Sejarah dan asal muasal[5]
Pada jaman dahulu kira-kira pada abad IX yaitu pada jaman pemerintahan Raja Jayapangus, berdirilah sebuah Kerajaan Gegelang, di samping permaisurinya sang raja mepunyai seorang selir. Alkisah dari seorang selir tersebut sang raja menurunkan putra laki-laki tertua sedangkan dari permaisuri sang raja menurunkan putra laki-laki yang lebih muda, betapa bahagianya sang raja saat itu sehingga putra-putra raja menginjak remaja. Melihat putra-putranya menginjak dewasa, maka tahta sang raja, (ayahnya) maksud sang raja tersebut sampai juga ke telinga rakyatnya Kerajaan Gegelang pada saat itu aman, tentram, dan sentosa, berdasarka hal tersebut maka kini timbullan keresahan-keresahan di masyarakat Gegelang, mengenai putranya yang mana berhak menggantikan tahta ayahnya mengingat putra raja pertama dari keturunan selir. Sedangkan putra raja yang kedua dari permaisuri, walaupun demikian adanya desas desus yang ada di masyarakat digegelang pada saat itu, maka sebagian masyarakat cenderung memilih putra raja dari permaisuri raja, desas desus rakyat Gegelang yang demikian juga ketelinga putra raja pertama merasa tersinggung, merasa disepelekan, merasa diremehkan sebagai putra raja pertama dan beranggapan putra raja pertamalah menggantikan kedudukan ayahnya, tanpa memperhatikan keturunan permaisuri atau keturunan selir, oleh karena itu putra pertama merasa dengki, irihati terhadap adiknya dari keturunan permaisuri. Putra raja pertama tetap beranggapan bahwa dialah yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Gegelang, untuk mewujudkan cita-citanya itu terlebih dahulu harus menyingklrkan penghalang yang ada, satu-satunya penghalang demi lancarnya cita-cita putra raja pertama adalah adiknya sendiri dari keturunan permaisuri.
Untuk itu putra raja pertama berencana membunuh adiknya secara rahasia sebelum dilangsungkan upacara adiknya sebagai putra mahkota, yang nantinya akan menggantikan kedudukan ayahnya, kemudian putra raja pertama memanggil mahapatih Kerajaan Gegelang untuk menyampaikan rencananya semula, sudah tentu hal ini disampaikan secara rahasia pula. Pada saat itu hubungan kakak dan adik sangatlah akrab seolah olah tidak ada niat jahat yang terkandung dihati salah satu putra raja, pada saat yang telah ditentukan melaksanakan niat jahatnya maka putra pertama mengajak adiknya berburu ketengah hutan dengan dikawal oleh mahapatih yang telah diajak bersekongkol dengan membawa peralatan berburu maka berangkatlah putra-putra raja tersebut ke hutan dengan dikawal mahapatih kerajaan.[5]
Sesampainya di tengah hutan, yang menurut perkiraan putra raja pertama rasanya aman untuk melaksanakan niat jahatnya, maka maha patih tersebut diperintahkan untuk membunuh adiknya. Pada saat itu hutan benar-benar dalam keadaan sunyi, senyap, kicauan burung hutan terhenti, binatang hutan enggan untuk bicara serta angin yang berembus terhenti sejenak, seakan terpaku menyaksikan kejadian pembunuhan putra raja Gegelang tersebut, setelah adiknya diperkirakan mati, maka mayat adiknya diseret ditaruh di samping sebuah kayu yang dalam kehadaan lapuk, seolah olah mati tertimbun atau tertimpa oleh pohon kayu serta ditimbuni oleh daun-daunan sehingga tidak kelihatan, dengan perasaan puas bahwa cita-citanya hampir tewujud, maka putra raja pertama beserta mahapatihnya pulang sarat dengan menjaga agar kejadian itu tetap dirahasiakan.
Alkisah pada suatu hari ada seorang pemburu yang kemalaman di jalan dengan menunggangi kuda sang pemburu menelusuri jalan yang sangat gelap dengan penuh semak-semak, pada sebuah tempat kudanya tidak mau berjalan lagi dan kebetulan pula pemburu itu sangat lelah dengan demikian sang pemburu memutuskan untuk bermalam ditengah hutan, baru saja dia merebahkan badannya dia sudah tertidur pulas pada saat menjelang subuh sang pemburu mendengarkan samba dari dewa penguhasa jadat raya dalam temaran malam berbunyi: ”Hai pemburu dengarkan baik-baik sabdaku ini, di mana rajamu sedang dalam keadaan bingung karena kehilangan seorang putranya yang terkasih. Hilangnya putra sang raja itu disebabkan antara lain karena mati dibunuh disebuah hutan, kejadian tersebut dapak diketahui dari kata-kata ini yaitu: ”Pa-Ra-La-Ga” kata kata tersebut mempunyai arti sebagai berikut Pa artinya Putra Ida, Ra artinya Rakan Ida, La artinya Langlang duta, Ga artinya Gegelang. Dari kata Pa, Ra, La, Ga dapat disimpulkan pengertian sebagai berikut: Puta sang raja dari permaisuri itu mati terbunuh, yang dibunuh dari kakaknya sendiri dari istri selir sang raja.
