Secara historis, pacuan kuda telah mengakar dalam budaya masyarakat Minahasa sejak masa kolonial Belanda, khususnya di Tompaso.[1] Hal ini dapat dilihat dari tingginya populasi kuda di Kecamatan Tompaso Barat, Minahasa[2] dan juga budaya masyarakat Tompaso yang erat kaitannya dengan balap kuda.
Pada awalnya, kondisi lintasan tidak berbentuk oval, melainkan berupa lurusan (straight) dengan tanah sebagai treknya. Seiring berjalannya waktu, akhirnya bentuk lintasan berubah menjadi oval. Pada masa pemerintahan Hein Victor Worang sebagai Gubernur Sulawesi Utara, dilakukan pembukaan/peresmian arena pacuan kuda di berbagai tempat di Sulawesi Utara, seperti di Airmadidi, Manado, Tountimomor, termasuk di Tompaso. Jarak lintasan pada masa ini masih tergolong pendek, yakni pada kisaran 600–800m. Gelanggang ini menjadi tuan rumah ajang pacuan kuda lokal yang dihadiri oleh kuda-kuda dari berbagai daerah lain di Sulut.[1]
Pada tahun 1980-an, gelanggang pacuan ini digabungkan ke dalam salah satu bagian dari proyek wisata Bupati Minahasa pada saat itu, Alex Lelengboto, yang dikenal dengan nama Malesung Boulevard.[3] Pada masa pemerintahan Alex Lelengboto juga, tepatnya pada tahun 1984, dilakukan perluasan lahan gelanggang pacuan, dengan panjang lintasan sekarang 1600 meter.[1] Satu hektar lahan di sebelah barat pacuan juga dibeli sebagai pilot project perkawinan kuda.[4]
Arena Pacuan Kuda Tompaso menjadi tuan rumah berbagai ajang perlombaan bergengsi baik di tingkat daerah maupun nasional. Arena ini menjadi tuan rumah Kejurnas Seri 2 pada tahun 1997,[5] di mana kontingen Sulawesi Utara akhirnya memenangkan Piala Soeharto ketiga kali berturut-turut[6], 2007, 2014,[7] dan 2018.[8] Arena ini juga menjadi tempat terselenggaranya kegiatan umum lainnya di luar kegiatan pacuan kuda.[9][10]
Fasilitas
Pacuan Kuda Maesa Tompaso memiliki luas sekitar 24 hektar.[11] Lintasan tersusun atas campuran tanah dan pasir dengan panjang 1.600 meter dan lebar 18 meter.[12] Terdapat fasilitas untuk tribun penonton VIP dan non-VIP, mounting yard, pedok dan kandang untuk merawat kuda. Lintasan ini mempunyai dua perpanjangan di sebelah barat, yakni pada jarak 1.400 meter dan 2.000 meter. Gunung Soputan terletak di sebelah barat daya arena pacuan kuda. Di tengah lapangan, terdapat struktur berupa sebagai "Watu Tumotowa" dan waruga yang merupakan warisan budaya Minahasa dari zaman dahulu.[13]
Arena pacuan ini telah mengalami renovasi berkali-kali. Pada tahun 2014, dilakukan renovasi besar-besaran gelanggang pacuan kuda sebagai bentuk persiapan penyelenggaraan ajang Kejurnas Seri 2 pada bulan Oktober. Renovasi ini didanai dengan anggaran sekitar 1 miliar rupiah oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Sulut.[14] Renovasi juga dilakukan pada tahun 2025.