Biografi
Pada tahun 1973, Somohardjo terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Suriname sebagai anggota Partai Nasional Suriname (NPS).[3] Selama negosiasi untuk Kemerdekaan Suriname, ia bergabung dengan pihak oposisi bersama dengan dua anggota pemerintah lainnya,[4] karena mereka menganggap rencana kemerdekaan itu terlalu terburu-buru, dan menginginkan jalur yang lebih panjang.[5]
Pada tahun 1977, Somohardjo adalah salah satu pendiri partai Jawa Pendawa Lima.[3] Pada tahun 1980, terjadi kudeta di Suriname yang membawa Desi Bouterse berkuasa.[4] Pada tahun 1982, Somohardjo dipenjara karena dugaan keterlibatan dalam kudeta balasan oleh Surendre Rambocus yang kemudian diubah menjadi tahanan rumah. Pada tanggal 7 Desember 1982, ia mendapat izin untuk mengunjungi pemakaman neneknya, dan menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri ke Belanda.[6]
Pada tanggal 3 Desember 1984, Somohardjo berpartisipasi dalam program televisi Belanda Karel yang dipandu oleh Karel van de Graaf [nl]. Program tersebut merupakan diskusi yang menampilkan lawan-lawan Bouterse. Selama siaran langsung, Evert Tjon muncul dari antara penonton dan menyerang Somohardjo. Siaran kemudian menampilkan tanda "Mohon Tunggu" dan segera diakhiri. Setelah siaran, terjadi dua tembakan, dan satu orang terluka.[7][8][9]
Setelah perebutan kekuasaan internal, partai tersebut terpecah, dan pada Desember 1998, Somohardjo mendirikan Pertjajah Luhur (PL) dan menjadi Presiden partai tersebut.[3]
Pada tahun 2002, sebuah kompetisi Miss Jawa diselenggarakan.[10] Pada tahun 2003, saat menjabat sebagai Menteri Urusan Sosial, Somohardjo dituduh oleh salah satu kontestan melakukan perilaku tidak senonoh dan menyentuhnya.[11] Ia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut karena kurangnya bukti, tetapi menerima hukuman percobaan dua bulan karena berada di ruang ganti dan tidak pergi setelah diminta.[12][13] On 20 Februari 2003, he resigned as Minister due to his conviction.[11]
Pada tanggal 30 Juni 2005, Somohardjo menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional Suriname, dan beliau bertugas hingga Juni 2010.[14] Pada tanggal 13 Desember 2007 setelah pertengkaran sengit, Rashied Doekhi menyerang Somohardjo. Ronnie Brunswijk ikut campur dalam pertikaian tersebut. Setelah Doekhi terjatuh, Somohardjo dan Brunswijk menendangnya. Seluruh kejadian tersebut disiarkan langsung di televisi dan menyebabkan aib internasional.[15][16]
Pada tahun 2020, Somhardjo gagal terpilih kembali menjadi anggota Majelis Nasional.[17] Dia adalah anggota parlemen tertua di Majelis Nasional dari tahun 2016 hingga 2020.[18] Pada tanggal 1 Juli, Paul Somohardjo, ketua Pertjajah Luhur dan mitra koalisi pemerintahan baru didiagnosis positif COVID-19. Ia dibawa ke Rumah Sakit Akademik Paramaribo pada malam tanggal 30 Juni.[19] Pada tanggal 3 Juli, ia dipulangkan dari rumah sakit dalam kondisi stabil.[20]