Maung Htaung (မောင်ထောင်code: my is deprecated )
Siri Sudhamma Tilokapavara Mahadhammarazadhiraza (သိရီသုဓမ္မ တိလောကပဝရ မဟာဓမ္မရာဇာဓိရာဇာcode: my is deprecated )
Pagan Min (bahasa Burma:ပုဂံမင်းcode: my is deprecated , diucapkan[bəɡàɴmɪ́ɴ]; 21 Juni 1811–14 Maret 1880), adalah raja kesembilan dari Dinasti Konbaung dari Burma. Terlahir sebagai Maung Biddhu Khyit, ia diberi gelar Pangeran dari Pagan oleh ayahnya Tharrawaddy pada Agustus 1842. Pagan Min menjadi raja ketika Tharrawaddy wafat pada tanggal 17 November 1846, dengan gelar resmi Yang Mulia "Sri Pawara Vijaya Nanda Jatha Maha Dharma Rajadhiraja Pagan Min Taya-gyi". Ia menikah sebanyak 18 kali.[1]
Raja Pagan Min memenangkan perebutan untuk menggantikan ayahnya ke tampuk kekuasaan dengan cara membunuh saudara-saudaranya yang menjadi pesaingnya. Menteri-menteri utamanya, Maung Baing Zat dan Maung Bhein, memperkaya diri mereka sendiri dengan cara menghukum mati rakyat yang kaya.
Pada masa pemerintahannya, pecahlah perang Inggris-Burma kedua. Pada tahun 1851, gubernur Pegu, Maung Ok, menuduh kapten dua kapal dagang Inggris melakukan pembunuhan, penggelapan, dan penghindaran bea cukai. Ia menjatuhkan denda kepada mereka sebesar 500 rupee, dan mengharuskan utang mereka dibayar sebelum diizinkan kembali ke Kolkata. Setelah tiba di Kolkata, kapten itu mengadu kepada Lord Dalhouse, gubernur jenderalIndia Britania. Lord Dalhouse lalu mengutus Komodor George Lambert agar berangkat ke Burma dan bertemu dengan Raja Pagan Min untuk meminta kompensasi sebesar £920 dan pemecatan Maung Ok dari jabatan gubernur. Sang Raja menuruti permintaan itu. Namun pada tanggal 6 Januari 1852, setelah diganti, gubernur baru menolak bertemu dengan delegasi Inggris karena Lambert telah menyita kapal kerajaan Burma, semua warga negara Inggris dievakuasi dan pantai Rangoon diblokade. Selama beberapa hari, kapal perang Lambert membombardir Rangoon. Pada tanggal 7 Februari, Raja Pagan Min menulis surat kepada Dalhouse untuk memprotes pembombardiran tersebut. Surat itu dibalas dengan ultimatum pada tanggal 13 Februari, yaitu menuntut kompensasi sebesar £100.000 sebagai ganti rugi karena "harus mempersiapkan perang", yang harus dibayarkan paling lambat 1 April. Ultimatum tersebut berakhir tanpa balasan dari pihak Raja Pagan Min, disusul beberapa hari setelahnya, pasukan Inggris memasuki wilayah Burma dan dengan cepat mengalahkan prajurit kerajaan. Pada bulan Desember, Inggris berhasil mencaplok provinsi Pegu.
Saudara tiri Raja Pagan Min, Pangeran Mindon, menentang perang; ia melarikan diri bersama saudaranya, Pangeran Kanaung, ke Shwebo, dan mengibarkan bendera pemberontakan di sana. Setelah beberapa pekan berperang, Magwe Mingyi, menteri utama raja, memihak Pangeran Mindon dan pada tanggal 18 Februari 1853, Raja Pagan Min turun takhta demi Mindon. Pangeran Mindon mengizinkan Pagan Min tetap hidup, juga membebaskan semua tahanan Eropa. Raja Mindon meminta perdamaian dengan Inggris tetapi menolak menandatangani perjanjian yang menyerahkan wilayah Burma.
Pada tanggal 14 Maret 1881, Pagan Min wafat karena terjangkit penyakit cacar. Ia meninggal pada masa pemerintahan Raja Thibaw.