ENSIKLOPEDIA
Pendidikan di Jambi
Pendidikan di Jambi telah berbentuk sekolah sejak masa Pemerintah Hindia Belanda. Masa sekolah di tiap desa di Jambi ada yang selama tiga tahun dan ada yang lima tahun. Pembiayaan pendidikan menjadi tanggungan marga-marga yang menjadi bagian dari penduduk Jambi. Awalnya, siswa yang terdaftar dalam sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda harus berasal dari anak-anak demang dan saudagar.[1]: 91
Sejarah
Masa Masuknya Hindu Buddha
Pengaruh agama Hindu dan Buddha di Jambi bisa diketahui dari keberadaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Hal ini seperti disebutkan dalam berita-berita Tiongkok yang menyatakan, bahwa sejak 683 M, Kerajaan Melayu telah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Melayu maupun Kerajaan Sriwijaya adalah penganut Buddha. I-Tsing menyatakan bahwa di daerah ini sudah ada 1.000 pendeta Buddha, yang semuanya perhatian kepada ilmu dan mengamalkan ajaran Buddha.[2]: 38
Pendidikan agama Hindu dan Buddha di Jambi biasa dilakukan di keraton. Namun tidak semua pendeta Buddha di Jambi tinggal di keraton dan biara-biara. Beberapa ada yang tinggal di padepokan. Dalam hal ini, tentu saja para empu dapat mempelajari ajaran Buddha dari pendeta Buddha. Terdapat juga pertapaan, di mana guru-guru pertapaan yang berjiwa kerakyatan mengamalkan ajarannya. Murid-murid pertapaan bukan saja terdiri dari kaum Keraton, tetapi juga dari kalangan rakyat. Lokasinya berada di tempat-tempat yang jauh dari keramaian, dan guru-guru pertapaan akan mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada murid-murid di Keraton.[2]: 39
I-Tsing dan pembantunya, yaitu pendeta Cheng Ho, pergi mengunjungi Sriwijaya pada tahun 689 M. Pada masa tersebut, Kerajaan Melayu telah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya. Selain itu, mereka juga singgah di Melayu. Menurut berita I-Tsing, di daerah ini banyak pendeta Buddha yang rajin dan mencurahkan perhatiannya kepada ilmu pengetahuan dan mempelajari ilmu agama Buddha. Bahkan I-Tsing menganjurkan kepada pendeta-pendeta Tiongkok yang ingin pergi ke India untuk mengikuti ajaran-ajaran agama Buddha. Mereka diizinkan tinggal di daerah ini selama dua atau tiga bulan terlebih dulu untuk berlatih sebelum berangkat ke India. Tentulah pendidikan ilmu pengetahuan di daerah ini sudah tinggi sesuai dengan tingkat perkembangan ketika itu.[2]: 39–40
Dalam perkembangan selanjutnya, mulai dikenal istilah asrama yang berarti lokasi yang menjadi pusat agama Buddha di Sriwijaya. Wilayahnya meliputi daerah Jambi, yang ketika itu didatangi oleh pendeta Cina dan Mahaguru dari India seperti I-Tsing dan Cheng Ho. Selanjutnya, berita-berita pada masa pengaruh agama Hindu dan Buddha di daerah ini tidak diperoleh keterangan mengenai tokoh guru. Tokoh guru yang ada ialah tokoh guru ketika Jambi di bawah kekuasaan Kerajaan Melayu yang menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya. Tokoh guru tersebut antara lain Sakyakirti, Dharmapala, dan Dharmakirti. Sakyakirti memiliki pemikiran dalam bidang pendidikan ilmu perekonomian dan perniagaan. Kemudian Dharmapala dalam bidang pendidikan dan pengetahuan hukum, sedangkan Dharmakirti dalam bidang pendidikan dan pengetahuan agama serta kebudayaan.[2]: 40
