Pelabuhan Donggala adalah sebuah pelabuhan di Kabupaten Donggala yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-19 M.[1] Pada masa awal pendirian dan penggunaannya oleh Belanda, Pelabuhan Donggala digunakan sebagai pelabuhan perdagangan.[2]Perusahaan Hindia Timur Belanda yang mengelola Pelabuhan Donggala menjadikannya salah satu jalur khusus bagi Koninklijke Paketvaart Maatschappij.[3] Pada masa Pemerintah Indonesia, Pelabuhan Donggala berstatus sebagai pelabuhan pengumpul untuk barang ekspor.[4][5] Pelabuhan Donggala memiliki dermaga, gudang dan dan lapangan penampungan.[6]
Pembangunan
Lokasi Pelabuhan Donggala di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Pelabuhan Donggala dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-19 Masehi. Tujuan pembangunannya sebagai pelabuhan bongkar muat barang dan sebagai jalur masuk ke Donggala dari jalur laut.[1]
Pemanfaatan
Masa Pemerintah Hindia Belanda
Pelabuhan Donggala berfungsi sebagai pelabuhan laut di kawasan Pulau Sulawesi.[7] Pada masa awal pendirian dan penggunaannya oleh Belanda, Pelabuhan Donggala digunakan sebagai pelabuhan perdagangan. Hasil bumi seperti kopra dan kayu cendana dari wilayah Sulawesi Tengah dikumpulkan di Pelabuhan Donggala untuk diangkut ke Pelabuhan Makassar. Dari Pelabuhan Makassar, kopra dan kayu cendana diangkut ke Belanda.[2]
Perusahaan Hindia Timur Belanda yang mengelola Pelabuhan Donggala menjadikannya salah satu jalur khusus bagi Koninklijke Paketvaart Maatschappij yang disebut Jalur 14.[3] Pelabuhan Donggala disinggahi oleh kapal-kapal milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij setiap dua minggu sekali sebagai penghubung dengan Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Manado.[8]
Pada tahun 1905 M, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yaitu Willem Rooseboom di Batavia menetapkan Pelabuhan Donggala sebagai pelabuhan perdagangan sekaligus pelabuhan penumpang.[2] Kemudian pada tahun 1918, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan bahwa Pelabuhan Donggal tidak lagi digunakan untuk kegiatan ekspor kopra. Ketetapan ini berdasarkan anggapan Pemerintah Hindia Belanda yang menganggap kegiatan ekspor di Pelabuhan Donggala bersifat mengurangi hak Koninklijke Paketvaart Maatschappij dalam pengeksporan kopra. Anggapan munculnya pengurangan hak Koninklijke Paketvaart Maatschappij atas Pelabuhan Donggala muncul karena kapal-kapal dari perusahaan asal Denmark yang bernama Noorsche juga mengadakan pengangkutan kopra sebanyak lima hingga enam kali dalam setahun di Pelabuhan Donggala.[9]
Masa Pemerintah Indonesia
Pada masa Pemerintah Indonesia, Pelabuhan Donggala berstatus sebagai pelabuhan pengumpul.[4] Pelabuhan Donggala dijadkan sebagai pelabuhan ekspor. Pelabuhan Donggala mengekspor barang-barang dari kawasan pantai bagian barat Provinsi Sulawesi Tengah.[5] Pada tahun 1983, Pemerintah Indonesia menjadikan Pelabuhan Donggala sebagai salah satu pelabuhan perdagangan antarpulau dan luar negeri.[10]
Fasilitas
Dermaga
Pelabuhan Donggala memiliki dermaga dengan ukuran 100 × 8 m2.[6] Dermaga di Pelabuhan Donggala memiliki kapasitas pengangkutan mencapai hingga seberat 1.000 tonase bobot mati.[4]
Gudang dan lapangan penampungan
Pelabuhan Donggala memiliki gudang penampungan seluas 1.900 m2 dan lapangan penampungan seluas 3.000 m2.[6] Gudang penampungan di Pelabuhan Donggala awalnya dibangun sebagai tempat penampung hasil bumi berupa kopra dan cengkih. Pengumpulan kopra dan cengkih di Pelabuhan Donggala berasal dari para petani dan pedagang di wilayah Sulawesi Tengah. Gudang penampungan di Pelabuhan Donggala hanya digunakan selama dasawarsa 1960-an hingga dasawarsa 1970-an. Seduah dasawarsa 1970-an, beberapa gudang penampungan di Pelabuhan Donggala menjadi terbengkalai karena tingkat perdagangan kopra dan cengkih di Sulawesi Tengah mengalami penurunan.[2]
1234Rahman, A. J., dkk. (November 2013). Puthut E. A. (ed.). Ekspedisi Cengkeh(PDF). Makassar: Penerbit Ininnnawa. hlm.27. ISBN978-602-1963-67-8. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Jasmi, K., dkk. (Maret 2019). Iqbal S., Muhammad (ed.). Sulawesi Tengah Bangkit!. Jakarta Timur: Badan Nasional Penanggulangan Bencana. hlm.47. ISBN978-602-7595-56-9.; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Lembaga Publikasi Pendidikan, Kebudayaan dan Pembangunan Indonesia (1978). Album Pembangunan Indonesia Masa Orde Baru. Jakarta: Lembaga Publikasi Pendidikan, Kebudayaan dan Pembangunan Indonesia. hlm.846. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)