Pendidikan di Kamboja adalah penyelenggaran pendidikan di wilayah Kamboja sejak masa kemerdekaan Kamboja dari Prancis dalam pemerintahan Raja Norodom Sihanouk.[1] Jenjang pendidikan di Kamboja terdiri dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan umum menengah, pendidikan tinggi dan pendidikan nonformal.[2] Penyelenggaraan pendidikan tinggi di Kamboja sempat dihentikan sejak tahun 1970 hingga pertengahan tahun 1993 karena terjadinya perang saudara di Kamboja dan kekacauan politik dalam pemerintahan negaranya.[3] Selain itu, selama Khmer Merah berkuasa terjadi pemusnahan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang pernah dibangun di Kamboja sebagai bentuk penghilangan simbol agama di Kamboja yang menganut komunisme.[4]
Perintisan
Pemerintah Kamboja memulai pengurusan pendidikan di Kamboja sejak memperoleh kemerdekaan dari Prancis. Raja Norodom Sihanouk yang berkuasa di Kamboja setelah Kamboja memperoleh kemerdekaan memusatkan perhatian penyediaan pendidikan bagi seluruh penduduk di Kamboja. Selama masa pemerintahan Raja Norodom Sihanouk, penyediaan pendidikan dilakukan hingga ke kawasaan pedesaan di Kamboja.[1]
Jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan di Kamboja terdiri dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan umum menengah, pendidikan tinggi dan pendidikan nonformal. Masa tempuh untuk pendidikan dasar di Kamboja selama 6 tahun. Sedangkan masa tempuh untuk pendidikan umum menengah di Kamboja selama 6 tahun. Pemerintah Kamboja memberlakukan pendidikan gratis untuk wajiib belajar selama 9 tahun. Penggratisan pendidikan ini mencakup jenjang pendidikan dasar hingga jenjang pendidikan umum menengah.[2]
Penyelenggaraan pendidikan tinggi di Kamboja sempat dihentikan sejak tahun 1970 hingga pertengahan tahun 1993 karena terjadinya perang saudara di Kamboja dan kekacauan politik dalam pemerintahan Kamboja akibat pemerintahan Khmer Merah. Setelah Kamboja kembali berbentuk kerajaan pada tanggal 24 September 1993 melalui bantuan pemulihan pemerintahan oleh Pemerintahan Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kamboja, perguruan tinggi mulai diselenggarakan kembali.[3]
Selama masa pemerintahan rezim Khmer Merah di Kamboja juga terjadi pemusnahan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang pernah dibangun di Kamboja. Pemusnahan dilakukan melalui pembakaran bangunan bersama dengan masjid yang dibangun serta mushaf yang dimiliki oleh umat Islam di Kamboja. Pemusnahan lembaga pendidikan Islam terjadi karena Khmer Merah menganut paham komunisme yang membenci semua hal yang berkaitan dengan agama termasuk agama Islam yang berkembang di Kamboja.[4]