Bagian pertama
Meursault menerima kabar tentang wafatnya sang ibu, yang telah lama menetap di sebuah panti jompo jauh di pelosok negeri. Ia pun mengambil cuti dari pekerjaannya demi menghadiri pemakaman itu. Namun, bagi orang-orang di sekitarnya, tak tampak sedikit pun tanda duka di wajahnya. Ketika ditanya apakah ia ingin menatap jasad sang ibu, ia menolak. Malam sebelum pemakaman, saat berjaga di sisi peti mati bersama penjaga panti, ia hanya merokok dan menyesap kopi putih biasa—alih-alih kopi hitam yang konon wajib dalam upacara kesedihan itu.
Sehari setelah penguburan, Meursault kembali ke Aljir dan tanpa sengaja bertemu Marie, mantan sekretaris di kantornya. Pertemuan itu berlanjut menjadi kebersamaan: mereka berenang, lalu menonton film komedi pada malamnya, dan hubungan intim pun mulai terjalin di antara keduanya.
Hari-hari berikutnya, Meursault terlibat dengan urusan Raymond Sintès—tetangga sekaligus temannya, yang kabarnya seorang germo, meski ia sendiri mengaku hanya bekerja di gudang. Raymond ingin membalas dendam pada seorang Moor selir yang ia curigai menerima hadiah dan uang dari lelaki lain. Ia meminta Meursault menuliskan sepucuk surat untuk memancing gadis itu datang ke apartemennya, hanya agar ia dapat menidurinya, lalu meludahi wajahnya, dan mengusirnya dengan hinaan. Meursault, yang seolah tak tersentuh oleh empati atau keprihatinan, menyetujui permintaan itu dan menulis surat tersebut tanpa keberatan.
Gadis itu pun datang pada hari Minggu pagi. Ketika Raymond mencoba mengusirnya, ia menamparnya, dan Raymond membalas dengan kekerasan. Polisi turun tangan. Di kantor polisi, Raymond meminta Meursault menjadi saksi bahwa gadis itu tidak setia. Meursault, sekali lagi tanpa banyak rasa, mengiyakan. Akhirnya, Raymond hanya mendapat peringatan ringan.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, atasan Meursault menanyakan apakah ia mau dipindahkan ke cabang baru di Paris, sementara Marie bertanya apakah ia ingin menikah dengannya. Meursault, yang tak memiliki hasrat kuat atas kedua hal itu, menjawab dengan kesediaan: ia bisa pindah atau menikah bila itu menyenangkan orang lain. Sementara itu, Salamano—tetangga tua mereka yang kejam pada anjingnya—kehilangan binatang sakit dan renta yang selama ini selalu ia caci. Di balik sikap kasarnya, ia justru datang mencari penghiburan dan nasihat pada Meursault. Dalam salah satu percakapan itu, Salamano yang dulu mengambil anjing itu tak lama setelah istrinya meninggal, menyebutkan bahwa beberapa tetangga telah "berkata keji" tentang Meursault karena ia menitipkan ibunya ke panti jompo. Meursault tercengang mendengar penilaian buruk itu.
Akhir pekan tiba, Raymond mengundang Meursault dan Marie ke pondok pantai milik kawannya. Di sana mereka berpapasan dengan saudara lelaki dari selir Raymond, ditemani seorang Arab lain yang konon telah lama membuntuti Raymond. Pertemuan itu memanas: pisau terhunus, Raymond terluka, dan para Arab itu kabur. Kemudian, saat berjalan sendirian di pantai, Meursault membawa pistol yang sebelumnya ia ambil dari Raymond agar temannya tak bertindak gegabah. Di bawah terik yang menyilaukan, tubuhnya limbung, terbius oleh disorientasi dan sengatan panas, ia bertemu lagi dengan saudara selir itu. Ketika pisau berkilat di tangan lawannya, Meursault menembak. Satu peluru mematikan menghentikan hidup sang Arab, tetapi setelah jeda singkat, Meursault melepaskan empat tembakan lagi—seperti meneguhkan absurditas dari tindakannya sendiri.
Bagian kedua
Meursault pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Maka ia segera diinterogasi oleh sang kepala penjara. Namun, pertanyaannya berkisar antara hubungannya dengan ibunya. Ketika ia ditanya apakah ia sayang terhadap ibunya ia menjawab bahwa ia mencintainya tetapi kebutuhan tubuhnya sering kali menghalang-halangi perasaannya. Hal ini diungkapkannya dengan kalimat berikut: "Le jour où j’avais enterré maman, j’étais très fatigué, et j’avais sommeil" (dalam bahasa Indonesia: "Pada hari saya mengubur ibu, saya sangat capai dan saya mengantuk"). Namun, sang kepala penjara ingin supaya Meursault merasa menyesal dan ia menunjukkan sebuah salib yang diambilnya dari laci. Namun, Meursault tak peduli dan hanya terlihat bosan saja. Akhirnya sang kepala penjara tidak melanjutkan usahanya.
Ketika Meursault ditanya apakah ia menyesali perbuatannya, ia menjawab bahwa ia sebenarnya lebih merasakan rasa kesal daripada rasa sesal. Lalu sang kepala penjara menyebutnya sebagai seorang "Antikristus".
