Penyeranta di Indonesia
Pager menjadi alat yang sangat populer di Indonesia pada tahun 1990an, walaupun sebenarnya sistem ini sudah beroperasi sejak tahun 1976. Operasional pager pertama kali diperkenalkan oleh PT Motorollain Corporation (dikenal dengan merek dagang Starko). Dari awalnya hanya 24.000 saja pada 1992, kemudian pada 1997 menjadi 800.000 pelanggan. Jumlah operator yang beroperasi juga meningkat, dari hanya 3 pada 1992 menjadi 75 pada 1996. Namun, seiring dengan krisis ekonomi 1997-1998 yang menerjang Indonesia dan makin populernya telepon seluler, pengguna sistem ini menurun dan banyak operatornya yang bertumbangan atau diakuisisi.[1]
Pada 1996, operator pager ada sebanyak 75 buah di seluruh wilayah Indonesia (dan selanjutnya pada 1997 menjadi 90), namun hanya ada 10 yang diberikan izin untuk beroperasi secara nasional. Beberapa operator pager yang cukup terkenal di Indonesia pada masanya, yaitu:
- Starko (PT Motorollain Corporation)
PT Motorollain dikenal sebagai pionir dari sistem penyeranta di Indonesia, dan dengan perusahaan inilah sistem ini pertama kali muncul dengan merek Starko. PT Motorollain didirikan pada tahun 1976, dengan sahamnya dimiliki oleh Robby Sumampow (25%), Agus Didagdo (30%), Endang Lestari Pudjiastuti (25%) dan Agus Jartono (20%). Awalnya, PT Motorollain hanya beroperasi di Jakarta saja secara lokal, tetapi seiring waktu pemerintah memberikan izin untuk meluaskan wilayah operasinya secara nasional, mencakup 18 kota yaitu Jakarta, Medan, Batam, Palembang, Lampung, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Manado, dan Ujung Pandang. Selain menjadi operator penyeranta, PT Motorollain juga menjadi agen tunggal dari perangkat penyeranta merek Motorola yang cukup populer di Indonesia. Operasi dari Starko awalnya cukup terbatas karena hanya populer di kalangan tenaga medis, dan baru pada 1992 perusahaan ini mendapatkan keuntungan. Namun, memasuki pertengahan 1990-an operasional Starko terus meningkat, mencapai 115.000 pengguna sehingga menjadikannya pemimpin pasar.[1][2][3] Fasilitas yang ditawarkan oleh Starko, seperti layanan berita, adanya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, informasi harga valuta asing dan harga emas dan fitur-fitur lainnya.[4] Layaknya perjalanan penyeranta di Indonesia, pengguna Starko semakin menyusut sejak 2000-an di mana pada 2007 hanya mencapai ratusan orang. Kebanyakan penggunanya saat itu adalah korporasi.
