Atlantic Multidecadal Oscillation (AMO), juga dikenal sebagai Atlantic Multidecadal Variability (AMV),[1] adalah variabilitas yang diperkirakan terjadi pada suhu permukaan laut (sea surface temperature, SST) di Samudra Atlantik Utara dalam skala waktu beberapa dekade.[2] Meskipun terdapat dukungan terhadap mode ini dalam model iklim dan pengamatan historis, masih terdapat kontroversi terkait amplitudo AMO, apakah ia memiliki skala waktu khas, dan apakah dapat diklasifikasikan sebagai osilasi. Selain itu, terdapat perdebatan mengenai sejauh mana perubahan suhu permukaan laut disebabkan oleh faktor alami atau antropogenik, terutama di wilayah Atlantik tropis yang penting bagi perkembangan badai dan siklon tropis.[3]
Bukti adanya osilasi iklim multidekadal yang berpusat di Laut Atlantik Utara mulai muncul pada tahun 1980-an melalui penelitian oleh Folland dan rekan-rekannya.[5] Pada tahun 1994, Schlesinger dan Ramankutty memfokuskan seluruh studi mereka pada osilasi ini,[6] tetapi istilah Atlantic Multidecadal Oscillation (AMO) sendiri baru dikemukakan oleh Michael Mann dalam sebuah wawancara telepon dengan Richard Kerr pada tahun 2000,[7] sebagaimana diceritakan Mann di halaman 30 bukunya The Hockey Stick and the Climate Wars: Dispatches from the Front Lines (2012). Sinyal AMO biasanya didefinisikan dari pola variabilitas suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature, SST) di Atlantik Utara setelah dilakukan penghilangan tren linear. Tujuan dari detrending ini adalah untuk menghilangkan pengaruh pemanasan global akibat gas rumah kaca dari analisis.
Namun, jika sinyal pemanasan global bersifat non-linear secara signifikan (tidak hanya meningkat secara linear), variasi dalam sinyal terpaksa dapat “bocor” ke dalam definisi AMO. Akibatnya, korelasi dengan indeks AMO mungkin menutupi efek pemanasan global, sebagaimana dijelaskan oleh Mann, Steinman, dan Miller,[8] yang juga memberikan sejarah lebih rinci tentang perkembangan ilmiah terkait AMO. Secara singkat, AMO adalah fluktuasi alami multidekadal di Atlantik Utara yang memengaruhi pola suhu laut, cuaca, dan iklim regional, tetapi interpretasinya harus hati-hati karena potensi tumpang tindih dengan pemanasan global yang dipaksakan.
Kritikan
Dalam studi tahun 2021 oleh Michael Mann dan rekan-rekannya, ditemukan bahwa periodisitas AMO dalam seribu tahun terakhir terutama dipengaruhi oleh letusan gunung berapi dan faktor eksternal lainnya, sehingga tidak ada bukti kuat bahwa AMO merupakan osilasi atau siklus yang nyata. Selain itu, model iklim menunjukkan tidak adanya perilaku osilatori pada skala waktu yang lebih panjang dibandingkan El Niño Southern Oscillation (ENSO). Variabilitas Atlantik Multidekadal (AMV) pun tidak dapat dibedakan dari red noise, yang merupakan hipotesis nol standar untuk menguji keberadaan osilasi dalam suatu model.[9]
Merujuk pada studi tersebut, Michael Mann, pencetus istilah AMO, menyatakan secara singkat dalam sebuah tulisan blog: "Rekan-rekan saya dan saya telah menyediakan apa yang kami anggap sebagai bukti paling definitif bahwa AMO sebenarnya tidak ada." Dengan demikian, pandangan terbaru dari penelitian ini menekankan bahwa AMO kemungkinan besar bukan siklus alami tetap, melainkan produk dari variabilitas acak dan pengaruh eksternal seperti letusan vulkanik.