Tradisi Pager Bumi telah berlangsung secara turun-temurun di wilayah Pulesari dan sekitarnya. Kata "pager bumi" berarti secara harfiah "pagar bumi", yang dalam konteks tradisi ini bermakna sebagai usaha spiritual untuk melindungi bumi dan tempat tinggal dari gangguan baik fisik maupun metafisik. Momentum Rabu terakhir di bulan Sapar dipilih karena dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bulan tersebut dianggap sebagai waktu rawan, sehingga perlu dilakukan ruwatan.[2]
Upacara ini menyimbolkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sang pencipta. Selain sebagai ritual keselamatan desa, Pager Bumi juga menjadi wahana mempererat tali silaturahmi antarwarga dan memperkuat identitas budaya lokal. kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya melestarikan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat agar tidak punah, sekaligus sebagai peringatan hari ulang tahun Desa Wisata Pulesari.[3]
Pelaksanaan
Pager Bumi Rebo Pungkasan dilaksanakan melalui sejumlah tahapan. Rangkaian acara dimulai dengan pengambilan air dari lima mata air yang diyakini memiliki nilai spiritual tinggi.[4] Air dari kelima sumber tersebut kemudian digunakan dalam ritual doa dan penyucian. Warga kemudian berarak keliling dusun dengan membawa air, sesaji, dan perlengkapan lain. Sepanjang prosesi, warga melafalkan doa-doa dan sholawat untuk memohon keselamatan serta keberkahan. Iring-iringan ini juga membawa kerikil dan simbol-simbol penghalau bahaya, yang diletakkan di titik-titik tertentu sebagai simbol pagar gaib.[butuh rujukan]
Prosesi dilanjutkan dengan kenduri bersama, yaitu makan bersama seluruh warga di balai dusun atau tempat terbuka. Menu utamanya biasanya berupa tumpeng dan ingkung ayam, yang merupakan simbol kemakmuran dan pengharapan. Acara ini kerap disertai pertunjukan seni tradisional seperti gejog lesung, jathilan, dan karawitan, yang menunjukkan semangat gotong royong dan kegembiraan warga dalam melestarikan tradisi.[5]
Dalam acara tersebut, diserahkan sertifikat WBTb kepada Pemerintah Kabupaten Sleman atas nama masyarakat Pulesari, sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan terhadap nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam tradisi Pager Bumi. Tradisi ini juga menjadi satu dari 21 karya budaya dari DIY yang berhasil masuk dalam daftar WBTb nasional pada tahun tersebut.[7]
Sementara itu, pelestarian dilakukan melalui berbagai strategi, antara lain seperti pendokumentasian dan promosi oleh Dinas Kebudayaan Sleman dan DIY; pameran budaya dan festival WBTb, seperti Sleman Berbudaya Trapsila dan Pulesari Festival; pelibatan generasi muda melalui kegiatan desa wisata dan pendidikan budaya lokal; serta integrasi dalam kegiatan pariwisata desa sehingga dapat menjadikan Pager Bumi sebagai daya tarik budaya berkelanjutan.[8]
↑Home; Terkini; News, Top; Terpopuler; Nusantara; Nasional; Terkini, Jogja; Politik; Peristiwa (2013-01-10). "Masyarakat Pulesari gelar upacara adat Pager Bumi". Antara News Yogyakarta. Diakses tanggal 2025-06-19.