Mereka tidak hanya mengembangkan pendidikan, keagamaan, dan soal-soal yang berhubungan dengan kehidupan seperti perniagaan serta lainnya, tetapi juga pemikir dan pembangun perumahan Kerajaan Sriwijaya, 12 Status Sakyakirti, Dharmapala, dan Dharmakirti ialah para ahli dan mahaguru pada perguruan tinggi di Sriwijaya. Terdapat lebih dari 1.000 orang murid dari berbagai daerah yang telah terdidik di tempat ini. Mereka merupakan para ahli agama dan negara yang hidup di zaman itu, Sementara itu, para murid yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan dan agama Buddha jumlahnya cukup banyak sekitar ± 1.000 orang murid. Bahkan di antara mereka ada yang mendalami ilmu dan melanjutkan ke Nalanda seperti yang dilakukan oleh pendeta-pendeta Tiongkok. Mereka mempelajari Sabda Vidya, yakni tata bahasa Sanskerta di daerah ini sebelum berangkat ke India. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pengajaran bahasa Sanskerta merupakan hal yang utama dan mendapat perhatian penuh. Selanjutnya didirikan juga asrama untuk menampung minat murid atau pendeta yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan.[2]: 40–41
Masa Kerajaan Islam
Sejak Jambi dikuasai Sriwijaya pada abad ke-7, Kerajaan Melayu mulai bangkit dan Raja-raja Melayu yang semula menganut agama Hindu dan Buddha kemudian masuk Islam pada akhir abad ke-11. Pada abad ke-16, Kerajaan Melayu berada di bawah kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Belanda yang mulai masuk ke Jambi. Akibatnya, Raja Jambi bernama Orang Kayo Hitam yang merupakan penganut agama Islam yang tangguh, mengubah Kerajaan Jambi menjadi Kerajaan Islam dengan sebutan Kesultanan Jambi pada tahun 1500-1515.[2]: 41
Selanjutnya, pada awal masuknya Islam di Jambi abad ke-16, ajaran Islam berkembang dalam lingkungan yang masih sangat terbatas serta bertujuan untuk menanamkan keyakin an/akidah Islamiyah secara mendasar. Metode pengajaran yang digunakan yaitu ceramah dan tanya jawab. Muridnya merupakan anak dari para pejabat di lingkungan Kerajaan Jambi dan para pedagang. Guru pendidiknya yaitu Ahmad Salim yang berlatar belakang pendidikan dari Mekkah. Melalui Ahmad Salim pada abad ke-16, pendidikan ini dilaksanakan di rumah maupun tempat yang bisa dijadikan untuk berkumpul seperti pasar. Selain itu, terdapat pendidik lain dari Arab dan Nusantara asal Jambi yang telah selesai belajar di Mekkah. Mereka di antarannya ialah Haji Muhammad Thaiyib, Muhammad Saman Yamany, Abdul Ghani, dan Nasaruddin. Mata pelajaran yang diberikan adalah tauhid, fikih, tasawuf, dan membaca Al-Qur'an.[2]: 41–42
Setelah abad ke-16, di Jambi terdapat dua kelembagaan yang mendapat pengaruh dari agama Islam, yaitu pendidikan yang ada di langgar dan madrasah.[2]: 42
Pendidikan di langgar
Langgar juga hampir terdapat di semua dusun atau kampung di Jambi. Selain sebagai tempat untuk beribadah, biasanya diselenggarakan pengajian di langgar. Hal ini menjadikan pengajian yang berbentuk kelembagaan biasanya tidak bisa dipisahkan dari langgar di Jambi. Langgar juga digunakan sebagai lembaga pengajian bagi anak-anak. Namun langgar di Jambi tidak digunakan untuk melaksanakan salat Jumat, mereka justru pergi ke masjid yang letaknya dekat dengan dusun atau kampung tempat mereka tinggal.[2]: 42–43
Selain sebagai tempat pendidikan, biasanya di langgar juga diadakan pengajaran agama Islam bagi pemula yang ingin belajar Al-Qur'an. Bahkan di tiap-tiap desa terdapat sebuah rumah yang terbuat dari bambu, kayu atau batu yang dipergunakan untuk beribadah oleh orang-orang yang beragama Islam untuk memberi pelajaran Al-Qur'an. Murid-murid kemudian diajarkan abjad Arab, mengeja ayat-ayat Al-Qur'an, atau biasa disebut turutan[a].[2]: 43
