Pangeran Sido Ing Reje atau Pangeran Sido Ing Rejek dan Pangeran Sido Ing Rajek adalah salah satu penguasa Palembang pada masa akhir Kerajaan Palembang sebelum berkembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam. Ia juga dikenal dengan gelar Jamaluddin Mangkurat VI atau Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI. Sejumlah sumber menyebut masa pemerintahannya berlangsung sekitar tahun 1651/1652 hingga 1659.[1][2]
Dalam riwayat Palembang, Pangeran Sido Ing Reje disebut menggantikan Pangeran Sido Ing Pasarean. Pada masa pemerintahannya, hubungan Palembang dengan VOC mengalami ketegangan yang kemudian berkembang menjadi konflik terbuka. Serangan VOC pada tahun 1659 menyebabkan Keraton Kuto Gawang terbakar. Setelah peristiwa tersebut, Pangeran Sido Ing Reje menyingkir ke wilayah Sakatiga, yang kini berada di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dan dimakamkan di daerah tersebut.[3][4]
Nama dan gelar
Nama tokoh ini ditulis dengan beberapa variasi dalam sumber-sumber sejarah dan pemberitaan, antara lain Pangeran Sido Ing Reje, Pangeran Sido Ing Rejek, Pangeran Sedo Ing Rejek, dan Pangeran Sido Ing Rajek. Sumber Keraton Kesultanan Palembang Darussalam menuliskannya sebagai Pangeran Sedo Ing Rejek Jamaluddin Mangkurat VI, sedangkan makalah Universitas Sriwijaya menggunakan bentuk Pangeran Sido Ing Rajek.[5][6]
Pemerintahan
Pangeran Sido Ing Reje memerintah Palembang pada pertengahan abad ke-17. Dalam catatan Keraton Kesultanan Palembang Darussalam, ia disebut memerintah pada tahun 1652–1659 setelah Pangeran Sedo Ing Pesarean Jamaluddin Mangkurat V.[7] Sumber lain dari Universitas Sriwijaya menyebut bahwa pemerintahan Pangeran Sido Ing Rajek berlangsung sekitar 1651–1659.[8]
Pada masa pemerintahannya, Palembang tetap menjadi salah satu pusat penting di kawasan Sumatra bagian selatan. Posisi Palembang di jalur perdagangan Sungai Musi membuat daerah ini berhubungan dengan berbagai kekuatan dagang, termasuk VOC. Pada masa Pangeran Sido Ing Rajek dimulai hubungan resmi dengan VOC, tetapi hubungan tersebut kemudian memburuk karena konflik perdagangan dan tindakan VOC di wilayah Palembang.[9]
Konflik dengan VOC
Konflik antara Palembang dan VOC mencapai puncaknya pada tahun 1659. Dalam beberapa sumber, peristiwa ini dikaitkan dengan serangan VOC yang menyebabkan Keraton Kuto Gawang dibakar. Sumber Keraton Palembang menyebut bahwa pada masa Pangeran Sido Ing Reje terjadi pertempuran pertama dengan Belanda pada tahun 1659 yang mengakibatkan Keraton Kuto Gawang hangus terbakar.[10]
Saat ketegangan perdagangan antara Palembang dan VOC meningkat, Batavia mengirim armada di bawah pimpinan Johan van der Lain pada tahun 1659. Pertempuran disebut terjadi di sekitar Muara Plaju dan Pulau Kemaro, sedangkan sistem pertahanan Palembang pada masa itu bertumpu pada Keraton Kuto Gawang serta sejumlah benteng di sekitar Sungai Musi dan Sungai Komering.[11]
Perpindahan ke Sakatiga
Setelah serangan VOC, Pangeran Sido Ing Reje disebut menyingkir ke Sakatiga. Sumber Keraton Palembang menyebut bahwa ia menyerahkan kepemimpinan kepada adiknya, Pangeran Kesumo Abdurrohim atau Kiai Mas Hindi, lalu mengungsi ke Saka Tiga sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di sana.[12]
Dalam pemberitaan Sumatera Ekspres, Desa Sakatiga disebut memiliki kaitan erat dengan kisah Pangeran Sido Ing Rejek. Setelah konflik dengan Belanda, ia disebut menyingkir ke Desa Sakatiga dan hingga akhir hayatnya berada di wilayah tersebut.[13]
Makam dan cagar budaya
Makam Pangeran Sido Ing Reje berada di Desa Sakatiga, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Makalah Universitas Sriwijaya menyebut makam tersebut sebagai salah satu situs sejarah di Palembang yang berpotensi dikembangkan sebagai objek wisata sejarah dan media pembelajaran sejarah lokal.[14]
Pada tahun 2025, RRI menyebut Makam Sido Ing Rejek sebagai salah satu struktur cagar budaya di Sumatera Selatan. Makam tersebut dilaporkan telah ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Kabupaten melalui Surat Keputusan Bupati Ogan Ilir Nomor 72/KEP/D.Dikbud/2024.[15]
Kajian mengenai jejak Kesultanan Palembang Darussalam di Ogan Ilir juga menempatkan Pangeran Sido Ing Rejek sebagai bagian dari memori sejarah lokal di kawasan tersebut. Ogan Ilir sebagai salah satu wilayah yang menyimpan cerita dan peninggalan terkait Kesultanan Palembang Darussalam, termasuk kisah Pangeran Sido Ing Rejek.[16]
Warisan sejarah
Pangeran Sido Ing Reje dikenang dalam sejarah lokal Palembang dan Ogan Ilir sebagai penguasa yang mengalami masa transisi penting menjelang lahirnya Kesultanan Palembang Darussalam. Peristiwa tahun 1659, termasuk runtuhnya Keraton Kuto Gawang akibat serangan VOC, menjadi salah satu bagian penting dalam perubahan politik Palembang pada abad ke-17. Setelah masa Pangeran Sido Ing Reje, kepemimpinan Palembang dilanjutkan oleh Kiai Mas Hindi atau Sultan Abdurrahman, yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh awal dalam pembentukan Kesultanan Palembang Darussalam.[17][18]
Nama Pangeran Sido Ing Rejek juga pernah muncul dalam wacana pengusulan tokoh sejarah Sumatera Selatan sebagai pahlawan nasional. Dalam pemberitaan BeritaPagi, pengamat sejarah Kota Palembang, Rd. Moh. Ikhsan, menyebut Pangeran Sido Ing Rejek layak diusulkan sebagai pahlawan karena perlawanannya terhadap Belanda dan VOC pada tahun 1659.[19]