Pengin Hijrah adalah film drama Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Jastis Arimba berdasarkan skenario yang ditulisnya bersama dengan Benni Setiawan dan Endik Koeswoyo. Film ini dibintangi oleh Steffi Zamora, Endy Arfian, Daffa Wardhana, Sita Permata Sari, Karina Suwandi dan Nadzira Shafa. Ceritanya berfokus pada seorang influencer yang suatu hari foto-fotonya membuatnya hidupnya berubah.
Film ini dirilis di bioskop pada 30 Oktober 2025 dan tayang di Netflix pada 5 April 2025.[1][2]
Plot
Alina, seorang influencer populer asal Belitung yang kehidupannya tampak sempurna di media sosial. Namun, di balik citra tersebut, ia memikul beban berat: keluarganya terlilit utang besar akibat kebiasaan judi ayah tirinya, Salman. Demi melunasi utang tersebut, Alina menerima pekerjaan sebagai model iklan dengan pakaian yang sedikit terbuka di sebuah pantai di kampung halamannya.
Masalah memuncak saat Alina kembali berkuliah di Jakarta. Ia mendapati foto-foto pemotretan tersebut diunggah ke Instagram tanpa sepengetahuannya. Hal tersebut tidak hanya memicu gunjingan di kampus, tetapi juga membuat pihak universitas mencabut beasiswanya. Alina kemudian mengetahui bahwa pelakunya adalah kekasihnya sendiri, Joe, dan ia segera mengakhiri hubungan mereka. Tak berhenti di situ, Alina harus menghadapi tuntutan hukum dari kliennya serta kejaran dua penagih utang yang menuntut pelunasan utang ayah tirinya. Dalam titik terendah, ia mencoba menemukan ketenangan dengan mengikuti sahabatnya, Ulfa, untuk beribadah di masjid. Namun, ceramah ustad mengenai azab bagi orang yang berpakaian terbuka justru membuat Alina merasa terhina dan menyadari bahwa dirinya tidak layak berada di sana. Di tengah kegundahan atas apa yang sedang terjadi, Alina kerap bertemu dengan Omar, seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Suatu hari, saat Omar mengantar Alina pulang, para penagih utang kembali menghalangi mereka. Demi melindungi Alina, Omar secara spontan mengaku sebagai calon suaminya dan menyerahkan sepeda motornya sebagai jaminan.
Setelah sempat kehilangan kontak, Alina mendengar kabar bahwa Ulfa menderita penyakit berat. Saat Alina menjenguknya di rumah sakit, Ulfa mengembuskan napas terakhir setelah berpesan agar Alina tidak meninggalkan salat. Tak lama kemudian, Alina diundang oleh Aisyah—wanita yang selalu dianggap Alina sebagai kekasih Omar. Ternyata, Aisyah adalah pemilik butik sukses yang menawarkan kontrak sebagai duta merek untuk mendukung ekspansi bisnis ke mancanegara. Di masa-masa itu, Omar secara misterius menghilang dari kehidupan Alina. Meski kondisi ekonomi Alina membaik, ibunya menolak kiriman uang darinya karena sang ayah tiri telah berubah setelah sering bertemu seorang ustaz. Ayahnya kini telah membuka usaha kedai kopi sendiri.
Suatu ketika, Aisyah meminta Alina menggantikannya pergi ke Uzbekistan untuk melakukan presentasi bisnis. Setibanya di sana, Alina terkejut karena Omar-lah yang menjemputnya. Setelah menghabiskan waktu bersama, Omar akhirnya menjelaskan alasannya menghilang. Omar mengungkap bahwa ia merupakan keturunan Indonesia-Uzbekistan dan kepulangannya berkaitan dengan sang nenek yang mencoba menjodohkannya. Omar menolak perjodohan tersebut karena ia mencintai Alina. Meski memiliki perasaan yang sama, Alina memilih tidak memberikan jawaban pasti. Situasi makin rumit ketika nenek Omar meminta Alina menjauhi cucunya dengan imbalan sejumlah uang. Alina menolak uang tersebut dan menegaskan bahwa hubungannya dengan Omar hanyalah sebatas teman. Enggan merusak keharmonisan keluarga Omar, Alina mulai menghindar dan tidak mau menerima telepon dari Omar. Namun, Omar berhasil menemuinya di Imam Bukhari International Scientific Research Center dan mengajaknya untuk kawin lari di Indonesia. Alina menolak dengan tegas karena tidak ingin merusak hubungan Omar dengan neneknya. Dalam kesedihan yang memuncak, Alina berdoa kepada Allah dan ikhlas untuk menerima apapun yang terjadi serta mendoakan Omar bahagia bersama wanita lain. Kondisi nenek Omar memburuk, sehingga Omar yang tidak ingin membuat neneknya kecewa akhirnya mau menuruti segala keinginan neneknya. Namun, pada hari kepulangannya ke Indonesia, Alina dikagetkan dengan kemunculan sopir keluarga Omar yang memintanya untuk menemui nenek Omar. Di sana, sang nenek Omar menunjukkan bahwa dia telah merestui hubungan Alina dan Omar dengan meminta Alina untuk tinggal lebih lama. Di tepi sungai Chirchiq, Alina mengembalikan kunci motor milik Omar dan berkata bahwa rezeki tidak akan pernah ke mana. Omar kembali melamar Alina dan mengungkapkan cintanya, sambil disaksikan dari kejauhan oleh nenek dan orang tua Omar.