Lamanya kegiatan belajar di langgar tidak menentu. Biasanya untuk dapat belajar Al-Qur'an hingga menamatkannya diperlukan waktu lebih dari satu tahun. Sementara itu, waktu yang digunakan untuk mengaji di langgar yaitu pada malam hari, setelah salat Magrib maupun salat Isya. Gurunya yaitu seseorang yang dianggap memiliki ilmu pengetahuan agama yang cukup mendalam. Kemudian, untuk uang belajar biasanya diberikan satu bulan sekali oleh murid kepada guru mengaji, tidak jarang ada juga yang tidak membayar. Bila seorang murid sudah tamat dalam hal membaca Al-Qur'an, kemudian diadakan khataman atas biasa disebut selamatan sebagai bentuk rasa syukur karena telah tamat mengaji.[2]: 42–44
Selain itu, terdapat pula surau yang merupakan tempat ibadah. Ketika penduduk ingin menjalankan salat, mereka dapat melakukannya di surau. Biasanya Surau dapat ditemukan di permukiman yang penduduknya mena pakan pendatang dari luar daerah Afdeling Jambi seperti dari Sumatera Barat. Sementara itu, penduduk Jambi yang bukan pendatang biasanya mengenal langgar dan masjid untuk melaksanakan peribadatan. Meski demikian, di Afdeling Jambi secara umum tidak ada perbedaan peranan atau fungsi antara langgar dan surau pada abad ke-16.[2]: 44
Sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di langgar menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan menjelaskan pelajaran dengan memberikan contoh kepada murid untuk kemudian diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa metode ceramah dilakukan oleh guru atau kiai. Dalam praktik pendidikan, peranan guru atau kiai terlihat lebih dominan dengan memberikan ceramah kepada para santri. Berbeda halnya dengan metode tanya jawab, peranan yang lebih menonjol dilakukan oleh para santri. Guru atau kiai yang telah memberi ceramah kemudian para santri diberikan kesempatan untuk bertanya. Setelah itu, guru biasanya juga menjelaskan pelajaran agama Islam kepada santri atau murid. Kemudian para murid atau santri diberikan kesempatan untuk bertanya atau mendapat penjelasan lebih lanjut. Selain itu, dikenal pula metode demonstrasi yang masih sangat sederhana yaitu hanya sebatas pengetahuan guru dengan membaca kemudian diulang oleh santri.[2]: 44–45
Evaluasi terhadap murid atau santri diadakan menurut ketentuan masing-masing dari lembaga pendidikan. Evaluasi yang dilakukan biasanya ada yang enam bulan sekali dan ada pula evaluasi yang diadakan empat bulan sekali. Terdapat pula kegiatan bela diri yang biasa dilakukan para murid atau santri seusai belajar di langgar. Namun lembaga pendidikan agama ini tidak mengaitkan guru-guru agama sebagai kegiatan pendidikan dan pengajaran dalam kegiatan bela diri. Anak-anak di kampung biasa belajar bela diri setelah mereka usai mengaji di langgar. Mereka belajar ilmu bela diri tradisional, salah satunya pencak silat.[2]: 45
Pendidikan di madrasah

Lembaga pendidikan agama Islam seperti madrasah tersebar di seluruh Jambi pada tahun 1626 M. Lembaga pendidikan ini merupakan inisiatif dari tokoh-tokoh agama bersama masyarakat. Pada awalnya, madrasah merupakan tempat pengajian yang terdiri dari bangunan yang sederhana. Dalam hal ini tempat pengajian biasa disebut Al-Kuttab, yakni tempat belajar menulis. Selain itu terdapat pula pondok yang merupakan bagian dari tempat tinggal para santri. Pondok sendiri biasanya mengikuti sistem pembelajaran madrasah. Letak pondok dekat dengan permukiman penduduk, yaitu berada dalam satu kompleks dengan madrasah, seperti yang banyak ditemukan pada abad ke-19.[2]: 46–47
Dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan umum yang telah berkembang belum tentu menjadi bagian dari pelajaran yang dipelajari di madrasah. Tidak semua lembaga pendidikan agama mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum sekaligus. Ada pula lembaga pendidikan Islam yang hanya mengajarkan ilmu agama Islam. Hal ini karena ajaran agama dipandang sebagai pelajaran yang paling penting dalam lembaga pendidikan agama.[2]: 47