Sedangkan sebagai pelakunya adalah seorang mahapatihnya yang bernama Langlang Duta, dan tempat pembunuhan itu terjadi di hutan Gegelang alas Gegelang (bahasa Bali), hanya sekian sabdaku segeralah pulang laporkan pada raja, begitu sabda itu melenyap maka sang pemburupun bangun dari tidurnya dan terus bangkit ia pun mendapatkan kudanya ia sendiri telah menunggunya dan haripun menjelang padi, teringat sabda yang didengarnya tadi malam maka dengan tanpa pikir panjang lagi iapun menghadap raja Gegelang, setibanya sang prabu di Kerajaan Gegelang. Alkisah pada saat itu sedang ada paseban agung/paruman agung yang dihadiri oleh delapan para patih, para penggawa dan lain-lainnya membicarakan perihal hilangnya putra mahkota, dengan terbata sang pemburu menghadap dan menceritakan tentang sabda yang didengarnya tadi malam d itengah hutan, serta mengejar sabda itu: Pa-Ra-La-Ga yang mengandung makna hilangnya putra mahkota karena dibunuh oleh kakak tirinya yang dilakukan oleh Patih Langlang Duta di tengah hutan Gegelang. Setelah selesai menceritakan sabda tersebut sang pemburu pun mohon izin untuk pamit, mendengar kisah sang pemburu yang demikian maka sang raja Gegelang langsung memerintahkan para maha patih penggawa serta diikuti oleh para rakyatnya menyebar ketengah hutan untuk menemukan jasad sang putra mahkota hal ini yang mencari melibatkan segenap kerabat kerajaan membuahkan hasil.[5]
Jasad putra mahkota ditemukan dalan keadaan tertimbun semak belukar di samping sebuat pohon runtuh yang telah rapuh, jasad sang putra mahkota dibawa kekeraton dan raja Gegelang pun murka dan kemurkaan itu raja Gegelang sakit-sakitan dan meninggal, sejak itulah Kerajaan Gegelang mengelami kehancurah dan hilang.
Berdasarkan hal tersebut lama kelamaan dikalangan masyarakat sering membicarakan kata- kata PARALAGA, dari mulut kemulut kata PARALAGA itu menjad PALAGA dan selanjutnya kata PALAGA pun berubah menjadi PELAGA, yang hingga pada saat ini wilayah Kerajaan Gegelang menjadi wilaya Pelaga, jika dihubungkan dengan wilayah Pelaga sekarang, maka nama Gegelang pada saat ini masih dikenal oleh masyarakat, hal ini menandakan bahwa dulu Pura Puncak Gegelang tersebut merupakan sebuah pusat Kerajaan Gegelang hal ini dapat dilihat dari pelinggih-pelinggih yang ada di Pura Puncak Gegelang sebagai berikut.
Jaba Tengah: terdapat pelinggih pesimpangan ratu sakti sebagai Tameng-Dada sesuunan di pura puincak gegelang (Maha Patih Lalang Duta). Di Jeroan terdapat 2 pelinggih yaitu:
- Saren Kangin dengan satu pelinggih sebuah meru tumpang tujuh
- Saren Kaleran dengan sebuah pelinggih meru tumpang tiga
- Peninggalan tertulis dari puncak gegelang masih disimpan di Banjar Pangsan dan Negara dalan kehadaan yang sudah rapuh (rusak).
- Berdasarkan dengan desa administratif Desa Pelaga yang sekarang ini merupakan gabungan dari 2 desa yaitu Desa Pelaga dengan Perbekelnya I Dewa Made Rai (alm) dan Desa Tiyingan dengan Perbekelnya Nang Kates (alm).
- Masing-masing desa ini ditunjang oleh 4 dusun/banjar yang mana keadaannya berlangsung tahun 1937, dan pada tahun 1957 dua desa tersebut digabung menjadi 1 desa administrative, yaitu Desa Pelaga dan sekarang ditunjang oleh delapan banjar dinas, delapan banjar adat dan delapan desa adat dan pada tahun 2007 banjar dinas auman mekar menjadi 1 banjar dinas persiapan serta ditetapkan devinitif banjar yaitu Banjar Dinas Munduk Tiying.
