Lokasi ini menampilkan sisa-sisa aktivitas pertambangan yang masif dengan danau kawah berwarna hijau toska, dinding batuan yang terekspos, serta terowongan-terowongan penambangan kuno, yang menjadikannya objek penting untuk studi geologi, sejarah pertambangan, dan pariwisata edukasi.[3]
Sejarah
Pemanfaatan timah di Pulau Bangka dan Pulau Belitung telah berlangsung sejak masa awal Kerajaan Sriwijaya, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kota Kapur abad ke-7 Masehi. Namun, pengelolaan dalam skala besar baru dimulai pada akhir abad ke-17, ketika Bangka berada di bawah Kesultanan Palembang.[4] Berdasarkan catatan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Kesultanan Palembang menjalin perjanjian dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang memberikan hak monopoli perdagangan timah kepada VOC. Kontrak eksklusif penjualan timah dilakukan pada 1710, dengan kewajiban penyediaan 30.000 pikul timah. Untuk meningkatkan produksi, Sultan MahmudBaharuddin I mendatangkan pekerja asal Tiongkok pada 1724, yang memperkenalkan sistem kolong dalam penambangan.[4][5]
Penambangan timah di Pulau Belitung berkembang pesat pada masa kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Salah satu lokasi penting adalah Nam Salu di Kecamatan Kelapa Kampit, yang dikelola oleh perusahaan NV Billiton Maatschappij.[6] Penambangan di lokasi ini berbeda dari kebanyakan tambang timah aluvial di Belitung karena menargetkan bijih timah primer yang terperangkap dalam batuan induk.[5][6]
Tahap awal penambangan dilakukan dengan metode bawah tanah melalui pembuatan terowongan horizontal untuk mengikuti urat bijih. Seiring meningkatnya produksi dan teknologi, metode tambang terbuka (open pit) mulai diterapkan, sehingga menghasilkan kawah berukuran besar dengan dinding batuan yang masih dapat diamati hingga kini.[1]
Pasca-kemerdekaan, pengelolaan tambang Nam Salu dilanjutkan oleh perusahaan negara, PT Timah. Kegiatan penambangan dihentikan pada akhir abad ke-20 akibat menurunnya cadangan ekonomis serta jatuhnya harga timah dunia. Kawasan bekas tambang kemudian terisi air hujan dan air tanah, membentuk danau asam dengan warna hijau toska khas.[5] Pada tahun 2021, Open Pit Nam Salu ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark Belitong sebagai warisan geologi dan sejarah industri.[2]
Karakteristik Geologi
Open Pit Nam Salu menampilkan fitur geologi yang unik sebagai bekas tambang timah primer terdalam dan terbesar di Asia Tenggara, dengan kedalaman mencapai sekitar 100 meter dan luas kawah yang signifikan.[7] Situs ini mengungkap batuan tertua yang mendominasi Pulau Belitung, termasuk struktur geologi yang terekspos akibat aktivitas penambangan open pit, seperti dinding batuan vertikal dan formasi urat bijih timah yang terperangkap dalam batuan induk. Kawah bekas tambang kini terisi air membentuk danau berwarna hijau toska akibat kandungan mineral dan keasaman air, dengan terowongan bawah tanah kurang lebih sepanjang 600 meter.[8] Fitur ini membuatnya menjadi objek studi penting untuk memahami proses geologi timah primer di wilayah Bangka Belitung, termasuk endapan kasiterit terbesar yang pernah ditemukan dalam satu tambang, dengan produksi mencapai 500 ribu ton bijih timah pada kadar 2 persen antara 1980 hingga 1993.[9]
Pengembangan Pariwisata dan Konservasi
Sejak ditetapkan sebagai geosite dalam UNESCO Global Geopark Belitong pada 2021, Open Pit Nam Salu telah bertransformasi dari lokasi pertambangan menjadi destinasi wisata edukasi dan berkelanjutan, dengan fokus pada pariwisata berbasis komunitas (Community-Based Tourism).[6] Pengelolaan dilakukan oleh Badan Pengelola Open Pit Nam Salu (Bapopnas) sejak 2016, melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata, pengelola fasilitas, dan operator, yang mendukung ekonomi hijau melalui pendapatan dari tiket masuk dan usaha kecil menengah.[6]
Untuk mendukung kegiatan pariwisata, pemerintah daerah bersama Kementerian PPN/Bappenas telah membangun sarana dasar seperti toilet, kios cendera mata, dan penyediaan air bersih melalui Dana Alokasi Khusus Pariwisata.[10] Selain itu, atraksi wisata dikembangkan dalam bentuk tur geologi, penelusuran terowongan bawah tanah, serta pendakian ke bibir kawah bekas tambang dengan jalur sepanjang ±800 meter yang dipandu oleh masyarakat lokal.[11] Informasi geologi dan sejarah tambang disediakan melalui papan interpretasi dan QR code yang ditempatkan di titik-titik tertentu.[12]
Dari sisi konservasi, kawasan ini menghadapi tantangan berupa keberadaan tambang ilegal di sekitar lokasi. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama aparat penegak hukum secara berkala melakukan penertiban untuk menjaga kelestarian geosite dan keselamatan pengunjung.[13] Selain itu, dilakukan pula upaya penataan vegetasi dan rehabilitasi lahan pasca tambang untuk mengurangi risiko longsor serta mempertahankan kualitas lingkungan.[13][14]
Pengembangan pariwisata di Open Pit Nam Salu juga memiliki dimensi sosial-ekonomi. Keberadaan geosite ini memberi peluang pendapatan baru bagi masyarakat lokal melalui penyediaan jasa pemandu wisata, penjualan produk lokal seperti madu trigona, dan usaha kuliner serta suvenir.[11] Dengan demikian, kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai warisan geologi dan sejarah pertambangan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.