Pentingnya belajar ilmu agama menjadikan madrasah digunakan sebagai tempat belajar hingga malam hari. Salah satu kegiatan pembelajaran di dalam madrasah yaitu mutholaah[b]. Oleh karena itu, pada umumnya, murid atau santri betul-betul menguasai ilmu agama Islam. Sedangkan madrasah-madrasah yang ada di Jambi, umumnya hanya mempelajari ilmu agama tanpa mempelajari ilmu pengetahuan umum. Para santri mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab. Hal ini dilakukan supaya para santri mudah memahami bahasa Arab. Para santri juga dilatih membaca serta menulis huruf Arab hingga fasih dalam berbahasa Arab. Bahasa sastra yang dipelajari di madrasah adalah bahasa Arab yang berasal dari Al-Qur'an. Pengetahuan tata bahasa Arab dilakukan untuk melengkapi pengetahuan bahasa Arab.[2]: 47–48
Hal yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama Islam adalah agama digunakan sebagai hukum, misalnya hukum agama yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat hak dan batil. Hukum atau kaidah agama menjadi suatu yang tentu dikemukakan. Selain dari Al-Qur'an dan Hadis, dalam mempelajari hukum agama dan ajaran Islam, ilmu tafsir juga turut serta ikut dipelajari. Oleh karena itu, Al-Qur'an dan Hadis serta tafsir merupakan sumber utama dalam mempelajari hukum di madrasah-madrasah yang didirikan di Jambi. Terdapat pengelolaan lembaga pendidikan atau biasa disebut sebagai pengasuh. Sistem pengelolaan seperti ini biasa disebut dengan nama bedongan[c], sorongan[d], dan wetonan[e].[2]: 48

Sarana pendidikan mulai berkembang dalam lembaga pendidikan agama di Jambi sebelum abad ke-19, seperti halnya langgar dan madrasah yang sudah memiliki bangunan sekolah tersendiri. Bangunan sekolah yang sudah ada beberapa di antaranya mempunyai ruang guru dan cenderung memiliki ruangan berupa balai.[2]: 48–49
Hal ini membuat ruangan balai tersebut memiliki beberapa kegunaan, di antaranya bisa digunakan sebagai tempat untuk merayakan atau memeringati hari-hari besar Islam, dan bisa juga digunakan sebagai tempat untuk musyawarah warga desa atau kampung. Selain itu, biasanya kegiatan pembangunan dilakukan dengan mengadakan koordinasi oleh kepala kampung atau pasirah yang didapatkan dari swadaya masyarakat. Selain bangunan, peralatan belajar yang digunakan masih bersifat sederhana, yang pada umumnya berupa tikar, bangku, papan tulis, dan peralatan yang praktis dipergunakan sehari-hari. Alat-alat tersebut didapatkan melalui wakaf dan sedekah dari tokoh masyarakat, ulama, atau masyarakat itu sendiri.[2]: 49
Masa Kolonial Belanda
Dalam bidang pendidikan, pelaksanaan kebijakan pemerintah Hindia Belanda yaitu Politik Etis membawa dampak positif bagi bumiputra, walaupun terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Hal ini terlihat sejak tahun 1901, pemerintah kolonial banyak mendirikan sekolah-sekolah berorientasi Barat seperti Europeesche Lagere School (ELS), Hollansch Inlandsche School (HIS), dan Meer Uitgebreid Lage Ondewijs (MULO). Bukan hanya itu, bahkan yang berkaitan dengan arah Politik Etis juga menjadi landasan ide dari langkah-langkah dalam pendidikan di Hindia Belanda. Oleh karena itu, pemerintah menjadikan kebijakan pendidikan dan pengetahuan Barat untuk diterapkan bagi golongan penduduk bumiputra.[2]: 55
