Sejarah tentang kedatangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara bersumber dari catatan para pengelana yang telah mengunjungi wilayah nusantara pada abad ke-8 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas pernyataan pengelana China
Bukti masuknya Islam ke Nusantara
Bukti awal mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marco Polo. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatra, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlak yang dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam 692 H (1292 M). Menurut Marcopolo, penduduk perlak ketika itu di Islamkan oleh pedagang yang dia sebut kaum Saracen Hal ini diperkuat oleh catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345 megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.
Golongan lain berpendapat bahwa Islam sebenarnya sudah masuk ke Nusantara sejak -tsing]] yang berkunjung ke Kerajaan Sriwijaya pada tahun 671. Dia menyatakan bahwa pada waktu itu lalu-lintas laut antara Arab, Persia, India, dan Sriwijaya sangat ramai.
Bukti kelima menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatra.
Sejarah Awal masuknya Islam menurut para Ahli
Wan Husein Azmi mengemukakan dalam makalahnya, ada tiga teori tentang kedatangan islam ke wilayah melayu, yaitu:[1]
Pertama Teori Arab yaitu datangnya Islam ke Melayu secara langsung dari Arab, karena muslim wilayah melayu berperang pada madzhab Syafi'i yang lahir di Semenanjung tanah Arab. Teori ini di sokong oleh Sir Jhon Crawford
Kedua Teori India, yakni bahwa Islam datang dari India. Teori ini lahir selepas tahun 1883, di bawa oleh C. Snouch Hurgronye. pendukung teori ini, di antaranya adalah Dr. Gonda, Van Ronkel, Marrison, R.A. Kern, dan C.A.O Van Nieuwinhuize.
Ketiga Teori Cina, yakni bahwa islam datang ke wilayah nusantara dari Cina. Teori ini dikemukakan oleh Emanuel Godinho de Eradie, seorang scientist Spanyol.
Menurut Muhammad samsu, terdapat tiga gelombang periodesasi masuknya pendakwah Islam ke Indonesia, yaitu:[1]
Gelombang pertama, yaitu diperkirakan pada akhir abad ke-1 H./ abad ke-7 M. Rombongan ini berasal dari Bashrah, kota pelabuhan di Irak, yakni ketika kaum Syi'ah dikejar-kejar oleh bani Ummayah yang berkuasa saat itu. Mereka adalah kelompok yang dipimpin oleh Makhada Khalifah.
Gelombang kedua, yaitu diperkirakan pada abad ke-6 H./ abad ke-13 M., dibawah Sayyid Jamaluddin Al-Akbar al-Husaini yang anak-cucunya lebih dari 17 orang tiba di Gresik, pulau Jawa. Pendakwah lainnya, seperti Maulana Malik Ibrahim, Maulana Malik Ishak, Raden Rahmat atau Sunan Ampel, dan sebagainya.
Gelombang ketiga, yaitu diperkirakan pada abad ke-9 H./ abad ke-16 M., yang dipimpin oleh ulama Arab dan Tarim, hadramaut. Mereka berjumlah lebih dari 45 orang dan datang berkelompok berkisar 2, 3, atau 5 orang. mereka mengajar dan menetap di Aceh, Riau, Sadang, Kalimantan Barat dan Selatan, Sulawesi Tengah dan Utara, Ternate, Bali, Sumba, Timor, dan lain-lain.
Penyebaran Islam di Nusantara
Penyebar Agama Islam menurut teori Gujarat, salah seorang pendukung teori ini adalah Muhammad Fakir. Hal ini dapat dibuktikan, di mana teori ini mendasarkan argumentasi bahwa pada pengamatan terhadap bentuk relief nisan Sultan Malik Al Saleh yang memiliki kesamaan dengan nisan-nisan yang terdapat di Gujarat.
Penyebar Agama Islam menurut teori Makkah, salah seorang pendukung teori ini adalah Sjech Ismail dari Makiyah. Hal ini dapat dibuktikan, bahwa kelompok penduduk Nusantara pertama yang Islam adalah menganut mazhab Syafi'i. Mazhab Syafi'i merupakan mazhab istimewa di Makiyah.
Penyebar Agama Islam menurut teori Persia, salah seorang pendukung teori ini adalah P.A. Hoessein Djajaningrat. Ha; ini dapat dibuktikan, bahwa ada beberapa kesamaan budaya yang hidup di kalangan masyarakat Nusantara dengan bangsa Persia dengan adanya peringatan Asyura di kalangan masyarakat, dan hal ini merupakan suatu kebiasaan bagi kaum Syi'ah.
Penyebar Agama Islam menurut teori para Sejarawan, salah satu penyebarnya adalah Wali Songo yang ada di Demak
Pesatnya Perkembangan Islam di Nusantara
Alasan yang menyebabkan penduduk nusantara banyak yang beragama Islam antara lain:
Pernikahan antara para pedagang dengan bangsawan. Contoh: Raja Brawijaya menikah dengan Putri Jeumpa yang menurunkan Raden Patah.