Pangeran Jaya Pamenang ini adalah putera dari Pangeran Perbata Sari yang kawin dengan Nyai Banjar, sedang Pangeran Perbata Sari adalah putera Sultan Sulaiman yang dilahirkan oleh Nyai Ratu Sepuh binti Kiai Adipati Singasari.[5]
Wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan tepi timur sungai Barito yaitu daerah sepanjang dari kecamatan Banjarmasin Utara sampai Kabupaten Tapin sekarang.[6]
Pada 11 Juni 1860, Kesultanan Banjar dihapuskan pemerintah Hindia Belanda dan tetap dilanjutkan pemerintahan regent yang berkedudukan masing-masing di Martapura (Pangeran Jaya Pemenang) dan di Amuntai (Raden Adipatie Danoe Radja). Adat istiadat sembah menyembah tetap berlaku hingga meninggalnya Pangeran Soeria Winata, Regent Martapura saat itu. Jabatan regent di daerah ini akhirnya dihapuskan pada tahun 1884.