Guillotine adalah alat yang dirancang untuk melaksanakan pemenggalan seseorang yang telah divonis hukuman mati dengan cepat dan 'efektif'. Alat ini terdiri dari rangka yang tinggi dan tegak dengan bilah bersudut dan berbobot yang digantung di bagian atas. Terpidana diikat dengan pilori di bagian bawah rangka, menahan posisi leher tepat di bawah bilah. Bilah tersebut kemudian dilepaskan, memenggal korban dengan cepat dan kuat dalam satu gerakan yang bersih; kepala jatuh ke dalam keranjang atau wadah lain di bawahnya.
Guillotine menjadi terkenal pada Revolusi Prancis, tetapi sebenarnya sebelumnya sudah ada alat seperti ini. Guillotine dinamakan menurut Joseph Ignace Guillotin (1738–1814), yang menyarankan supaya memakai alat ini sebagai alat eksekusi. Ironisnya ia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan hukuman mati. Ia berharap bahwa alat'nya' akan menghapuskan hukuman mati.
Pada fase awal Revolusi Prancis, sebelum penggunaan guillotine, slogan À la Lanterne melambangkan keadilan rakyat di Prancis yang revolusioner. Kaum radikal revolusioner menggantung pejabat dan bangsawan di lampu jalan dan juga menggunakan metode eksekusi yang lebih mengerikan, seperti roda atau pembakaran di tiang pancang.
Pada Revolusi Prancis, dibutuhkan sebuah alat yang mampu mengeksusi para terdakwa secara cepat. Guillotine ini mencukupi persyaratan ini, maka alat ini ditempatkan di tengah pasar setiap desa di Prancis.
Lukisan Dr. Guillotin
Pada tanggal 25 April1792, Nicolas Jacques Pelletier adalah korban pertama guillotine. Secara total pada Revolusi Prancis puluhan ribu orang dieksekusi menggunakan alat ini. Di Paris sendiri saja diperkirakan 40.000 orang dibunuh dengan guillotine, antara lain Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette.
Guillotine dirancang untuk membuat sebuah eksekusi semanusiawi mungkin dengan menghalangi sakit sebanyak mungkin. Terdakwa disuruh tidur tengkurap dan leher ditaruh di antara dua balok kayu di mana di tengah ada lubang tempat jatuhnya pisau. Pada ketinggian tujuh meter, pisau dijatuhkan oleh algojo dan kepala terdakwa jatuh di sebuah keranjang di depannya.
Pemenggalan kepala dengan guillotine hanya berlangsung beberapa detik saja. Pendapat para dokter pada awal yang katanya orang baru kehilangan kesadarannya setelah 30 detik dihiraukan. Menurut pendapat para dokter modern, otak seseorang maksimal hanya bisa sadar selama 10 detik saja.
Eksekusi dengan guillotine kala itu menjadi tontonan umum, tetapi kemudian guillotine ditaruh di dalam penjara karena dianggap sangat kejam. Terdakwa terakhir yang dihukum mati dengan alat ini adalah Hamida Djandoubi. Ia dieksekusi di Marseille pada tanggal 10 September1977.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Guillotine.