Artikel ini berisi tentang wahana pengorbit heliofisika in-situ milik NASA. Untuk wahana pengorbit heliofisika in-situ milik Badan Antariksa Eropa, lihat Solar Orbiter.
Solar Wind Electrons Alphas and Protons Investigation
SPC
Solar Probe Cup
SPAN
Solar Probe Analyzers
WISPR
Wide-field Imager for Solar Probe
FIELDS
Electromagnetic Fields Investigation
ISIS‒EPI
Integrated Science Investigation of the Sun Energetic Particle Instruments
Official insignia for the Parker Solar Probe mission
Parker Solar Probe (sebelumnya Solar Probe dan Solar Probe Plus, atau Solar Probe+) adalah pesawat ruang angkasa NASA yang direncanakan untuk menyelidiki korona luar Matahari.[2][3] Ini akan mendekati radius 8.5 surya (5,9 juta kilometer atau 3,67 juta mil) ke 'permukaan' fotosfer Matahari.[4] Proyek ini diumumkan sebagai awal misi baru pada tahun fiskal 2009 anggaran. Pada tanggal 1 Mei 2008, Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins mengumumkan akan merancang dan membangun wahana antariksa, sesuai jadwal untuk diluncurkan pada tahun 2015..[5] Tanggal peluncurannya telah didorong kembali ke 2018,[6] dengan Delta IV Heavy sebagai kendaraan peluncuran.[1] Pada 31 Mei 2017 probe berganti nama setelah astrofisikawan surya Eugene Parker.[2][7] Menurut NASA, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah sebuah kapal luar angkasa diberi nama menurut orang yang hidup.[8]
Sejarah
Parker Solar Probe berasal dari proyek Solar Orbiter pendahulu yang disusun pada 1990-an. Serupa dalam desain dan sasaran, misi Solar Probe berfungsi sebagai salah satu pusat dari program Outer Planet / Solar Probe (OPSP) yang diformulasikan oleh NASA. Tiga misi pertama dari program tersebut direncanakan menjadi Solar Orbiter, misi pengintaian Pluto bernama Pluto Kuiper Express, serta misi astrobiologi Europa Orbiter yang berfokus pada bulan Europa.[9][10] Setelah pengangkatan Sean O'Keefe sebagai Administrator NASA, seluruh program OPSP dibatalkan akibat pengajuan anggaran federal Amerika Serikat tahun 2003 oleh Presiden George W. Bush.[11] Administrator O'Keefe mengutip sebuah kebutuhan untuk restrukturisasi NASA dan proyek-proyeknya, sesuai dengan keinginan Bush Administration agar NASA dapat kembali fokus pada "penelitian dan pengembangan, dan mengatasi kekurangan manajemen." [11]
Pembatalan program tersebut juga mengakibatkan pembatalan awal New Horizons, misi yang memenangkan kompetisi untuk menggantikan Pluto Kuiper Express dalam program OPSP sebelumnya.[12] Misi tersebut, yang pada akhirnya akan diluncurkan sebagai misi pertama program New Frontiers, penerus spiritual program OPSP, akan menjalani pertempuran politik yang panjang untuk mendapatkan dana untuk peluncurannya, yang terjadi pada tahun 2006. Rencana untuk misi Solar Probe nantinya akan terwujud sebagai Solar Probe Plus di awal tahun 2010.[13]
Misi dan Lintasan
Ukuran Matahari tampak seperti yang terlihat dari orbit Parker Solar Probe dibandingkan dengan ukurannya yang terlihat dari Bumi.
Desain misi Parker Solar Probe menggunakan bantuan gravitasi Venus secara berulang untuk menurunkan perihelion orbitnya secara bertahap. Hal ini bertujuan agar wahana dapat melakukan beberapa kali pendekatan dekat ke Matahari pada jarak sekitar 8,5 radius surya, atau sekitar 6.000.000 km (3.700.000 mil).[14]
Misi ini dirancang untuk bertahan dalam lingkungan yang keras di dekat Matahari, di mana intensitas cahaya yang diterima sekitar 520 kali lipat dari intensitas di orbit Bumi, dengan memanfaatkan perisai pelindung Matahari. Perisai surya di bagian depan wahana antariksa ini terbuat dari komposit karbon-karbon yang diperkuat. Sistem wahana antariksa dan instrumen ilmiah terletak di dalam bayangan umbra perisai, di mana cahaya langsung dari Matahari terblokir sepenuhnya. Sumber daya utama untuk misi tersebut menggunakan sistem ganda dari panel fotovoltaik (panel surya). Array fotovoltaik utama, yang digunakan untuk bagian misi di luar 0,25 AU, ditarik kembali di balik perisai pelindung selama pendekatan dekat ke Matahari, sementara array sekunder yang jauh lebih kecil memasok daya pada wahana antariksa melalui pendekatan terdekat. Array sekunder ini menggunakan pendinginan fluida pompa untuk mempertahankan suhu operasi.[15]
Saat wahana melintas di dekat Matahari, kecepatannya akan mencapai hingga 200 km/s (120 mil/s). Hal ini menjadikannya sebagai objek buatan manusia tercepat dalam sejarah untuk ukuran apa pun, hampir tiga kali lebih cepat dibandingkan pemegang rekor sebelumnya, Helios 2.[16][17][18]
↑M. Buckley (Mei 1, 2008). "NASA Calls on APL to Send a Probe to the Sun". Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory. Diarsipkan dari asli tanggal November 20, 2010. Diakses tanggal September 30, 2010.