Nini Pelet (dikenal juga sebagai Nyi Pelet) adalah sebuah legenda dari folklor Jawa Barat yang dikaitkan dengan Gunung Ciremai, puncak tertinggi di Jawa Barat.[1]
Mitologi dan Kisah
Menurut tradisi, Nini Pelet adalah penjaga Gunung Ciremai. Kerajaannya konon terletak di Gua Walet, yang berada di dekat puncak gunung tersebut.[2] Ia digambarkan sebagai seorang penyihir sakti yang mempertahankan kecantikan dan kemudaan abadi meskipun usianya sudah berabad-abad.
Aspek paling menonjol dari legendanya melibatkan konflik dengan seorang pertapa bernama Ki Buyut Mangun Tapa. Nini Pelet dikisahkan telah mencuri naskah suci darinya yang bernama Kitab Mantra Asmara. Kitab ini berisi mantra-mantra yang kuat, terutama Jaran Goyang.[3] Dalam okultisme Indonesia, mantra ini sangat legendaris karena kemampuannya yang diyakini dapat membuat seseorang jatuh cinta tanpa kendali kepada penggunanya.[4] Nini Pelet dikabarkan menggunakan ajian-ajian ini untuk memikat pemuda dan pejabat demi mempertahankan masa mudanya.
Atribut
Nini Pelet dicirikan oleh kekuatan mistisnya yang luar biasa dan kemahiran dalam ilmu bela diri Silat. Kisahnya sering kali menggambarkan ia ditemani oleh atau menunggangi seekor harimau bermata satu, makhluk yang berfungsi sebagai pelindung spiritual sekaligus tunggangannya.[4] Persaingan utamanya adalah dengan pertapa Ki Buyut Mangun Tapa, yang dikabarkan mengutus muridnya, yaitu Restu Singgih, yang memiliki tujuan bersama, untuk mengambil kembali naskah yang dicuri tersebut.
Dampak Budaya
Legenda Nini Pelet menjadi bagian penting dalam budaya populer Indonesia selama tahun 1990-an. Popularitas ini sebagian besar didorong oleh sandiwara radioMisteri Nini Pelet, yang sangat digemari sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an.[5]
Dalam adaptasi televisi, aktris Leily Sagita menjadi wajah yang paling dikenal dari karakter tersebut, meraih ketenaran melalui perannya yang ikonik dalam memerankan tawa jahat sang penyihir. Legenda ini memiliki pengaruh linguistik yang langgeng; nama Nini Pelet secara luas dianggap sebagai asal-usul istilah "pelet" dalam Bahasa Indonesia modern, sebuah kata umum yang digunakan untuk menggambarkan jimat cinta atau mantra yang digunakan untuk memikat seseorang melalui sarana supranatural.[6]