Ponbid adalah seorang pemerhati sosial budaya politik yang berasal dari Aceh. Namanya sebenarnya lebih dikenal sebagai seorang seorang gitaris (musisi) dan sebelumnya juga pernah menjadi pesepakbola amatir hingga terus berkembang dan kemudian fokus menjadi pemerhati sosial sambil menulis beragam opini dan sejarah.
Kehidupan Awal
Ponbid lahir di Kota Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Ayahnya bernama Teuku Mustari Bin Teuku Ramli yang berasal dari Teunom, Aceh Jaya sedangkan ibunya bernama Fatmawati berasal dari Nagan Raya. Sang ayah merupakan cicit dari Teuku Imuem Muda Setia Bakti Hadjat yang dulunya merupakan ulee balang (Raja Wilayah) Federasi Kerajaan Teunom.
Ponbid merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Nama Ponbid (Ponbit) sendiri sebenarnya diberikan oleh guru sekolahnya yakni Ibu Ninik guru SD saat dirinya berada di kelas satu yang memanggil dia dengan sebutan "Ampon Bit" yang bermakna Raja Kecil karena dirinya memang keturunan Teuku.
Masa kecil Ponbid dihabiskan di kota Meulaboh dimana dia juga menamatkan sekolah SD, SMP dan SMA nya disana. Ponbid kecil diakui oleh semua keluarganya adalah anak yang aktif, nakal namun cengeng. Hal tidak berbeda juga saat ia beranjak remaja dimana masa kenakalannya semakin menjadi.
Rumah Ponbid yang berada dalam komplek Asrama Militer Kodim Aceh Barat, membuat dirinya selalu bermain bersama genk anak di komplek tersebut. Dia mengaku sudah merokok sejak awal kelas 5 SD dan dikenalkan minuman keras tradisional sejak SMP. Genk nya di asrama tersebut juga kerap terlibat perkelahian dengan genk-genk lainnya di Kota Meulaboh. Pada saat masuk SMA dia kemudian membuat kelompok Genk nya sendiri yang berisi beberapa orang teman yang setia padanya.
Masa SMA menjadi sedikit berat baginya karena kedua orang tuanya meninggal dunia dalam bencana gempa tsunami 2004 di Meulaboh. Ponbid pun melanjutkan sekolah SMA-nya dengan didampingi oleh para walinya. Ponbid mengakui bahwa dirinya baru benar-benar belajar saat kedua orang tuanya sudah meninggal. Motivasi hidupnya setelah kedua orang tuanya meninggal menjadi berbeda karena harus mandiri dan mengurus kehidupannya sendiri.
Ponbid pernah menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) hasil dari mendapat undangan karena berhasil mempertahankan peringkat satu saat SMA selama dua semester. Akan tetapi dia memutuskan berhenti kuliah pada semester tiga karena terlibat masalah komunikasi dengan keluarganya. Sebenarnya ia juga mendapat undangan dari universitas UNDIP dan USU, namun terpaksa ditolaknya karena tidak mendapat dukungan restu dan finansial dari para walinya.
Persoalan biaya juga yang membuat dirinya memutuskan mencari kerja sendiri lebih dini. Setidaknya dia sudah bekerja sejak tahun 2007 di berbagai perusahaan swasta sampai akhirnya bekerja tetap di satu perusahaan swasta milik teman lamanya.
Ponbid akhirnya mengulang kuliahnya pada jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Terbuka selama 4 tahun sembari bekerja sampai menjadi sarjana. Minatnya pada pengetahuan politik tidak pernah luntur karena memang cita-citanya sejak duduk di bangku SMA ingin mendalami ilmu sosial politik.
Karier Hobi
Semasa kecil ponbid sudah bermain di akademi sepakbola sejak tahun 1995. Dia pernah bermain untuk klub amatir Meulaboh Muda dan PS. RAS. Dia juga pernah masuk tim Persatuan Sepakbola Seluruh Aceh Barat (Persabar) untuk kompetisi Pengda PSSI tingkat junior. Dia terus bermain sepakbola sampai akhirnya tahun 2002 alat musik gitar membawa dirinya masuk dalam dunia musik. Ponbid fokus di karir musisinya hingga tahun 2013. Sepanjang satu dekade itu dia sudah mengikuti berbagai parade, festival dan membantu banyak band komersil sebagai pengisi gitar. Sepanjang karirnya di musik dia pernah memperoleh lima kali penghargaan gitaris terbaik dari hasil mengikuti berbagai festival musik. Selama karir bermusiknya itu ia setidaknya telah mendirikan 2 Band yakni Seulawah dan Feelsavad.
Kehidupan Pribadi
Ponbid menikahi istrinya Etya Faradita pada tahun 2015 dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Cut Rashya Keynara. Dia dan keluarganya memilih tetap menetap di Banda Aceh karena memang sejak tahun 2007 Ponbid telah menjadi warga kota Banda Aceh.
Kehidupan Sebagai Pemerhati Publik
Kehidupan Ponbid sebagai pemerhati masalah publik sebenarnya telah ada saat dirinya masih remaja. Awal tahun 2000 an saat SMP dia sudah suka membaca surat kabar Serambi Indonesia dan Tabloid Kontras di masa Aceh berada dalam Konflik Militer. Saking seringnya ia membaca harian berita, dia sudah mampu sedikit menyimpulkan persoalan konflik lokal maupun nasional. Saat naik ke bangku SMA, minatnya pada politik semakin kuat, apalagi dirinya bertemu dengan mata pelajaran Tata Negara. Mata pelajaran ini seakan melengkapi minatnya yang spesifik pada politik sebelum dulunya hanya didapat dari mata pelajaran Geografi dan Sejarah.
Ponbid mengaku sangat suka mengamati dan memperhatikan orang-orang baik langsung maupun tidak langsung. Menurutnya melakukan pengamatan singkat itu penting agar kita dapat mengetahui lawan bicara dan kapasitas lawan bicara kita dalam satu forum. Sehingga kita nantinya dapat mengimbangi standar pembicaraan yang sesuai dan dapat menata redaksi tata bahasa terlebih dahulu. Ponbid juga menyukai ilmu filsafat moral yang tak sengaja ia dapat saat mendalami ilmu politik. Menurutnya filsafat moral itu sangat berkaitan dengan keimanan seseorang yang percaya akan 3 hal yakni Tuhan, Hari Pembalasan dan Pahala Jika Bersikap Baik. Menurut dirinya tidak ada manusia yang benar-benar baik dan benar-benar buruk di dunia ini. Manusia selalu mempunyai kecenderungan bersifat mendua yang artinya dia bisa saja menjadi baik dan bisa menjadi buruk. Perjalanan kehidupan manusia itu penuh dengan dilema dan tantangan bagaimana seseorang harus memutuskan sesuatu hal yang berkaitan dengan kebaikan atau kejahatan. Itu mengapa filsafat moral diperlukan agar seseorang setidaknya dapat mengedepankan sisi moralitas saat ia berada dalam dilema memutuskan suatu masalah dengan bijaksana.
Silsilah dan Nasab Ponbid
Ponbid (Teuku Raji Akbar) Bin Teuku Mustari Bin Teuku Ramli Bin Teuku Radja Abdullah Bin Teuku Radja Pulo Bin Teuku Imeum Muda Setia Bakti Hadjat Bin Teuku Ali Imeum Tuha Bin Teuku Radja Teunom Bin Teuku Imeum Tambah Bin Teuku Imeum Puteh Bin Teuku Teungku Chik Babah Krueng