Politik Etis juga memengaruhi sistem pendidikan yang ada di Afdeling Jambi. Di Afdeling Jambi, sejak awal abad ke-20 diperkenalkan sistem sekolah desa atau volksschool. Pendiriannya bergantung pada kemampuan masyarakat setempat dan subsidi serta bimbingan pemerintah. Para siswa dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu tiga tahun dan mendapat pengajaran membaca, menulis, dan berhitung. Murid-murid yang terpilih dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah sambungan atau vervolgschool selama dua tahun. Secara berangsur, sistem ini menggantikan kedudukan Sekolah Kelas Dua sebagai lembaga pendidikan yang terpenting bagi anak negeri. Untuk keperluan anak-anak dari kelas atas, didirikan pula Hollandsch Inlandsche School (HIS). Dalam sekolah ini secara berangsur mulai dipakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.[2]: 55–56
Pada awalnya HIS hanya diperuntukkan untuk anak-anak Demang dan beberapa orang anak saudagar tertentu saja, akan tetapi seiring bertambahnya saudagar-saudagar baru di Jambi, maka semakin banyak anak-anak dari para saudagar yang diperbolehkan masuk HIS. Keadaan tersebut menjadikan HIS mempunyai jumlah murid yang cukup banyak tetapi lulusannya kebanyakan tidak fasih dalam berbahasa Belanda. Sebaliknya, bangsa Belanda justru menghalangi perkembangan budaya, agama, dan pendidikan yang sudah ada di masyarakat Afdeling Jambi. Pendidikan Belanda dalam perjalanan sejarahnya menunjukkan bagaimana ia menerapkan kebijakan pendidikan yang diskriminatif dan menghalangi pertumbuhan lokal masyarakat yang sudah ada.[2]: 56
Kemunculan sekolah Belanda di Afdeling Jambi terjadi pada awal abad ke-20. Hal tersebut dimulai dengan kekuasaan Belanda atas Afdeling Jambi, yaitu dengan gugurnya Sultan Thaha Syaifudin pada tahun 1904. Kemudian pada tahun 1905, Belanda mengeluarkan suatu peraturan bahwa orang yang akan memberikan pengajaran harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemerintah kolonial. Sementara itu, pada tahun 1906, barulah dibentuk Afdeling Jambi. Pada tahun 1925, pemerintah kolonial membentuk peraturan baru yang menetapkan bahwa para pengajar agama Islam di madrasah harus memberi tahu para penguasa. Dalam hal ini, para pengikut agama Islam menghadapi rintangan dan peraturan dalam perkembangan pendidikan.[2]: 56–57
Pada tahun 1930-an, dikeluarkan kebijakan politik pendidikan oleh pemerintah kolonial. Seluruh sekolah swasta yang tidak dibiayai oleh pemerintah kolonial harus meminta izin. Selain itu, guru-guru yang mengajar di sekolah swasta juga harus mendapat izin dari pemerintah terlebih dahulu. Bukan hanya itu, bahkan materi pelajaran disampaikan kepada siswa sekolah hendaknya tidak boleh melanggar peraturan dan harus sesuai dengan sekolah pemerintah.[3]: 140 [2]: 57
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana kebijakan tersebut menimbulkan diskriminasi terhadap pendidikan yang diselenggarakan oleh bumiputra dengan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah kolonial. Strategi perjuangan bumiputra dalam menghadapi penjajahan salah satu yang utama dilakukan dengan jalur pendidikan. Sekolah berorientasi Barat diselenggarakan dalam bahasa Belanda, sedangkan sekolah untuk bumi-putra dalam bahasa Melayu atau bahasa daerah. Pembukaan sekolah-sekolah pun lebih didasarkan pada kepentingan pemerintah kolonial atau pengusaha daripada untuk kebutuhan penduduk. Oleh sebab itu, sekolah swasta bumiputra dalam hal ini sangat dirugikan.[2]: 57–58
Jadi pendidikan modern di Afdeling Jambi terjadi karena adanya percampuran pendidikan. Dalam hal ini terdapat pengaruh pendidikan dari sekolah Belanda di Afdeling Jambi atau yang lebih dikenal dengan sebutan pendidikan Barat. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa pendidikan Barat yang ada di Afdeling Jambi tidak sama dengan daerah-daerah lain, seperti halnya di Minangkabau atau Bukittinggi yang sudah ada sejak abad ke-19. Hal ini dilihat dari pendidikan Barat di Afdeling Jambi yang baru muncul pada awal abad ke-20, ketika Belanda berhasil menaklukkan Jambi dan menjadikannya sebagai wilayah jajahan kolonialnya.[2]: 58 Jika dirangkum, maka ada beberapa sekolah pendidikan modern di Jambi, yaitu: Europeesche Lagere School, De Eerste Klasse School, Hollansch Inlandsche School, De Tweede Klasse School, Volkschool, Vervolgschool, Pendidikan Partikelir untuk anak Tiongkok, dan Sekolah Kejuruan.[2]: 59–71
