Riwayat Alkitab
Menurut kajian-kajian kesarjanaan modern, pembuangan Asyur bermula kira-kira pada tahun 732 Pramasehi.[1]
Maka Allah Israel menggerakkan hati Pul, yakni Tilgat-Pilneser, raja Asyur, lalu raja itu mengangkut mereka ke dalam pembuangan, yaitu orang Ruben, orang Gad dan setengah suku Manasye. Ia membawa mereka ke Halah, Habor, Hara dan sungai negeri Gozan; demikianlah mereka ada di sana sampai hari ini. (1 Tawarikh 5:26)
Dalam zaman Pekah, raja Israel, datanglah Tiglat-Pileser, raja Asyur; direbutnyalah Iyon, Abel-Bet-Maakha, Yanoah, Kedesy dan Hazor, Gilead dan Galilea, seluruh tanah Naftali, lalu diangkutnyalah penduduknya ke Asyur ke dalam pembuangan. (2 Raja–Raja 15:29)
Pada tahun 722 Pramasehi, kira-kira sepuluh tahun sesudah deportasi dimulai, Samaria, ibu kota Kerajaan Israel, akhirnya jatuh ke tangan Raja Sargon II, sesudah tiga tahun lamanya dikungkung pengepungan yang diprakarsai Raja Salmaneser V.
Salmaneser, raja Asyur maju melawan dia; Hosea takluk kepadanya serta membayar upeti. Namun, kedapatanlah oleh raja Asyur, bahwa di pihak Hosea ada persepakatan, karena Hosea telah mengirimkan utusan-utusan kepada So, raja Mesir, dan tidak mempersembahkan lagi upeti kepada raja Asyur, seperti biasanya tahun demi tahun; sebab itu raja Asyur menangkap dia dan membelenggu dia dalam penjara. Kemudian majulah raja Asyur menjelajah seluruh negeri itu, ia menyerang Samaria dan mengepungnya tiga tahun lamanya. Dalam tahun kesembilan zaman Hosea maka raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur ke dalam pembuangan dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai. (2 Raja–Raja 17:3–6)
Raja Asyur mengangkut orang Israel ke dalam pembuangan ke Asyur dan menempatkan mereka di Halah, pada sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai, oleh karena mereka tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan melanggar perjanjian-Nya, yakni segala yang diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN; mereka tidak mau mendengarkannya dan tidak mau melakukannya. (2 Raja–Raja 18:11–12)
Mungkin saja istilah "kota-kota orang Madai" adalah galat dalam penyalinan frasa "gunung-gunung negeri Madai" dari teks asli.[2][3]
Ketika Asa mendengar perkataan nubuat yang diucapkan oleh nabi Azarya bin Oded itu, ia menguatkan hatinya dan menyingkirkan dewa-dewa kejijikan dari seluruh tanah Yehuda dan Benyamin dan dari kota-kota yang direbutnya di pegunungan Efraim. Ia membaharui mezbah TUHAN yang ada di depan balai Bait Suci TUHAN. Ia mengumpulkan seluruh Yehuda dan Benyamin dan orang-orang Efraim, Manasye dan Simeon yang tinggal di antara mereka sebagai orang asing. Sebab dari Israel banyak yang menyeberang memihak kepadanya ketika mereka melihat bahwa TUHAN, Allahnya, beserta dengan dia. Mereka berkumpul di Yerusalem pada bulan ketiga tahun kelima belas dari pemerintahan Asa. (2 Tawarikh 15:8–10)
Banyak warga sipil Israel yang tewas dalam invasi, bayi-bayi diremukkan dan perempuan-perempuan hamil dibelah perutnya (Hosea 13:16).[4] Perlakuan serupa juga terjadi dalam perang-perang penaklukan Asyur selanjutnya, misalnya dalam perang penaklukan Elam.[5]
Menurut bab ke-30 Kitab Tawarikh II, setidaknya ada sebagian masyarakat Kerajaan Israel Utara yang tidak diangkut ke pembuangan. Mereka diundang oleh Raja Hizkia untuk merayakan Paskah dalam sebuah perhelatan di Yerusalem bersama masyarakat Yehuda (perayaan tersebut diundur sebulan dari tanggal hari rayanya). Raja Hizkia mengutus para caraka untuk mewartakan maklumatnya kepada sisa-sisa rakyat kerajaan utara; para caraka malah dicemooh warga saat mewartakan maklumat raja di daerah bani Efraim, bani Manasye, dan bani Zebulon. Meskipun demikan, beberapa orang dari bani Asyer, bani Manasye, dan bani Zebulon merendahkan diri dan datang ke Yerusalem. Pada bagian akhir bab tersebut dikatakan bahwa bahkan orang-orang dari bani Isakhar dan orang-orang asing "yang datang dari tanah Israel" pun turut merayakan Paskah. Sarjana-sarjana Alkitab seperti Umberto Cassuto dan Elia Samuele Artom berpendapat bahwa mungkin saja Hizkia sudah menganeksasi daerah-daerah yang ditinggali sisa-sisa rakyat Kerajaan Israel ke dalam wilayah Kerajaan Yehuda.
