Padangan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Kecamatan ini merupakan pusat ekonomi Bojonegoro bagian barat dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Blora. Padangan merupakan kota kecil yang ramai dan berada di persimpangan jalan nasional strategis. Jalur ke timur menuju ibu kota Bojonegoro sedangkan jalur ke selatan menuju Kabupaten Ngawi. Padangan bersama dengan Cepu di Blora berada di satu kawasan yang terhubung secara ekonomi dan sosial, tetapi keduanya dipisahkan secara geografis oleh Sungai Bengawan Solo.[1][2] Padangan memiliki infrastruktur penting seperti pasar, rumah sakit umum daerah, masjid besar, hingga Terminal Padangan.[3] Padangan dikenal sebagai sentra produksi jajanan khas Bojonegoro bernama ledre.[4]
Pada akhir abad 17 M, Padangan pernah menjadi ibu kota dari Kabupaten Jipang. Berdirinya Kabupaten Jipang pada 20 Oktober 1677 diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bojonegoro. Ibu kota Jipang nantinya dipindahkan dari Padangan ke lokasi sekarang dan nama kabupaten diubah menjadi Bojonegoro.[5] Setelah pemindahan ibu kota, Padangan menjadi pusat kawedanan yang membawahi Kecamatan Padangan, Purwosari, Kasiman, dan Kedewan.[6] Peninggalan masa lalu di Padangan masih bertahan sampai sekarang, salah satunya bangunan yang dinamai Padangan Heritage serta kawasan Pecinan dari zaman kolonial Belanda.[7]
Geografi
Peta kecamatan di Bojonegoro
Padangan adalah kecamatan yang menjadi pintu masuk utama Kabupaten Bojonegoro dari arah barat dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Padangan dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo di barat (Cepu) dan utara (Kasiman). Geografi Padangan berupa dataran rendah dengan lahan yang didominasi areal persawahan. Di tengah persawahan tersebut terdapat banyak waduk, salah satunya Waduk Sonorejo yang tidak hanya dimanfaatkan untuk pengairan, tetapi juga obyek wisata.[8][9]
Batas wilayah Kecamatan Padangan adalah sebagai berikut:[10]
Padangan memiliki sejarah yang panjang sebagai kota kecil yang strategis di tepi Bengawan Solo. Padangan dan Blora di masa lalu merupakan bagian dari Kadipaten Jipang. Pada awalnya di abad ke-16, ibu kota kadipaten ini diduga berada di barat Bengawan Solo atau tepatnya di Desa Jipang, Kecamatan Cepu di bawah kekuasaan Arya Penangsang. Kadipaten Jipang berkali-kali berpindah kekuasaan, awalnya bagian dari Kesultanan Demak, kemudian dikuasai Kesultanan Pajang, dan dilanjutkan oleh Kesultanan Mataram. Kerjasama Mataram dengan VOC untuk meredam pemberontakan menimbulkan kerugian besar dengan hilangnya banyak wilayah kekuasaan Mataram ke tangan VOC. VOC juga menuntut pemindahan ibu kota Jipang dari barat ke timur Bengawan Solo atau tepatnya di Padangan.[5][11]
Peristiwa pemindahan ibu kota Jipang terjadi pada 20 Oktober 1677 dan menandai bubarnya Kadipaten Jipang, dan berganti menjadi Kabupaten Jipang (cikal bakal Bojonegoro). Tanggal tersebut sampai sekarang diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bojonegoro. Bupati Jipang pertama adalah Mas Toemapel yang dipilih oleh Amangkurat II. Kabupaten Jipang mengalami perkembangan yang pesat dengan salah satu komoditas ekspor utamanya adalah jati yang digunakan untuk membangun rumah dan kapal. Bahkan konon, pada masa itu di kawasan yang sekarang disebut Bandar merupakan lokasi dermaga kapal yang ramai. Pada masa Pakubuwono II di tahun 1725, Bupati Raden Harya Matahun I diperintahkan untuk memindahkan ibu kota Jipang ke daerah Rajekwesi (selatan Kota Bojonegoro). Pemindahan ke arah timur ini didasari oleh strategi Pakubowono II untuk mendekat dan menguasai Madura. Sejak itu, nama Jipang tidak lagi dipakai sebagai nama kabupaten.[5][11]
Walaupun tidak lagi menjadi ibu kota, Padangan tetap mengalami perkembangan pesat di zaman kolonial Belanda dengan dijadikannya Padangan sebagai pusat kawedanan yang membawahi Purwosari, Kasiman, dan Kedewan.[6] Banyak bangunan peninggalan kolonial yang tersisa di Padangan sampai saat ini seperti kawasan Pecinan, kantor Polsek, kantor Pegadaian, dan gapura Masjid Darul Muttaqin yang berangka tahun 1931. Selain itu juga ada bangunan yang diberi nama Padangan Heritage yang merupakan bekas rumah pengusaha tembakau lokal bernama H. Ali Rasyad dan dibangun pada tahun 1911.[5][7]
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Padangan terdiri dari 16 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:
Stasiun Padangan - stasiun nonaktif yang bangunannya terbengkalai
RSUD Padangan
Puskesmas Padangan
Kuliner
Ledre
Ledre
Ledre adalah jajanan yang banyak diproduksi dan dijual di Kecamatan Padangan. Ledre berbahan baku pisang yang dicampur dengan tepung beras, santan, gula pasir, dan telur. Adonan ledre kemudian dimasak dan digulung menjadi bentuk seperti semprong. Ledre memiliki rasa yang manis, renyah, dan memiliki aroma khas pisang. Nama "Ledre" diambil dari istilah edre-edre yang berarti diorak-arik. Camilan ini dikenal luas hingga Kabupaten Bojonegoro dijuluki sebagai "kota ledre". Ledre di zaman sekarang dijual dengan variasi rasa, seperti cokelat, stroberi, kacang hijau. Ledre ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbud pada tahun 2021.[4]