Europeesche Lagere School
Europeesche Lagere School (ELS) merupakan sekolah dasar zaman kolonial yang berdiri di Afdeling Jambi pada tahun 1903. Murid-murid E.L.S yang ada di Afdeling Jambi terdiri dari anak-anak orang Belanda. Selain itu, sekolah dasar yang ada di Jambi juga menerima anak-anak golongan bumiputra dan Timur Asing, hanya saja jumlahnya dibatasi dan sedikit.[2]: 60

Sementara itu, anak-anak para bangsawan dan tokoh terkemuka sengaja dikirimkan untuk masuk E.L.S sesuai dengan kedudukan dari orang tua mereka. Hal ini tentu menjadikan kepala sekolah lebih menerima anak-anak Belanda sebagai muridnya, dan jika masih tersedia kuota, anak-anak golongan bumiputra dan Tionghoa baru diperbolehkan ikut menjadi muridnya.[2]: 60

Di Afdeling Jambi, sekolah dasar ini terletak di Jambi. Sistem dan pengajaran yang diajarkan semua sama dengan sekolah rendah yang ada di Belanda, yaitu mata pelajaran yang diajarkan meliputi bahasa Belanda, membaca, menulis, berhitung, ilmu alam, ilmu bumi atau geografi, menyanyi, dan menggambar. Selain itu, mata pelajaran sejarah juga dipelajari, hanya saja pelajaran sejarah yang diajarkan merupakan sejarah negeri Belanda.[2]: 61
Pada September 1934, ELS yang terdapat di Afdeling Jambi memiliki sebanyak 44 orang peserta didik dan 2 orang guru.[2]: 61
De Eerste Klasse School (Sekolah Kelas Satu)
Sekolah kelas satu termasuk ke dalam sekolah dasar yang berdiri di Afdeling Jambi, letaknya berada di Jambi. Sekolah dasar ini menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar pembelajaran sejak peserta didik menempuh jenjang kelas tiga sampai kelas lima. Pada tahun 1911, lama pengajaran di sekolah kelas satu menjadi tujuh tahun. Selanjutnya pada tahun 1914, sekolah kelas satu dijadikan Hollandsch Inlandsche School (H.I.S).[2]: 61–62
Hollands Inlandsche School

Sekolah ini merupakan sekolah Belanda untuk bumiputra pada tahun 1914. Hollansch Inlandsche School atau HIS yang ada di Afdeling Jambi, letaknya berada Jambi.[3]: 136 Lama pendidikan HIS adalah tujuh tahun. Murid-muridnya berasal dari anak-anak dari kaum terkemuka seperi demang, asisten demang, dan pamong praja setempat.[2]: 62

Kurikulum HIS pada tahun 1914 memiliki mata pelajaran membaca dan menulis. Mata pelajaran membaca yang diajarkan yaitu membaca bahasa daerah dalam aksara latin. Kemudian, mata pelajaran menulis yang diajarkan yaitu menulis bahasa Melayu dalam tulisan Arab dan Latin; berbeda dari kurikulum 1915 yang kemudian memasukkan pelajaran sejarah, bernyanyi, dan pendidikan Jasmani. HIS yang ada di Afdeling Jambi pada umumnya menggunakan tiga bahasa yang diajarkan yaitu bahasa daerah, bahasa Belanda, dan bahasa Melayu.[2]: 63

Pada umumnya, mata pelajaran yang diajarkan di HIS sama dengan mata pelajaran yang diajarkan di ELS. Akan tetapi, bahasa daerah dan bahasa Melayu termasuk dalam mata pelajaran di HIS. Memasuki September 1934, HIS di Jambi hanya ada satu dengan enam orang guru dan 194 orang murid.[3]: 136 [2]: 64

De Tweede Klasse School