Kemudian Hizkia mengirim pesan kepada seluruh Israel dan Yehuda, bahkan menulis surat kepada Efraim dan Manasye supaya mereka datang merayakan Paskah bagi TUHAN, Allah orang Israel, di rumah TUHAN di Yerusalem. (2 Tawarikh 30:1)
Mereka memutuskan untuk menyiarkan maklumat di seluruh Israel, dari Bersyeba sampai Dan, supaya masing-masing datang ke Yerusalem merayakan Paskah bagi TUHAN, Allah Israel, karena mereka belum merayakannya secara umum seperti yang ada tertulis.
Maka berangkatlah pesuruh-pesuruh cepat ke seluruh Israel dan Yehuda membawa surat dari raja dan para pemimpin, dan mengatakan sesuai dengan perintah raja: "Hai, orang Israel, kembalilah kepada TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, maka Ia akan kembali kepada yang tertinggal dari pada kamu, yakni mereka yang terluput dari tangan raja-raja Asyur. Janganlah berlaku seperti nenek moyangmu dan saudara-saudaramu yang berubah setia terhadap TUHAN, Allah nenek moyang mereka, sehingga Ia membuat mereka menjadi kedahsyatan seperti yang kamu lihat sendiri.
Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN, Allahmu, supaya murka-Nya yang menyala-nyala undur dari padamu.
Karena bilamana kamu kembali kepada TUHAN, maka saudara-saudaramu dan anak-anakmu akan mendapat belas kasihan dari orang-orang yang menawan mereka, sehingga mereka kembali ke negeri ini. Sebab TUHAN, Allahmu, pengasih dan penyayang: Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya!" (2 Tawarikh 30:5–9)
Ketika pesuruh-pesuruh cepat itu pergi dari kota ke kota, melintasi tanah Efraim dan Manasye sampai ke Zebulon, mereka ditertawakan dan diolok-olok. Namun beberapa orang dari Asyer, Manasye dan Zebulon merendahkan diri, dan datang ke Yerusalem. (2 Tawarikh 30:10–11)
Sebab sebagian besar dari rakyat terutama dari Efraim, Manasye, Isakhar dan Zebulon tidak mentahirkan diri. Namun mereka memakan Paskah, walaupun tidak sesuai dengan apa yang ada tertulis. Namun, Hizkia berdoa untuk mereka, katanya: "TUHAN, yang baik itu, kiranya mengadakan pendamaian ... (2 Tawarikh 30:18)
Seluruh jemaah Yehuda bersukaria, juga para imam dan orang-orang Lewi, dan seluruh jemaah yang datang dari Israel, serta orang-orang asing, baik yang datang dari tanah Israel, maupun yang tinggal di Yehuda. Maka besarlah kesukaan di Yerusalem, karena sejak Salomo bin Daud, raja Israel, tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu di Yerusalem. (2 Tawarikh 30:25–26)
Di dalam bab ke-31 Kitab Tawarikh II, dikatakan bahwa sisa-sisa rakyat Kerajaan Israel pulang ke rumah-rumah mereka, tetapi terlebih dahulu menghancurkan tempat-tempat pemujaan Ba'al dan Asyera yang masih ada di "seluruh Yehuda dan Benyamin, juga di Efraim dan Manasye".
Setelah semuanya ini diakhiri, seluruh orang Israel yang hadir pergi ke kota-kota di Yehuda, lalu meremukkan segala tugu berhala, menghancurkan segala tiang berhala, dan merobohkan segala bukit pengorbanan dan mezbah di seluruh Yehuda dan Benyamin, juga di Efraim dan Manasye, sampai musnah semuanya. Kemudian pulanglah seluruh orang Israel ke kota-kotanya, ke miliknya masing-masing. (2 Tawarikh 31:1)
Catatan aksara baji Asyur
Tawarikh Babel ABC1 menyebutkan bahwa Raja Salmaneser V menaklukkan Samaria, sama seperti yang disebutkan di dalam Alkitab.[6] Catatan aksara baji Asyur juga menyebutkan bahwa Raja Sargon II membawa 27.290 orang tawanan dari Samaria,[7] ibu kota Samerina, provinsi baru yang dibentuk Asyur.
