Mereka tinggal di pats (area terbuka) yang dikelilingi oleh hutan, dan rumah mereka terbuat dari dinding tanah liat yang disangga oleh tiang kayu, dengan atap yang ditutup jerami padi dan khapras (ubin buatan sendiri). Rumah-rumah mereka memiliki ruang khusus untuk ternak dan unggas serta area terpisah untuk pemujaan leluhur. Peralatan masak dan tempat penyimpanan air yang diambil dari sumur terbuat dari besi, aluminium, dan tanah liat. Pakaian tradisional pria adalah dhoti, sedangkan wanita mengenakan tato bergambar objek totemik di tubuh mereka sebagai perhiasan. Para wanita juga mengenakan perhiasan logam maupun non-logam serta gelang kaca. Mereka menggunakan alat pertanian umum untuk bercocok tanam dan sesekali berburu binatang di hutan menggunakan busur dan anak panah.[2]
Teknologi tradisional mereka dalam melebur besi memberi Orang Asur identitas yang khas; mereka mengklaim berasal dari Asura kuno yang dikenal dengan keahlian dalam kerajinan logam. Dalam proses peleburan, para perempuan Asur menyanyikan lagu yang menyamakan tungku dengan seorang ibu hamil, mendorong tungku untuk "melahirkan bayi sehat", yaitu menghasilkan besi berkualitas baik dan dalam jumlah yang banyak dari bijihnya; dan karena itu, menurut Bera, mereka juga dikaitkan dengan kultus kesuburan. Namun, saat ini sebagian besar populasi Asur juga bekerja di sektor pertambangan.[2]
Orang Asur modern terbagi menjadi tiga sub-kelompok utama, yaitu Bir (Kol) Asur, Birjia Asur, dan Agaria Asur. Birjia diakui sebagai suku terjadwal yang terpisah.[3] Mereka selanjutnya terbagi menjadi 12 klan, yang dinamai berdasarkan berbagai hewan, burung, dan jenis biji-bijian. Setelah klan, keluarga merupakan institusi sosial terpenting. Klan-klan Asur tersebut meliputi: Aind (Belut), Dhan (Padi), Lila (Rusa), Suar (Babi), Bharewa (Anjing liar), Kerketta (Sejenis burung), Munjani (Pohon Anjun), Titio (Sejenis burung), Beng (Katak), Khusar (Sejenis burung), Non (Garam), dan Toppo (Pelatuk).[4]
Agama
Agama Asur merupakan perpaduan antara animisme, animatisme, naturalisme, dan pemujaan terhadap leluhur. Mereka juga memercayai praktik ilmu hitam seperti bhut-pret (roh jahat) dan ilmu sihir. Dewa utama mereka adalah Singbonga. Dewa-dewa lainnya antara lain Dharati Mata, Duari, Patdaraha, dan Turi Husid. Mereka merayakan berbagai festival seperti Sarhul, Karma, Dhanbuni, Kadelta, Rajj Karma, dan Dasahara Karam.[5] Orang Asur meyakini bahwa Mahishasura, yang dianggap sebagai iblis dalam legenda Durga Maa, sebenarnya adalah leluhur mereka yang baik hati. Oleh karena itu, saat masyarakat Hindu merayakan Durga Puja, Orang Asur justru berkabung karena menganggap Mahishasura dibunuh secara tidak adil. Penghormatan terhadap Mahishasura ini telah menyebar ke berbagai suku Munda di Benggala Barat serta komunitas Namasudra.[6]
Tantangan
Saat ini, masyarakat Asur di Jharkhand menghadapi berbagai kesulitan. Mereka tidak memiliki akses memadai terhadap kebutuhan dasar seperti layanan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan air minum. Penghapusan pekerjaan tradisional mereka dalam peleburan besi membuat mereka terancam jatuh ke dalam kemiskinan. Ekonomi mereka yang berbasis pertanian juga terancam akibat aktivitas penambangan bauksit di wilayah tersebut. Akibatnya, migrasi dan penggusuran menjadi masalah utama yang mereka hadapi. Selain itu, telah terjadi kasus perdagangan manusia, khususnya terhadap anak perempuan di bawah umur, yang dipicu oleh kemiskinan ekstrem. Di tengah situasi ini, seorang perempuan muda Asur bernama Sushma Asur berjuang keras untuk melestarikan seni, budaya, dan keberadaan komunitasnya.[7]