Pembangkit ini berlokasi 40km (25mi) di sebelah barat Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Dua waduknya akan menempati wilayah yang berada di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur.[2] Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas terpasang sebesar 1.040 MW dan akan menjadi PLTA dengan sistem pompa pertama di Indonesia.
Latar belakang
Studi untuk proyek ini mulai dilakukan pada tahun 1990-an dan desain rincinya rampung pada tahun 2002. Pinjaman dari Bank Dunia untuk proyek ini disetujui pada Mei 2011 dan ditandatangani pada November tahun yang sama. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan persetujuan terhadap proyek ini pada Oktober 2011. Konstruksi tahap awal, seperti pembangunan jalan akses, dimulai pada awal tahun 2014.[3][4] Generator pertama awalnya ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2019.[5][6][7]
Namun, proyek tersebut mengalami penundaan dan pinjaman dibatalkan pada Mei 2017. Konstruksi sempat terhambat salah satunya karena terjadinya tanah longsor. Meskipun jalan akses telah dibangun, rute tersebut dinilai belum aman.[8] Pada tahun 2019, dicapai kesepakatan pinjaman baru dengan Bank Dunia, dan berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Indonesia, fasilitas ini diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2025.[1]
Dari total biaya proyek sebesar US$800 juta, sebanyak US$650 juta didanai oleh Bank Dunia. Sisa US$150 juta dipenuhi secara mandiri oleh pemilik proyek, yaitu Perusahaan Listrik Negara.[1][9]
Desain dan pengoperasian
Pembangkit listrik ini akan beroperasi dengan cara mengalirkan air di antara dua waduk, yaitu waduk bawah di Sungai Cisokan Atas (salah satu anak sungai Sungai Citarum) dan waduk atas di Sungai Cirumamis yang merupakan anak sungai di sisi kanan Sungai Cisokan Atas.[10][11] Ketika permintaan energi sedang tinggi, air dari waduk atas akan dialirkan ke pembangkit listrik untuk menghasilkan listrik. Sebaliknya, saat permintaan energi rendah, air dipompa kembali dari waduk bawah ke waduk atas menggunakan generator pompa yang sama. Proses ini berulang sesuai kebutuhan, sehingga pembangkit ini berfungsi sebagai pembangkit listrik beban puncak.[10]
Kedua waduk akan dibendung dengan bendungan gravitasi beton menggunakan metode beton dipadatkan dengan mesin gilas (roller-compacted concrete). Masing-masing bendungan dilengkapi dengan saluran pelimpah (spillway) peluap di bagian tengahnya. Bendungan waduk atas memiliki tinggi 755m (2.477ft) dan panjang 375m (1.230ft), sedangkan bendungan waduk bawah memiliki tinggi 98m (322ft) dan panjang 294m (965ft). Bendungan waduk bawah akan menampung air dari daerah tangkapan air seluas 355km2 (137sqmi) untuk membentuk danau dengan kapasitas penyimpanan kotor sebesar 63.000.000m3 ([convert: unit tak dikenal]). Dari total kapasitas tersebut, sebanyak 10.000.000m3 ([convert: unit tak dikenal]) dapat digunakan untuk dipompa kembali ke waduk atas. Luas permukaan waduk bawah ini mencapai 260ha (1sqmi). Sementara itu, bendungan waduk atas menampung air dari daerah tangkapan yang jauh lebih kecil, yaitu 105km2 (41sqmi), untuk membentuk waduk dengan kapasitas penyimpanan kotor 14.000.000m3 ([convert: unit tak dikenal]) dan luas permukaan 80ha (0sqmi). Dari kapasitas waduk atas tersebut, sebanyak 10.000.000m3 ([convert: unit tak dikenal]) merupakan penyimpanan aktif (atau yang dapat digunakan) untuk pembangkitan listrik.[10]
Gedung pembangkit listrik akan dibangun di bawah tanah di dekat waduk bawah. Waduk atas dan pembangkit listrik akan terhubung melalui dua terowongan pengambilan air (headrace tunnel), dengan panjang masing-masing 1.220m (4.003ft) dan 1.160m (3.806ft). Tangki pendatar (surge tank) pada setiap terowongan pengambilan berfungsi untuk mencegah terjadinya efek palu air (water hammer). Setiap terowongan pengambilan tersebut tersambung ke pipa pesat (penstock) berlapis baja, yang kemudian masing-masing bercabang menjadi dua pipa pesat kecil. Keempat pipa pesat ini akan menyuplai air ke turbin selama proses pembangkitan listrik. Setelah digunakan untuk memutar turbin, air akan dialirkan ke waduk bawah melalui empat terowongan pembuangan (tailrace tunnel). Saat mode pemompaan aktif, air bergerak kembali ke waduk atas melalui saluran pipa yang sama. Pembangkit listrik ini akan dilengkapi dengan empat Turbin pompa Francis yang masing-masing berkapasitas 260 MW untuk pembangkitan listrik dan 275 MW untuk pemompaan. Waduk atas berada pada elevasi maksimum 796m (2.612ft) dan waduk bawah pada 499m (1.637ft). Perbedaan elevasi ini memberikan tinggi tekan hidrolik nominal sebesar 276m (906ft) bagi pembangkit listrik tersebut.[10]