Sargon meriwayatkan kampanye militer perdananya pada permukaan dinding istana kerajaan di Dur-Syarukin (Khorsabad) sebagai berikut:
Pada tahun pertama aku bertakhta *** orang-orang Samaria *** sampai 27.290 orang banyaknya ... kubawa serta.
Lima puluh kereta untuk mengangkut lima puluh alat kebesaranku aku pilihkan. Kota itu kubangun kembali. Kubuat lebih besar daripada sebelumnya.
Rakyat negeri-negeri taklukkanku aku mukimkan di situ. Pegawaiku (Tartan) kuangkat menjadi pemimpin atas mereka selaku wali negeri. (L.ii.4.)[7]
Uraian tentang kekalahan telak Kerajaan Israel Utara di atas tampaknya cuma peritiwa kecil di dalam warisan sejarah Sargon. Beberapa sejarawan menisbatkan kekalahan mudah Israel kepada invasi-invasi, kekalahan-kekalahan, dan deportasi-deportasi yang sudah terjadi dalam dua dasawarsa sebelumnya.
Menurut beberapa perkiraan, jumlah rakyat Kerajaan Israel yang menjadi tawanan Asyur berjumlah ratusan ribu orang, dikurangi orang-orang yang gugur dalam perjuangan membela kerajaan itu, dan orang-orang yang kabur atas keinginan sendiri baik sebelum maupun pada saat invasi terjadi.[8] Menurut perkiraan lain, jumlah orang Israel yang dideportasi Asyur tidaklah seberapa banyak, dan sebagian besar populasi masih tetap berada in situ.[9] Ada bukti yang yang menunjukkan bahwa rakyat Kerajaan Israel dalam jumlah yang cukup signifikan melarikan diri ke wilayah Kerajaan Yehuda di selatan. Dari sudut pandang arkeologi, diketahui bahwa invasi tersebut disertai kehancuran dan penelataran berskala besar di banyak situs.[10] Ada pula beberapa peninggalan tertulis dalam aksara baji yang mendokumentasikan kehadiran orang Israel di Asyur sesudah deportasi-deportasi dilaksanakan.[11]
Kepulangan
Tidak seperti rakyat Kerajaan Yehuda, yang diizinkan pulang dari pembuangan Babel, sepuluh suku Kerajaan Utara tidak pernah menerima maklumat pihak asing yang mengizinkan mereka untuk pulang dan membangun kembali negeri asal mereka. Berabad-abad kemudian, rabi-rabi di Kerajaan Yehuda yang sudah dipulihkan masih terus memperdebatkan ihwal kepulangan sepuluh suku terhilang.[12][13]
Menurut ayat ke-3 dari bab ke-9 Kitab Tawarikh I, orang-orang Israel yang ikut pulang ke Sion berasal dari bani Yehuda beserta bani Simeon yang sudah melebur ke dalam bani Yehuda, bani Benyamin, dan bani Lewi (orang Lewi dan para imam), bersama-sama dengan bani Efraim dan bani Manasye, dua suku yang ikut diangkut ke Asyur menurut bab ke-17 Kitab Raja-Raja II (menurut dua sarjana Alkitab, Umberto Cassuto dan Elia Samuele Artom, penyebutan nama kedua suku itu merupakan rujukan kepada sisa-sisa dari sepuluh suku yang tidak ikut diangkut ke pembuangan dan sudah melebur ke dalam populasi Yehuda).[14]
Di Yerusalem tinggal orang-orang dari bani Yehuda, dari bani Benyamin, dari bani Efraim dan Manasye. (1 Tawarikh 9:3)
Meskipun demikian, ayat ke-3 dari bab ke-11 Kitab Nehemia menyifatkan sekelompok orang dengan sebutan "Israel awam", yang dikatakan menetap di kota-kota Yehuda. Kelompok "Israel awam" ini terdiri atas orang-orang dari perbagai suku Israel yang sudah bercampur-baur melalui perkawinan. Sebagai tandingannya, bani Yehuda dan bani Benyamin dikatakan menetap di Yerusalem.[15]