- Starpage (PT Duta Pertiwi Sentosa)
Operator penyeranta kedua di Indonesia ini didirikan pada pertengahan 1985,[6] dan dimiliki oleh Karna Brata Lesmana (40%), David Salim (50%) dan Liem Sin Tung (10%). Layaknya operator lain, baru pada 1990-an PT Duta dengan merek dagangnya Starpage berhasil meraih pelanggan dan meluaskan operasionalnya. Dalam masa kejayaan pager, PT Duta bisa meraih 150 pelanggan baru/bulan, memiliki 65.000 pelanggan dan memiliki operasional di beberapa kota besar Indonesia seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Denpasar, Batam, Lampung, Cirebon, Ujung Pandang, Jakarta dan Bogor. Pemilik Starpage awalnya cukup optimis dengan perkembangan usahanya, misalnya dengan berusaha menjalin investasi strategis dengan menjual 30% sahamnya ke Motorola, menjadi importir penyeranta Motorola dan Philips dan mengakuisisi operator lain yaitu SkyTel (2001), Personal dan Indolink (1996). Walaupun demikian, seiring dengan krisis ekonomi dan popularitas HP, pengguna jasa PT Duta semakin melorot dari 80.000 (1997) menjadi 16.000 (2001), serta pendapatannya menurun dari Rp 2 M (1997) menjadi Rp 500 juta (2001). Untuk mengatasi hal ini, pihak Starpage terpaksa melakukan PHK karyawannya pada 2001. Meskipun demikian, pada 2007 tercatat Starpage masih beroperasi dan manajemen masih optimis merindukan kebangkitan sistem ini.[1][7]
- Indolink (PT Indolink First Pacific)
Operator ini didirikan pada Juli 1994, dan dimiliki secara patungan oleh Primkopparpostel dan First Pacific (yang terafiliasi dengan Grup Salim) sebesar 20%-80%.[8][9] Jaringan penyerantanya diluncurkan pada Agustus 1994, dengan menggunakan teknologi baru Flex-TM dari Motorola dan investasi US$ 7 juta. Pada 1996, Indolink mencatat 40.000 pengguna layanannya, dengan pasar utamanya berada di Pulau Jawa (seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung) ditambah kota Samarinda.[10] Di tahun yang sama, Indolink diakuisisi oleh pengelola Starpage, PT Duta Pertiwi Santosa.[1][11] Walaupun demikian, seiring waktu, pengguna Indolink pun makin menyusut.
- SkyTel (PT Skytelindo Services)
Operator penyeranta ketiga ini merupakan perusahaan pertama yang berbentuk perusahaan patungan dengan perusahaan asing. Dimiliki secara patungan oleh Kedaung Group (lewat PT Infokom Primanusa) sebesar 51%, Singapore Telecom 30% dan Mobile Telecommunication International AS 19%, sistem penyeranta mereka yang diberi nama SkyTel diluncurkan pada 28 Juli 1993. Modal yang disiapkan adalah US$ 8,1 juta, dan pada 1997 sudah berada di posisi kedua dengan 86.000 pelanggan serta beroperasi di banyak kota besar di Jawa ditambah Batam dan Medan.[1][12] Di tahun 1996, SkyTel sempat menganggarkan investasi senilai US$ 33 juta untuk membangun jaringan di beberapa kota. Pada 2001, akhirnya SkyTel diakuisisi oleh pemilik Starpage, PT Duta Pertiwi Sentosa.[13] Layanan yang diberikan SkyTel seperti informasi dari sejumlah surat kabar yang dikirim dengan penyeranta, layanan mengirim pesan ke 6 kota di Indonesia secara gratis bernama SkyZone, dan layanan VSAT yang membuat pemakainnya bisa mengirim pesan dari luar negeri dengan gratis.[14]
- EasyCall (PT Telematrixindo)
Operator ini merupakan yang pertama mendapatkan lisensi beroperasi nasional.[15] Didirikan pada April 1992 dengan modal US$ 6 juta (Rp 1,2 M), merek EasyCall diluncurkan di Indonesia pada akhir 1993. Nama EasyCall bukan berasal dari Indonesia, melainkan awalnya dikenalkan pertama kali di Filipina pada 1988, dan selanjutnya di beberapa negara seperti Polandia, Malaysia dan Finlandia. Mayoritas saham perusahaan ini dimiliki oleh Telstra Australia, lewat PT Finasindo Griyartha sebesar 75%, berpatungan dengan Koppostel.[16][17][18] Pada 1997, tercatat perusahaan ini memiliki 55.000 pelanggan, menjadikannya operator terbesar keempat.[1]
- NusaPage (PT Persada Komindo)
Didirikan pada 1993, NusaPage beroperasi pada 1997 di Jabodetabek, Bandung dan Surabaya, dan mencatat 24.000 pelanggan.[1] Pihak NusaPage menawarkan teknologi baru yang bernama "Flex" yang diklaim membuat baterai awet serta pesan lebih baik; dan awalnya menargetkan 300.000 pengguna. Biaya yang dianggarkan oleh manajemen dalam teknologi ini adalah US$ 3,75 juta.[19][20] NusaPage juga menjalin kerjasama dengan Garuda Indonesia sebagai penyelenggara sistem pager-nya.[21] Di tahun 1997, perusahaan ini mengambilalih perusahaan saudaranya, yaitu NusaLink.
