Osman Hamdi masuk sekolah dasar di perempatan Istanbul terkenal Beşiktaş;[5] setelah itu ia mempelajari Hukum, pertama di Istanbul (1856) dan kemudian di Paris (1860). Namun, ia memutuskan untuk beralih ke bidang melukis, meninggalkan program Hukum, dan berlatih dibawah bimbingan pelukis orientalisPrancisJean-Léon Gérôme dan Gustave Boulanger.[6]
Selama sembilan tahunnya di Paris, ibu kota seni rupa murni internasional pada waktu itu, ia menunjukan ketertarikan terhadap peristiwa-peristiwa artistik pada harinya.
Dua potret buatan Osman Hamdi Bey dari istri kedua Marie, yang kemudian mengambil nama Naile Hanım.[7] Sebenarnya, nama istri pertamanya juga Marie, dan keduanya adalah orang Prancis.[7] Dari istri pertamanya Marie, yang ia temui di Paris, ia mendapatkan dua putri yang bernama Fatma dan Hayriye.[7] Dari istri keduanya Marie (Naile Hanım), yang ia temui di Wina, ia mendapatkan tiga putri yang bernama Melek, Leyla dan Nazlı, dan satu putra yang bernama Edhem.[7]
Persinggahannya di Paris juga menandai kunjungan pertama oleh seorang sultan Utsmaniyah ke Eropa Barat, ketika Sultan Abdülaziz diundang ke Exposition Universelle (1867) oleh Kaisar Napoleon III. Ia juga menemui beberapa Pemuda Utsmaniyah di Paris, dan meskipun ia memegang gagasan liberal mereka, ia tidak ikut dalam aktivitas politik mereka. Osman Hamdi Bey juga bertemu dengan istri pertamanya Maria, seorang wanita Prancis, di Paris ketika ia menjadi pelajar. Setelah mendapatkan restu ayahnya, ia mengikutinya ke Istanbul (Konstantinopel) ketika ia kembali pada 1869, dimana keduanya menikah dan memiliki dua putri.
Ketika kembali ke Turki, ia dikirim ke provinsi UtsmaniyahBaghdad sebagai bagian dari tim administratif Midhat Pasha, yang kemudian menjadi figur politik utama dan reformer berpengaruh di antara Pemuda Utsmaniyah yang membuat Konstitusi Utsmaniyah Pertama pada 1876.[8] Pada 1871, Osman Hamdi kembali ke Istanbul, sebagai wakil direktur Kantor Protokol Istana.
Putrinya Nazlı Hamdi (1893–1958) [9] menikah dengan seorang diplomat Utsmaniyah, Esat Cemil Bey, pada 1912, dan pasangan tersebut memiliki satu putri, Cenan Hamdi Sarç, yang hidup selama 99 tahun dan meninggal pada 2012.[10] Cenan Hamdi menikah pada Ömer Celal Sarç, yang merupakan rektor Universitas Istanbul pada 1932. Ia memiliki satu putra, Faruk Sarç, yang lahir pada 1933.
↑Shaw, Wendy M. K. (2003). Possessors and possessed: museums, archaeology, and the visualization of history in the late Ottoman Empire. University of California Press. hlm.2003. ISBN0-520-23335-2. (Osman Hamdi)…His father, Ibrahim Edhem, was born in the Greek Orthodox village of Sakiz. After being captured as a prisoner of war during a village revolt, he was sold as a slave to the chief naval officer, Kaptan-ı Derya Hüsrev Pasha, the head of the Ottoman Navy, who would also soon serve as vizier to the sultan.
↑Littell, Eliakim (1888). The Living age. The Living Age Co. hlm.614. OCLC10173561. Edhem Pasha was a Greek by birth, pure and unadulterated, having when an infant been stolen from the island of Chios at the time of the great massacre there
↑"Kaplumbaga Terbiyecisi", Osman Hamdi Bey'in Romani, Emre Can, Kapi Yayinlari, 2008, pp 200–201
↑The Encyclopædia Britannica, Vol.7, Edited by Hugh Chisholm, (1911), 3; "Constantinople, the capital of the Turkish Empire...".
↑Wendy M.K. Shaw, Possessors and Possessed: Museums, Archaeology, and visualisation of history in the late Ottoman Empire. University of California Press 2003, p. 98 ISBN 0-520-23335-2