Penyakit ketinggian atau dikenal juga dengan altitude sickness merupakan kondisi medis yang disebabkan oleh paparan cepat terhadap ketinggian, di mana kadar oksigen di udara menjadi lebih rendah. Kondisi ini terjadi ketika tubuh belum sempat beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki tekanan udara dan kadar oksigen yang lebih rendah dibandingkan permukaan laut.[1][2] Gejala yang muncul dapat berupa sakit kepala, mual, kelelahan, pusing, kesulitan tidur, dan kebingungan.[3]
Penyakit gunung dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih berat, yaitu edema paru akibat ketinggian (high-altitude pulmonary edema atau HAPE) dan edema otak akibat ketinggian (high-altitude cerebral edema atau HACE). HAPE ditandai dengan penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas dan batuk, sedangkan HACE melibatkan pembengkakan otak yang dapat menyebabkan disorientasi, gangguan koordinasi, dan, pada kasus berat, kehilangan kesadaran.[1]
Penyakit ini umumnya muncul pada ketinggian di atas 2.500 meter, meskipun pada beberapa orang, gejala dapat timbul pada ketinggian yang lebih rendah.[4] Gejala biasanya berkembang dalam beberapa jam hingga satu hari setelah naik ke ketinggian tertentu. Tingkat keparahan dapat bervariasi tergantung pada kecepatan kenaikan, ketinggian yang dicapai, dan respons individu terhadap ketinggian.[5]