Seorang sesepuh Karbi dengan pakaian tradisional, mengenakan poho (sorban putih), choi-hongthor (jaket tenun), lek paikom (kalung berlapis emas) dan poho lainnya di bahu kanannya
Asal kata Karbi tidak diketahui. Secara historis dan keturunan mereka menyebut diri mereka Arleng (secara harfiah berarti "manusia" dalam bahasa Karbi) dan disebut Karbi oleh orang lain.[4] Istilah Mikir kini dianggap menghina.[5] Tidak ada arti pasti dari kata Mikir dalam bahasa Karbi. Arti terdekat dari Mikir bisa dikatakan berasal dari "Mekar" (bahasa Indonesia: Orang).[6]