Pangeran Kuning dari Sintang (1759-1857) adalah seorang pejuang Kalimantan Barat. Ayahnya adalah seorang mangkubumi di Kerajaan Sintang, dan lahir sebagai anak pertama dari 6 bersaudara. Perjuangannya bermula dari mundurnya ia dari birokrasi Kerajaan Sintang. Dilanjutkan dengan Perang Tebidah I pada 5 Oktober1856 sampai 1857. Pangeran Kuning meninggal pada tahun itu dan dimakamkan di Sedaga, Kayan Hulu. Perjuangan dilanjutkan selama 3 tahun oleh anaknya.
Pada tahun 1795, Sultan Abdurrasyid meninggal dan ia digantikan oleh Ade Noh yang bergelar Sultan Ahmad Qamaruddin menjadi raja atas Sintang.[2]
Pada Juli 1822, datanglah pasukan Belanda dengan senjata lengkap yang dipimpin oleh J.H. Tobias, komisaris West Kust van Borneo yang bermaksud mengamankan Kesultanan dari ancaman, utamanya dari luar. Maka, Sultan selaku wakil Kesultanan Sintang bertemu dengan Tobias. Dan hasil kesempatan itu adalah Belanda diperbolehkan tinggal di Sintang.[2]
Dan selanjutnya, Belanda meminta perluasan tanah di Tanjung Sari untuk membuat loji/benteng. Nyatanya, tanah yang diminta amatlah luas. Namun, Sultan menolak dan Belanda menjalankan siasat politik klasiknya, yakni devide et impera untuk memecah belah Kerajaan.[1] Mendengar hal ini, para pangeran datang dari daerah seperti Nanga Kayan datang. Mereka meminta lebih baik Sultan membatalkan rencana tersebut dan sebaiknya wilayah di Tanjung Sari itu dibangun bangunan yang Islami seperti masjid atau pesantren. Namun, Sultan menolak.[3]
Kemudian, Sultan menugaskan Pangeran Muda anak Pangeran Kuning agar memimpin wilayah Ketungau sebagai penjaga keamanan dan pemungut pajak penduduk guna kepentingan kerajaan Sintang. Pangeran Kuning tidak menyetujui kebijakan Sultan Ahmad Qamaruddin yang mau bekerja sama dengan Belanda. Tak lama kemudian, Sultan meninggal dunia.[2]
Setelahnya, Belanda membuat perjanjian 4 kali sepanjang 1823-1847. Barulah, pada 31 Maret1855, Belanda membuat perjanjian permanen untuk menguasai Kerajaan Sintang.[2]
Perlawanan baru muncul dari mangkubumi Pangeran Idris. Pangeran Kuning pun ikut memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pejabat di Kerajaan Sintang.[2] Mundurnya mereka dari birokrasi diikuti oleh sejumlah pejabat lain, seperti Pangeran Anom dan Pangeran Muda dan mereka mulai menyusun rencana di sepanjang hutan dan Sungai Kayan, tepatnya di Nanga Kayan.[1][2]
Perang meletus pada 5 Oktober1856. Belanda kemudian membujuk Pangeran Idris dengan perantaraan Raja Sintang, Pangeran Idris dam Pangeran Adipati diudang ke pertemuan ini, Belanda berlaku curang. Pangeran Idris ditangkap dan dibuang ke Karawang, Jawa Barat.[3]
Kemudian, Pangeran Abdurrasyid naik tahta. Ia ikut melawan Belanda bersama Pangeran Anom, Pangeran Muda, Muhammad Saleh, dan Nibung. Mereka bersama-sama menggempur benteng Belanda di Tanah Tanjung pada 11 November1856.[2] Barulah pada 1857, Pangeran Kuning meninggal dan perlawanan terus dilanjutkan anaknya selama 3 tahun yaitu Pangeran Muda. Mereka dimakamkan di Sedaga, Kayan Hulu.[1][2]
Penghormatan
Di Sintang, dibangun sebuah tugu bernama Tugu Pangeran Kuning. Dan disana pula, ada sebuah jalan yang menggunakan nama Jln. Pangeran Kuning, ia terletak di Kelurahan Tanjung Puri, Kabupaten Sintang.[4] Tugu ini sesuai dengan ciri-ciri Pangeran Kuning yang sesungguhnya, yaitu ia memiliki kulit yang berwarna kuning langsat.[5]
Pada 2010 kemarin, Bupati Sintang Milton Crosby mengatakan Pemkab Sintang tengah memperjuangkan Pangeran Kuning agar menjadi pahlawan nasional.[6] Akan tetapi, pengajuan terkendala oleh berkas-berkas dan pahlawan lain yang tengah diajukan adalah Oevaang Oeray.[6]