertama dan Pendiri Kelompok Al Qaeda, Osama bin Laden telah di bunuh pada tahun 2011. Hal ini terjadi karena pertama, para Gerilyawan Al Qaeda dan Taliban tidak menjadikan tokoh utama atau pimpinan mereka sebagai simbol sakral, kedua, pembauran mereka dengan masyarakat sipil Afganistan menjadikan mereka susah di ketahui bahkan di lacak indentitasnya. Beberapa hal inilah yang membuat pendudukan Pasukan Sekutu di Afganistan tidak bertahan lama, justru berujung dengan penaklukan kembali Ibukota Afganistan, Kabul oleh Rezim Taliban pada tanggal 15 Agustus 2021, beberapa hari sebelum penaklukan Kota Kabul, sebagian besar wilayah Afganistan berhasil di rebut dan di kendalikan oleh Kelompok Milisi Al Qaeda dan Taliban, serta banyaknya pejabat Afganistan yang kemudian mengungsi ke Qatar, setelah jatuhnya Ibukota Kabul dan di tariknya seluruh pasukan dan kendaraan tempur milik Amerika dan NATO, Rezim Taliban kembali berkuasa di Afganistan dengan menjadikan kembali sistem Syariat Islam sebagai landasan utama Ideologi, hukum dan politik Negara Afganistan. Sempat muncul kecurigaan dari Badan Intelejen Amerika Serikat, CIA dan NATO bahwa Pemerintah Rusia mulai tahun 2017 ikut membantu Kelompok Milisi Al Qaeda dan Taliban baik dalam segi finansial, persenjataan maupun amunisi dalam perlawanannya menentang pendudukan Pasukan Amerika dan NATO di Afganistan dengan bukti penemuan banyaknya persenjataan buatan Rusia di beberapa bunker dan bangunan persembunyian mereka yang berhasil di ketahui oleh pihak Sekutu. Namun hal ini di bantah dengan tegas oleh Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin dengan mengatakan bahwa tidak ada keuntungan bagi Rusia untuk mendanai dan membantu para Kelompok Milisi Islam memerangi Amerika dan NATO, yang di nilai Rusia, kelompok- kelompok Milisi Islam tersebut juga berbahaya bagi keamanan nasionalnya jangka panjang, mengenai masalah terdapat banyaknya senjata dan amunisi buatan Rusia, Pemerintah Rusia menyatakan bahwa bisa jadi para Kelompok Milisi tersebut membelinya dari pasar gelap atau negara lain yang memiliki persenjataan dan amunisi buatan negara 'Tirai Besi' tersebut.