Di Afdeling Jambi, Sekolah Kelas Dua atau De Tweede Klasse School merupakan sekolah dasar untuk bumiputra pada masa kolonial. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa daerah atau menggunakan bahasa Melayu. Lama pendidikan pada mulanya hanya tiga tahun, kemudian menjadi lima tahun sejak tahun 1920. Namun yang menjadi muridnya sebagian kecil berasal dari rakyat desa yang ingin melepaskan diri dari lingkungan tradisionalnya serta mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan penghidupan sebagai pegawai pada perusahaan perniagaan atau sebagai pegawai negeri.[3]: 145 [2]: 65

Pada masa Depresi Ekonomi 1929 yang melanda seluruh wilayah Indonesia termasuk wilayah Afdeling Jambi Sekolah Kelas Dua di Jambi terpaksa melakukan penghematan untuk bisa memenuhi kebutuhan alat tulis dan buku-buku pelajaran. Akibatnya pada tahun yang sama, Sekolah Kelas Dua ini diubah menjadi Sekolah Desa/Marga yang disebut Volkschool (Sekolah Desa).[2]: 65–66
Volkscholl
Volkschool merupakan sekolah desa dengan masa tempuh pendidikan selama tiga tahun. Baik gaji maupun pengadaan gedung dengan alat-alat serta biaya lainnya dalam menyelenggarakan Volkschool menjadi tanggungan tiap marga di Jambi. Volkschool dalam hal ini merupakan sekolah yang berdiri sendiri. Pemerintah membatasi diri pada pengawasan umum, pendidikan guru, pemberian buku, alat pengajaran, dan memberikan bantuan dalam bentuk hal-hal yang menjadi kebutuhan.[2]: 66
Perluasan Sekolah-sekolah Desa (Volkschool) berjalan secara berangsur-angsur sejajar dengan perkembangan dan kemampuan keuangan dari masing-masing marga di Jambi. Oleh sebab itu, jenis sekolah ini terletak di marga yang ada di Afdeling Jambi. Sementara itu, sekolah ini hanya memberantas buta huruf sebab pelajaran yang diberikan ialah membaca, menulis, dan berhitung. Itu semua diberikan dalam waktu tiga tahun. Tenaga pengajarnya adalah juru tulis marga yang dibantu oleh guru-guru lain. Pada mulanya, sekolah desa yang ada di Afdeling Jambi tidak dapat berkembang dan banyak yang kosong. Hal ini karena rakyat bersikap antipati terhadap sekolah yang didirikan Belanda. Selain itu, sekolah desa ini juga lebih mengutamakan penerimaan murid-murid dari Pamong Marga.[2]: 67
Vervolgschool
Sebagai lanjutan Sekolah Desa, maka pada tahun 1930, di Jambi didirikan Vervolgschool. Lama pendidikan di Vervolgschool adalah dua tahun setelah dari Sekolah Desa (Volkschool). Oleh karena itu, untuk menyelesaikan sekolah ini dibutuhkan waktu lima tahun pendidikan.[3]: 145 [2]: 68
Murid-murid yang diterima di Vervolgschool adalah anak-anak rakyat biasa. Sekolah ini dinamakan Vervolgschool karena sifatnya sebagai sekolah sambungan dan lanjutan dari Volkschool. Jumlah sekolah ini tidak sebanyak Volkschool yang dibuka pada lingkungan marga, bahkan sangat sedikit jumlahnya. Belum ada laporan berapa jumlah sekolah lanjutan yang ada di Jambi semenjak didirikan oleh pemerintahan kolonial pada tahun 1930.[2]: 68
Pendidikan Partikelir untuk anak Tionghoa
Pendidikan partikelir untuk anak Tionghoa di Afdeling Jambi berdiri pada tahun 1931. Terdapat tiga sekolah Tionghoa yang tersebar di Afdeling Jambi, yaitu di Kota Jambi, Muara Bungo, Muara Sabak, dan Kuala Tungkal. Pertama, pada tahun 1931 terdapat tiga buah sekolah Tionghoa bernama sekolah Tiong Hoa di Jambi. Sekolah Tiong Hoa di Jambi ini memiliki 10 orang guru, dengan jumlah murid sebanyak 293 murid. Kedua, pada tahun 1931 terdapat sebuah sekolah bernama Keumintang di Muara Bungo. Sekolah Keumintang ini memiliki dua orang guru, dengan jumlah murid sebanyak 31 orang murid.[2]: 68
Ketiga, pada tahun 1931 juga terdapat sekolah-sekolah Tionghoa yang ada di Muara Sabak dan Kuala Tungkal, tetapi sekolah ini telah lebih dulu ditutup. Hal tersebut karena adanya keterbatasan jumlah guru di daerah tersebut. Mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah Tionghoa tersebut terdiri dari membaca, menulis, berhitung dan banyak kegiatan olahraga.[3]: 149
