Pada 24 Mei 2026, serangan bom bunuh diri yang dilakukan dengan menggunakan kendaraan menargetkan kereta shuttle di dekat Chaman Phatak, Quetta, Balochistan, Pakistan. Ledakan tersebut menewaskan setidaknya 47 orang dan melukai 98 orang lainnya.[2][3] Kereta tersebut mengangkut personel keamanan Pakistan beserta anggota keluarga mereka dari kawasan kantonmen Quetta untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta Jaffar Express.[4]
Quetta adalah ibu kota Balochistan, provinsi di Pakistan yang dilanda pemberontakanseparatis yang telah berlangsung lama. Para militan di provinsi tersebut telah menargetkan pasukan keamanan, fasilitas pemerintah, warga sipil, dan infrastruktur.[6] Sebelum ledakan tahun 2026, telah terjadi beberapa insiden besar yang melibatkan sasaran perkeretaapian dan keamanan di Balochistan, termasuk pengeboman stasiun kereta api Quetta 2024 dan pembajakan keretaapi Jaffar Express 2025.[6][7] Selama bertahun-tahun, BLA menuduh bahwa pemerintah Pakistan telah meraup keuntungan dari sumber daya mineral yang melimpah di provinsi Balochistan tanpa memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.[8]
Tak lama setelah pukul 08.00 PKT, sebuah kendaraan yang sarat bahan peledak menabrak salah satu gerbong kereta shuttle di dekat Chaman Phatak saat kereta tersebut sedang melintasi Quetta.[4][10] Pihak otoritas perkeretaapian mengatakan bahwa kereta tersebut sedang melaju dari Quetta Cantonment menuju stasiun kereta api kota, tempat para penumpang akan berganti kereta ke Jaffar Express.[10] Reuters, mengutip Kementerian Perkeretaapian Pakistan, melaporkan bahwa ledakan tersebut menyebabkan lokomotif dan tiga gerbong tergelincir, serta dua gerbong terbalik.[4]
Ledakan terjadi di kawasan pemukiman dan merusak bangunan serta kendaraan di sekitarnya.[4][5] Gambar dan video dari lokasi kejadian memperlihatkan kendaraan yang terbakar, bangunan yang rusak, asap, serta gerbong kereta api yang terbalik.[4][11]Polisi, Departemen Pencegahan Terorisme (CTD), tim penjinak bom, pasukan keamanan, dan petugas penyelamat merespons kejadian tersebut, sementara Pakistan Railways mengerahkan truk penyelamat dan kereta bantuan.[10]
Korban
Petugas penyelamat mengatakan 47 orang tewas, termasuk 20 tentara, dan 98 orang lainnya terluka.[2]
Para pejabat mengatakan bahwa korban terdiri dari personel keamanan, penumpang, orang-orang yang kebetulan berada di lokasi, dan penduduk rumah-rumah di sekitarnya.[10][4] Pemerintah Balochistan mengatakan tiga personel Korps Perbatasan dan satu keluarga yang terdiri dari empat orang termasuk di antara korban tewas.[10] Dilaporkan pula bahwa di antara korban luka terdapat perempuan dan anak-anak.[10][12]
Keadaan darurat medis diumumkan di rumah sakit umum di Quetta, dan para dokter, paramedis, serta staf lainnya diperintahkan untuk tetap bertugas.[5][10] Menurut Associated Press (AP), para dokter mengatakan 20 dari korban luka berada dalam kondisi kritis.[13]
Dampak
Tentara Pembebasan Balochistan (BLA) mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyatakan bahwa mereka menargetkan personel keamanan di dalam kereta.[4][5] Juru bicara BLA, Jayand Baloch, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Brigade Majid dan Sayap Intelijen Zarab bahwa 82 personel militer tewas dan 121 lainnya terluka.[14] Reuters melaporkan bahwa mereka tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.[4] Pejabat dan beberapa organisasi berita menggambarkan serangan tersebut sebagai bom bunuh diri yang menggunakan kendaraan.[5][10][13]
BLA mengidentifikasi dan merilis foto pelaku bom bunuh diri yang diduga, Bilal Shahwani, warga Killi Sarde berusia 25 tahun. Shahwani bergabung dengan gerakan bersenjata Baloch pada tahun 2020 dan dimasukkan ke dalam Brigade Majid pada tahun 2022 atas permintaannya sendiri. Menurut BLA, Shahwani tetap aktif di front Nagaho, Dasht Kambela, Quetta, dan Kalat, serta naik pangkat menjadi komandan berkat apa yang disebut kelompok tersebut sebagai kinerja militernya dan disiplin organisasinya. Mereka juga mengatakan bahwa Shahwani telah secara langsung memimpin serangan besar dan operasi gerilya di seluruh front Dasht Kambela selama enam bulan terakhir, seperti memimpin unit-unit terdepan di front Kalat selama serangan BalochistanAgustus 2024 dan memimpin unit-unit fidayin di zona merah Quetta selama serangan Balochistan 2026.[1] Pasukan keamanan Pakistan dilaporkan menggerebek rumah Shahwani dan menahan empat kerabatnya.[15]
Reaksi
Dalam negeri
Pasukan keamanan menutup area tersebut setelah ledakan terjadi, dan pemerintah kabupaten mendirikan ruang komando di kantor wakil komisaris Quetta.[10] Departemen Dalam Negeri provinsi juga mengaktifkan satuan pemantauan dan koordinasi.[10]