Pada 2024, PPP menjadi salah satu pendiri Koalisi Rakyat untuk Reformasi bersama Partai Reformasi, Partai Demokratik Progresif, dan Suara Rakyat, namun kemudian meninggalkan koalisi karena perbedaan strategi. Pada pemilihan umum Singapura 2025, mereka berkontestasi di dua GRC, yakni Ang Mo Kio dan Tampines, namun berujung kalah besar dan kehilangan sebanyak SG$135,000 di deposit elektoral karena mereka tidak menyentuh treshold sebesar 12,5%. Mereka dikenal karena sikap anti-vaksin mereka selama pandemi COVID-19 dan retorika anti-LGBTQ selama pemilihan umum 2025. Goh telah menjabat sebagai pemimpin PPP sejak didirikan. PPP telah dikarakterisasi sebagai "partai nyamuk", istilah lokal yang digunakan untuk menggambarkan partai politik yang tidak penting di Singapura yang kurang mendapat dukungan publik yang berarti, dengan kandidat dan anggotanya seringkali menjadi bahan ejekan daripada pertimbangan serius dari para pemilih.[1][2]