Sekolah Kejuruan
Di Afdeling Jambi terdapat sekolah kejuruan yang berdiri pada 1939-1942. Sekolah kejuruan merupakan bentuk dari sekolah pertukangan yang terletak di Jambi. Sekolah kejuruan atau Ambacht School Voor Inlanders (ASVI) yang ada di Jambi merupakan sekolah tukang, yang terdiri dari tukang kayu dan tukang besi. Lama pendidikan untuk tukang kayu yaitu dua tahun, sedangkan untuk tukang besi lama pendidikannya satu tahun.[2]: 69-70
Selain itu, pada 1939-1942 di Afdeling Jambi terdapat sekolah kejuruan yang berupa sekolah-sekolah dagang kecil khusus pertanian yang terletak di Jambi dan Sarolangun. Guru-gurunya yaitu Abbas Usman, R. Jauhari dan Moh. Zen. Selain itu, terdapat pula sekolah kejuruan Cursus Volkes Onderwijs (C.V.O.) yaitu sekolah kejuruan untuk kursus guru-guru negeri yang ada di Sarolangun dan Kota Jambi. Gurunya antara lain, bernama Yusuf dan Ibrahim untuk di Sarolangun, sedangkan untuk CV.O. yang berada di Jambi dipimpin oleh seorang guru bernama M Nuh. Namun, di Afdeling Jambi tidak ditemukan sekolah kejuruan wanita. Hal ini karena orang-orang Jambi yang masih bersifat ortodoks, konservatif, dan kukuh untuk tidak memasukkan anak gadisnya ke sekolah campuran. Hal ini dapat terlihat dari sebagian gadis-gadis yang ada di sekolah Belanda berasal dari daerah pendatang seperti Palembang dan Padang atau bukan asli putri dari Afdeling Jambi.[3]: 147
Selain itu, terdapat sekolah kejuruan yang ada di Muara Bungo dengan nama K.G.C (Kursus Guru C) pemimpinnya bernama Usman. Sekolah kejuruan yang ada di Muara Tebo dipimpin oleh Ibrahim, dan sekolah kejuruan di Sarolangun dipimpin oleh seorang pemimpin bernama M. Taher. Di Afdeling Jambi untuk memperoleh sekolah lainnya seperti sekolah Normaalschool, Ambacht School Voor Inlander (ASVI), dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) anak-anak harus melanjutkan pelajaran ke Palembang, Padang, Bukittinggi, dan Jakarta.[2]: 70
Catatan kaki
- ↑ Turutan merupakan dasar untuk membaca Al-Qur'an sampai tamat
- ↑ Mutholaah adalah memperluas dan mempelajari salah satu kitab dengan memperdalam ilmu agamanya. Sehingga, pada umumnya murid maupun santri betul-betul menguasai ilmu agama Islam.
- ↑ Bedongan ialah kelompok santri yang biasa membahas permasalahan baik yang diberikan oleh kiai, ustad, atau guru maupun yang benar-benar terjadi dalam masyarakat dipimpin oleh seorang santri dengan bimbingan dan pengamatan pengasuh.
- ↑ Sorongan ialah membaca kitab yang kemudian diikuti oleh para santri dengan pendidikan dan pengajaran yang dipandu oleh guru atau kiai. Selanjutnya santri membaca kitab di hadapan guru atau kiai dan mengamati dengan seksama.
- ↑ Wetonan ialah pembacaan satu atau beberapa kitab oleh seorang kyai, ustaz atau guru dengan memberikan kesempatan kepada santri untuk menyampaikan pertanyaan atau meminta penjelasan lebih lanjut.
Referensi
- ↑ Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya (1979). Sejarah Nasional Kebangkitan Daerah Jambi. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Hook Studio (2023). Utomo, Ilham (ed.). Polarisasi Pendidikan di Jambi Masa Kolonial. Pemalang: Dramaturgi. ISBN 9786238838257. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 4 5 6 7 Tiderman; Sigar (1938). "Djambi". digitalcollections.universiteitleiden.nl (dalam bahasa Belanda). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-08-08. Diakses tanggal 2025-09-30.
Artikel bertopik pendidikan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |