Pendidikan alternatifPendidikan alternatif tanpa memandang usia di Thailand.
Pendidikan alternatif adalah filosofi pendidikan yang bertentangan dengan pedagogi arus utama dan pendekatan pendidikan berbasis bukti. Pendidikan alternatif memberikan fleksibilitas dalam penerapan metode, penyusunan kurikulum, dan pencapaian hasil belajar, sehingga dapat disesuaikan dengan latar sejarah serta konteks sosial dan budaya yang melingkupinya.[1] Lingkungan belajar alternatif semacam ini dapat ditemukan di sekolah negeri, sekolah charter, sekolah independen, maupun dalam bentuk pembelajaran berbasis rumah. Banyak pendidikan alternatif menekankan ukuran kelas yang kecil, hubungan yang erat antara siswa dan guru, serta terciptanya rasa kebersamaan dalam komunitas belajar.
Kerangka hukum yang mengatur pendidikan alternatif berbeda-beda di setiap wilayah dan menentukan sejauh mana lembaga pendidikan tersebut harus menyesuaikan diri dengan standar ujian dan penilaian arus utama.
Pendekatan pedagogis alternatif dapat mencakup berbagai struktur dan metode. Misalnya, penerapan ruang kelas terbuka, hubungan yang lebih setara antara guru dan siswa seperti di sekolah Quaker dan sekolah bebas, serta perbedaan kurikulum dan metode pengajaran seperti di sekolah Waldorf dan Montessori.[2] Istilah lain yang sering digunakan sebagai sinonim dari “alternatif” dalam konteks ini antara lain “nontradisional” dan “nankonvensional”. Para pendidik alternatif juga kerap menggunakan istilah seperti “holistik” untuk menggambarkan pendekatan mereka terhadap proses pendidikan.[3]