Adapun nama-nama banjar dinas tersebut: (1) Banjar Dinas Pelaga; (2) Banjar Dinas Bukian; (3) Banjar Dinas Kiadan; (4) Banjar Dinas Nungnung; (5) Banjar Dinas Bukit Munduk Tiying; (6) Banjar Dinas Auman; (7) Banjar Dinas Tiyingan; (8) Banjar Dinas Semanik; dan (9) Banjar Dinas Tinggan (Profil Desa Pelaga, 2021: 6-9).[5]
Jayapangus atau Jaya Pangus (memerintah tahun 1178–1181 M) adalah Raja Bali dari dinasti Warmadewa. Dia dikenal melalui prasasti-prasastinya, beberapa di antaranya berkaitan dengan pajak. Jayapangus adalah keturunan penguasa terkenal Airlangga. Raja Jayapangus yang memerintah cukup lama merupakan raja besar yang sangat menonjol di antara raja-raja pada masa Bali Kuno. Ia mengeluarkan 43 prasasti dalam waktu tiga tahun. Prasasti tertua adalah prasasti Mantring A yang berangka tahun 1099 Saka (1178M) selebihnya berangka tahun 1103 Saka (1181 M). Jayapangus dikenal sebagai penyelamat negara karena mengajak rakyatnya kembali melakukan upacara agama sehingga mendapat wahyu (dikenal sebagai Hari Galungan). Saat masa pemerintahannya keamanan Bali terjamin dan ajaran agama Hindu berkembang dengan pesat. Raja Jayapangus bertahta hingga tahun Çaka 1103 (1181 Masehi). Jayapangus mungkin merupakan ayah dari Ratu Arjjaya Dengjaya Ketana.
Raja Jayapangus yang bergelar Pāduka Śri Māhāraja Aji Jayapangus Arkaja Cihna/Lañcana adalah seorang raja penguasa Bali Kuno yang menjadi simbol keharmonisan etnik dan asimilasi kebudayaan seperti halnya Bali dan Tionghoa pada saat itu sehingga aman dan tentramlah Bali pada zamannya.
Dalam pengaruh kebudayaan Tionghoa pada Bali Kuno, cerita-cerita yang menarik dari rakyat Tionghoa-pun menyebar di Bali, misalnya kisah Sampik – Ing Tay. Ilmu silat dari Tiongkok juga berkembang di Bali Kuno dalam bentuk pencak, dan dalam bentuk tarian masal misalnya seperti baris dapdap, baris demung, baris presi, baris tumbak, baris tamiang, dan lain- lain. Menyadari akan tugas seorang raja sangat berat, untuk mengontrol jalannya pemerintahan, maka Raja Jayapangus menggunakan beberapa kitab hukum Hindu sebagai pedoman pelaksanaan pemerintahan, yang dipatuhi oleh segenap pelaksana atau pejabat pemerintahan. Kitab hukum yang sering disebut-sebut dalam prasasti antara lain kitab hukum Manawakamandaka, Manawakamandaka Dharmasastra, dan Manawaśasanadharma.
Di samping itu, diterapkan pula ajaran-ajaran tentang Dasaśila, sepuluh jenis tingkah laku yang baik dan harus dilaksanakan oleh pejabat Negara dan Pancaśiksa, keterampilan untuk melengkapi diri dalam melaksanakan tugasnya. Semenjak menjadi penguasa Bali pada saat itu, Beliau berkeraton di Puri Balingkang Kintamani pada tahun 1133 - 1173 yang dalam kisah Barong Landung diceritakan. Raja Jaya Pangus disebutkan punya dua permaisuri, Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna (Cina)
Cerita rakyat yang berkembang menyebutkan bahwa istrinya tersebut bernama Kang Cing We, putri Tuan Subandar pedagang dari Tiongkok. Diceritakan Raja Jayapangus jatuh hati pada Kang Cing We, sehingga mereka memadu kasih di Bali. Namun, setelah menjalani pernikahan, mereka tidak dikaruniai anak. Raja Jayapangus pun berinisiatif untuk bersemedi di Gunung Batur agar mendapatkan anugerah anak.
Setelah Raja Jayapangus bersemedi di Alas Batur bertemulah ia dengan Dewi Danu. Terjadilah padu kasih di antara mereka, hingga akhirnya menikah. Karena lama di Alas Batur, akhirnya disusullah Raja Jayapangus oleh Kang Cing We ke Gunung Batur. Ketika menyusul suaminya yang tidak kunjung pulang, Cing We merasa terpukul mengetahui Jayapangus menikahi Dewi Danu. Cing We dan Dewi Danu pun bertengkar. Batari Batur, ibu Dewi Danu yang melihat pertengkaran itu akhirnya memusnahkan Jayapangus dan Kang Cing We.[5]