Pang Laot Ali adalah salah satu pengikut sekaligus panglima (komandan lapangan) dalam kelompok gerilya Cut Nyak Dhien pada fase akhir Perang Aceh, terutama ketika pusat perlawanan bergerak di wilayah pedalaman Beutông Lhèë Sagoë (Beutong Tiga Sagi) pada awal abad ke-20. Dalam sejumlah narasi sejarah populer, ia dikenal karena perannya dalam peristiwa yang berujung pada tertangkapnya Cut Nyak Dhien pada 1905, setelah lokasi persembunyian kelompok gerilya tersebut diketahui pihak Belanda.[1][2][3]
Kedudukan dalam pasukan Cut Nyak Dhien
Sumber-sumber yang menyinggung namanya umumnya menyebut Pang Laot Ali sebagai panglima kepercayaan yang berada dekat dengan Cut Nyak Dhien dalam masa gerilya panjang setelah wafatnya Teuku Umar.[4][5][6][1][2][4]
Pang Laot Ali diceritakan memberi informasi kepada Belanda mengenai lokasi markas/persembunyian Cut Nyak Dhien di kawasan Beutong. Motif yang paling sering disebut adalah rasa iba terhadap kondisi Cut Nyak Dhien yang telah lanjut usia dan sakit, serta situasi logistik pasukan yang kian terdesak. Informasi tersebut kemudian memudahkan operasi penyergapan Belanda yang dipimpin perwira bernama Kapten Letnan van Vuuren dibawah Kolonne Veltman, yang membuat Cut Nyak Dhien kemudian tertangkap pada 4 November 1905.[1][7][8][9]