Penaklukan Hamadzan (Hamadan) Kali Kedua (Tahun 22 H), merupakan rangkaian penaklukan persia oleh muslimin, yang terjadi pada gelombang ke-empat setelah jatuhnya ibukota Persia, Mada'in (Ctesiphon) di masa Khalifah Umar bin Khathab. Setelah orang-orang Islam selesai dari pertempuran Nahawand, mereka kemudian menaklukkan Hilwan dan Hamdzan. Akan tetapi, penduduk Hamdzan (Hamadzan) melanggar perjanjian damai yang telah mereka sepakati bersama Qa'qa' binAmr. Ketika Umar mengetahui hal ini, ia menulis surat kepada Na'im bin Muqrin agar menuju ke Hamdzan. Na'im bin Muqrin kemudian menuju Hamdzan dan di sana ia mengepung kota tersebut. Setelah itu, penduduk kota tersebut bersedia melakukan perjanjian damai dengan orang-orang Islam.[1]
Peta Penaklukan Persia.
Ketika ia berada di Hamdzan bersama pasukan sebanyak 12.000 tentara, tiba-tiba penduduk Dailam, Ray, dan Adzarbaijan bersatu untuk memerangi pasukan Na'im bin Muqrin dan pasukannya kemudian bertemu dengan pasukan Persia di Waj Ar-Ruwadz. Pasukan dari kedua belah pihak terlibat pertempuran yang sengit di wilayah ini. Pertempuran ini sangat dahsyat, tetapi tidak sedahsyat pertempuran Nahawand. Orang-orang Islam berhasil membunuh orang Persia dalam jumlah yang sangat besar. Raja Dailam terbunuh dan pasukan mereka porak poranda karena mengalami kekalahan.
Na'im bin Muqrin adalah orang yang pertama kali bertempur melawan orang-orang Dailam. Ketika ia memberi tahu Umar akan persiapan orang-orang Dailam dalam pertempuran di Hamdzan ini, Umar sangat sedih.
Kemudian, ada seorang pegawai pos yang datang kepadanya dengan membawa kabar gembira.
Ia berkata, "Apakah kamu adalah Basyir?"
"Bukan. Saya adalah 'Urwah."
Umar bertanya, "Apakah kamu utusan dari Na'im dan Samak bin Ubaid?" Ia menjawab,
"Saya adalah utusan Na'im."
Umar bertanya lagi kepadanya, "Berita apa yang kamu bawa?"
Ia menjawab, "Berita gembira tentang penaklukan dan kemenangan pasukan Islam."
Ketika Umar mendengar berita tersebut, ia bersyukur kepada Allah dan memerintahkan seseorang untuk membaca surat tersebut. Orang-orang yang mendengar berita ini mengucapkan rasa syukur ke hadirat Allah. Samak bin Mukhrimah, Samak bin Ubaid, dan Samak bin Kharsyah serta rombongan Kufah kemudian memberikan seperlima harta rampasan.
Masing-masing orang yang namanya Samak menyebutkan masing-masing nasabnya. Umar kemudian berdoa, "Semoga Allah memberkahi kalian dan semoga ketiga Samak menolong Islam dan pasukannya."[1]