Marie, pacarnya juga menjenguknya tetapi ia ingin melupakannya karena itu merupakan bagian dari hukumannya. Setelah beberapa lama ia tidur lebih baik dan membuang waktu dengan membaca sebuah kisah dari Cekoslovakia: seorang pria ketika masih muda pergi merantau untuk mencari uang dan kembali dengan seorang istri dan anak. Ketika pulang kembali ke kampung halamannya ia ingin memberikan kejutan kepada ibu dan saudari perempuannya yang memiliki sebuah hotel. Dalam melaksanakan hal ini, ia menitipkan istri dan anaknya di sebuah penginapan lainnya. Maka sebagai sebuah lelucon ia memesan kamar di hotel ibunya dan ingin membayarnya. Lalu pada malam hari ibunya dan saudarinya yang tak mengenalinya lagi membunuhnya karena ia dianggap seorang musafir yang kaya. Lalu mayatnya dibuang ke sungai. Keesokan harinya istrinya menemukan dan menguak jati diri suaminya. Kemudian ibu dan saudara perempuannya bunuh diri; ibu menggantung diri dan saudarinya menceburkan dirinya ke sebuah sumur. Meursault sendiri berpendapat bahwa itu memang sudah ganjaran sang musafir itu dan ia memang seyogianya jangan bermain-main seperti itu. Maka hari-hari berlalu seperti itu.
Maka akhirnya ia diadili di pengadilan dan ia duduk di kursi terdakwa. Ia melihat kepala panti jompo, 'pacar' ibunya: Thomas Pérez, Raymond, Marie dan lain-lainnya. Hakim menginterogasinya tentang ibunya dan lalu tentang orang Arab yang dibunuhnya. Orang-orang dari panti jompo mengatakan bahwa Meursault tidak menjatuhkan tetesan mata sedikitpun jua ketika ibunya dikubur. Meursault merasa bahwa ia dibenci oleh semua orang dan ia merasa ingin menangis. Lalu jaksa menyerangnya secara berapi-api dengan antara lain mengatakan bahwa ia tidak sepantasnya minum-minum kopi di depan peti mati ibunya ketika ibunya meninggal meskipun ditawari demikian. Kemudian ia menyerangnya lagi bahwa Meursault tidak sepantasnya keesokan harinya setelah ibunya dikubur lalu pergi berpacaran dengan seorang wanita seperti Marie. Dan akhirnya jaksa berseru dengan mengatakan bahwa Meursault "telah mengubur ibunya dengan hati seorang kriminal."
Meursault sendiri merasa bahwa pengacaranya kurang sekali dalam membelanya dan merasa pula bahwa mereka seakan-akan membicarakan kasusnya di luar dirinya. Lalu jaksa menyerangnya tentang si orang Arab yang dibunuhnya bahwa Meursault membunuhnya dengan keji dan dingin. Meursault membidikkan senjatanya lalu memicu pistolnya dan setelah orang Arab ini jatuh, Meursault masih menembakkan peluru tajam sebanyak empat kali kepada mayat yang tak bergerak lagi ini tentu secara sadar. Lalu jaksa mengatakan bahwa Meursault tidak menyatakan rasa sesal dan masyarakat umum harus dilindungi dari seorang insani seperti Meursault ini. Jaksa bahkan menuduh Meursault bahwa ia tidak memiliki jiwa.
Akhirnya Meursault ditanya sekali lagi akan motifnya lalu ia menjawab bahwa itu semua ia lakukan karena "pengaruh matahari." Maka hadirin sekalian di dalam ruang sidang tertawa mendengarnya. Pengacara Meursault tidak mampu untuk membela di depan anggota juri dan jaksa sekali lagi mengatakan bahwa masyarakat ramai harus dilindungi dari seseorang seperti Meursault.
Hakim akhirnya menyatakan bahwa Meursault harus menerima hukuman mati dengan dipenggal kepalanya menggunakan guillotine. Ia menjatuhkan vonisnya atas nama ‘Rakyat Prancis’. Maka Meursault lalu mengingat akan kehidupan yang akan segera berakhir, yang bukan miliknya lagi. Ia mengingat kenangan-kenangan manis kecil seperti bau musim panas, langit yang baru dan senyum serta gaun pacarnya; Marie. Namun, kemudian ia berpikir bahwa semuanya tidak ada gunanya, sidang ini semua dan apaun jua. Ia hanya merasakan ingin bergegas-gegas kembali ke selnya untuk tidur.
Maka menurut koran-koran ditulis bahwa Meursault harus membayar kembali hutangnya kepada masyarakat. Di sisi lain Meursault sendiri berpendapat bahwa itu semuanya tak ada maknanya, semuanya sama saja. Dan akhirnya ia berkata pada dirinya sendiri: “Ya sudahlah aku akan mati ... Namun, semua orang toh tahu bahwa hidup itu tak ada gunanya dijalani. Di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa mati pada usia 30 tahun atau 70 tahun tidak ada bedanya. Pada kedua kasus ini orang-orang lain, pria dan wanita tetap hidup semua dan ini sudah terjadi selama ribuan tahun.
Pada saat-saat terakhirnya ia didatangi seorang pastor yang ingin memberinya sedikit bimbingan rohani, tetapi Meursault menolaknya dan bahkan memaki-makinya. Ia berkata kepadanya bahwa ia tidak ingin membuang saat-saat terakhirnya dengan perbincangan mengenai Tuhan atau agama. Ia mempercayakannya terhadap "ketidakpedulian dunia".
Akhirnya Meursault menutup kisah ini dengan kalimat: “Supaya semua tereguk, supaya aku tidak merasa terlalu kesepian, aku hanya mengharapkan agar banyak penonton datang pada hari pelaksanaan hukuman matiku dan agar mereka menyambutku dengan meneriakan cercaan-cercaan .”