- Telepage (PT Buana Bintang Bayu)
Didirikan dan mulai beroperasi pada 1995, awalnya perusahaan ini menargetkan pengguna 3.000 orang. Di tahun 1997, operator ini mencatat 14.000 pengguna dan operasionalnya ada di Jogjakarta, Jabodetabek, Medan, Bandung, Surabaya, Semarang dan Malang.[22] Sebagian saham perusahaan ini dimiliki oleh operator telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkom dan perusahaan Rajawali Corporation, Telekomindo Primabhakti.[1][23][24]
- Metrotel (PT Selarasindo Mulia)
Diluncurkan pada 1996, pada 1997 penggunanya tercatat sekitar 12.000, dan sudah beroperasi di beberapa kota besar di Pulau Jawa ditambah Dumai dan Pekanbaru. Di awal beroperasinya, perusahaan ini menjalin kerjasama dengan Bitnet Komunikasindo (perusahaan milik Elang Mahkota Teknologi), yang memungkinkan pengguna internet langsung mengirim pesan mereka menggunakan pager Metrotel tanpa bantuan operator, ditambah dengan fitur cek email otomatis yang membuat pengguna Metrotel tidak harus membuka komputer mereka beberapa kali. Fitur lain yang ditawarkan adalah "Cellular Link" yang membuat SMS dapat diterima di pager Metrotel. Metrotel menargetkan mereka akan menasional pada 1999.[25] Perusahaan yang dimiliki oleh Centralindo Panca Sakti ini berhenti beroperasi pada 2002.[26]
- Personal (PT Hutchison Sewu)
Perusahaan ini didirikan pada awal 1996, sebagai patungan antara konglomerasi agrobisnis Gunung Sewu (42,5%) dan raksasa telekomunikasi Hong Kong, Hutchison Telecommunications (57,5%) yang pada saat itu merupakan operator pager terbesar di sana. Modal yang digelontorkan adalah US$ 8,6 juta.[27] Target awal pasarnya adalah Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan target pelanggan 20.000 pada akhir 1996.[28] Produknya dikenal dengan nama Personal. Di tahun 1997, penggunanya adalah 10.800 orang dan beroperasi di Jabodetabek, Bandung, Jember dan Surabaya. Selanjutnya, perusahaan ini kemudian beralih tangan ke pemilik Starpage, PT Duta Pertiwi Sentosa. Penggunanya bersama dengan Starpage dan Indolink pada 2001 tercatat sebesar 16.000.[11]
- Multipage (PT Raya Pertiwi Semesta)
Operasi perusahaan ini hanya terbatas di Jabodetabek saja. Didirikan pada 1993, perusahaaan ini dimiliki oleh Grup Lyman (milik pengusaha Susanta Lyman). Pada tahun 1997, perusahaan ini menjalin kerjasama dengan MBf Multifinance dan PT Investindo Nusa Permata dalam menyediakan kartu kredit bagi para penggunanya yang ditargetkan sebesar 8.000. Pada 1998 penggunanya sudah mencapai 55.000.[1]
Selain operator-operator tersebut, masih ada sebenarnya yang cukup banyak berdiri di Indonesia dan beroperasi secara lokal, misalnya PT Deli Mitra Kencana di Deli Serdang, PT Delima Prasta Utama di Manado, PT Eka Buana Nusantara di Semarang, dan PT Bumi Pertiwi Royalpage di Sorong. Namun kemudian seiring menurunnya jasa pager, maka jumlah perusahaan pager semakin menurun. Pada 2000-an awal, praktis hanya pemain besar seperti Starko dan Starpage yang bisa bertahan.[1]