Keruing bunga (Dipterocarpus hasseltii) atau palahlar adalah sejenispohon yang termasuk suku Dipterocarpaceae (meranti-merantian). Menyebar luas di Semenanjung Malaya dan Indonesia bagian barat, nama-nama daerah pohon ini, di antaranya adalah palahlar (Sd.); plalar, klalar, jempinang (Jw.); pala (Bl.); lagan (Aceh, Sumsel); keruing tempudau (Klm.).[5]:333,[6]:1394,[7]:181 Jenis keruing ini menghasilkan kayu komersial yang cukup penting, dan juga resin atau minyak keruing.[6]:1394,[7]:181
Pengenalan
Pohon yang besar dan tinggi; hingga setinggi 45 m dan gemang batangnya hingga 150 cm garis tengahnya di bagian bawah; mengecil ke sebelah atas. Acap kali dengan akar papan (banir) yang memipih. Pepagan hijau abu-abu, tipis di bagian luar; pepagan bagian dalam kemerah-jambuan hingga cokelat-merah.[7]:181 Pepagan luar bersisik tidak teratur.[8]:61Kayu gubalnya berwarna kuning kecokelatan (oker atau hartal), dan kayu terasnya cokelat merah.[7]:181
Ranting-ranting sedikit menggepeng, lk. 4 × 2 mm di dekat ujungnya, hitam. Kuncup 20 × 5mm, melanset dan melengkung ke ujungnya, hitam jika mengering. Daun penumpu merah jambu, lanset memanjang seperti pita, lk. 12 × 1cm, di pucuknya agak melancip, meninggalkan lampang serupa cincin atau takik yang menggembung pada ranting.[9]:291–2,307
Daun-daun besar dan lebar, agak tebal dan kaku menjangat; dengan tangkai daun yang ramping sepanjang 2,5–4cm, menggembung di pangkal helaian. Helaian daun bentuk jorong, 9-16 × 5–10cm; lembarannya seperti terlipat-lipat menggelombang, beralur-alur pada tulang-tulang daun sekundernya; tepinya beringgit menggelombang; pangkalnya membaji; ujung penetesnya hingga 1cm panjangnya. Tulang daun sekundernya 11-14 pasang, ramping, hampir lurus-lurus saja, mengarah miring ke depan, menonjol di sisi bawah helaian.[9]:307,[10]:1761
Perbungaan berbentuk tandan sepanjang lk. 10cm, terletak di ketiak daun, berisi 4 kuntum bunga atau lebih. Bunga-bunga berukuran besar. Kelopak menyatu di pangkalnya membentuk tabung kelopak, yang kelak membungkus buah; taju kelopak 5 buah, berimpitan seperti genting, yang 3 kecil rudimenter dan yang 2 tumbuh besar memanjang menjadi "sayap" berurat 3. Taju mahkota 5, besar, sempit memanjang, saling menutup di satu sisi ketika kuncup, krem dengan garis kemerahan. Benang sari 30 helai, lebih pendek dari tangkai putik ketika mekar.[9]:292,307
Buah samara besar, bertangkai lk. 2–3mm; tabung kelopak bentuk bola berisi buah, bergaris tengah lk 3cm, dengan sepasang "sayap" (yakni taju kelopak yang membesar dan memanjang) masing-masing berukuran hingga 22 × 3cm, berwarna kemerahan.[9]:292,307
Pohon ini kerap didapati tumbuh di tanah merah yang subur dengan drainase baik tetapi lembap, di lembah atau lereng bukit, kadang-kadang juga di atas tanah berkapur, pada hutan dipterokarpa dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl. Kadang-kadang pohon ini ditemukan mengumpul dalam jumlah besar.[7]:181,[9]:308
Catatan lama menyebutkan bahwa jenis ini dulu banyak didapati di sekitar Bukit Kapur Ciampea di Bogor,
[11]:79,[6]:1394 akan tetapi kini tidak ditemukan lagi.[12]:125 Yang masih bertahan adalah populasi yang berada di kawasan wisata hutan Sangeh di Bali, yakni pohon-pohon pala yang secara salah kaprah diidentifikasi sebagai Dipterocarpus retusus (syn. Dipt. trinervis).[9]:308
Manfaat
Keruing bunga menghasilkan kayu komersial yang cukup penting, yang dikenal sebagai kayu keruing. Kayu ini merupakan kayu dengan berat jenis sedang hingga berat (densitas kayu antara 500–980kg/m³ pada kadar air 15%).[7]:181 Termasuk ke dalam kelas keawetan II dan kelas kekuatan II, kayu keruing bunga sering digunakan sebagai bahan konstruksi, lantai dan juga bantalan rel.[10]:1761
Pohon ini juga menghasilkan resin atau minyak yang disebut damar keruing, minyak keruing, atau minyak lagan.[6]:1394 Keduanya digunakan untuk bahan pernis atau untuk penerangan, dan damar keruing juga digunakan untuk mendempul perahu.[7]:181
Etimologi
Dipterocarpus (dari bahasa Gerika: di, dua; pteron, sayap; karpos, buah) bermakna "buah yang bersayap dua".[13]:85 Dan nama spesiesnya, hasseltii, diambil, sebagai penghargaan, dari nama seorang botanis dan perintis-peneliti di Hindia Belanda, yakni J.C. van Hasselt (1797-1823).[13]:109
Adapun nama lokalnya, palahlar (dari bahasa Jawa Kuno: pala atau phala, buah; dan helar, elar, atau lar, sayap)[14] berarti "buah yang bersayap".
Catatan kaki
↑Ly, V., Nanthavong, K., Pooma, R., Luu, H.T., Nguyen, H.N., Vu, V.D., Hoang, V.S., Khou, E. & Newman, M.F. (2017). Dipterocarpus hasseltii. The IUCN Red List of Threatened Species 2017: e.T31313A2804014. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2017-3.RLTS.T31313A2804014.en. Diakses tgl 24/x/24.
↑Clercq, F.S.A. & M. Greshoff (1909). Nieuw plantkundig woordenboek voor Nederlandsch Indië. Met korte aanwijzingen van het nuttig gebruik der planten en hare beteekenis in het volksleven, en met registers der inlandsche en wetenschappelijke benamingen. p. 223 (no. 1146). Amsterdam: J.H. de Bussy.
1234Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3: 1394. Jakarta: Balitbang Kehutanan. (versi berbahasa Belanda (1917) De nuttige planten van Nederlandsch-Indië, III: 274. Batavia: Ruygrok & Co.)
↑Satyanti, A. & Y.W.C. Kusuma. (2010). "Ecological study in two quarried limestone karst hills in Bogor, West Java: vegetation structure and floristic composition". Biotropia, 17(2): 115-12 (2010). DOI: http://dx.doi.org/10.11598/btb.2010.17.2.81
12Ashton, P.S. (2004). "Dipterocarpaceae". inE. Soepadmo, L.G. Saw, & R.K. Chung (eds.) Tree Flora of Sabah and Sarawak, 5: 63-388. Kuala Lumpur: Forest Research Institute Malaysia.
↑Zoetmulder, P.J. & S.O. Robson. (1995). Kamus Jawa Kuna - Indonesia. Jakarta: Gramedia.