Niō (dalam konteks Jepang) atau Inwang (dalam konteks Korea) atau Renwang (dalam konteks Tionghoa) atau Nhân vương (dalam konteks Vietnam), juga dikenal sebagai Dewa[1] atau Raja yang Baik Hati[2] adalah dua sosok penjaga Buddha yang berotot dan berwajah sangar yang terdapat di pintu masuk kuil-kuil Buddhis di Asia Timur. Mereka adalah manifestasi dharmapala dari bodhisatwaVajrapāṇi, dewa tertua dan terkuat dalam jajaran dewataMahayana. Menurut kitab suci seperti Tripitaka Pali serta Ambaṭṭha Sutta, mereka berkelana bersama Sang Buddha untuk mengawalnya. Dalam pengajaran Buddhisme yang umumnya pasifis, kisah-kisah dharmapala membenarkan penggunaan kekuatan fisik untuk melindungi nilai-nilai dan kepercayaan yang dijunjung tinggi dari ancaman kejahatan. Mereka juga dipandang sebagai manifestasi dari Mahasthamaprapta, bodhisatwa kekuatan yang mendampingi Amitābha dalam tradisi Buddhisme Tanah Murni dan sebagai Vajrasatwa dalam ajaran Buddhisme Tibet.[3]
Manifestasi
Makna simbolis
Mereka biasanya digambarkan sebagai sepasang makhluk yang berdiri menjaga gerbang masuk utama kuil, biasanya disebut shanmen (山門code: zh is deprecated ) di Tiongkok, niōmon (仁王門code: ja is deprecated ) di Jepang, dan geumgangmun (金剛門 - 금강문code: ko is deprecated ) di Korea. Dalam bahasa Sanskerta, patung sebelah kanan dikenal sebagai Guhyapāda. Secara tradisional, mulutnya terbuka, mewakili vokalisasi grafem pertama Dewanagari (अ, "a").[4] Adapun patung sebelah kiri disebut Nārāyaṇa. Secara tradisi, mulutnya tertutup, mewakili vokalisasi grafem terakhir Dewanagari (ह, "[ɦ]"), dibaca "ɦūṃ" (हूँ). Kedua karakter ini bersama-sama (a-hūṃ/a-un) melambangkan kelahiran dan kematian segala sesuatu. (Konon, manusia dilahirkan dengan mengucapkan bunyi "a" dengan mulut terbuka dan meninggal dengan mengucapkan "ɦūṃ" dan mulut tertutup.) Seperti halnya Jaya dan Wijaya, keduanya melambangkan "segala sesuatu" atau "seluruh ciptaan". Gabungan keduanya adalah mantra om (ॐ).
Jenderal Ha dan Heng di Kuil Cisheng di Dadaocheng, Taipei, Taiwan
Guhyapāda
Guhyapāda (Hanzi Tradisional: 密迹金剛; Hanzi Sederhana: 密迹金刚; Pinyin: Mìjī jīngāng; Jepang: Misshaku Kongō; Korea: Miljeok geumgang; Vietnam: Mật tích kim cương ) merupakan simbolisasi kekuatan yang sangat gamblang: ia memegang senjata wajravajra-pāṇi (sebuah tongkat berlian, tongkat petir, atau simbol matahari)[5] dan memperlihatkan giginya. Mulutnya digambarkan sedang mengucapkan bunyi "ha" atau "ah". Di Tiongkok, ia juga dikenal sebagai Jenderal Ha (哈将 Hā Jiāng) mengacu pada detail ikonografi ini. Demikian pula, ia juga dikenal sebagai Agyō (阿形, bentuk "a", istilah umum patung bermulut terbuka dalam pasangan aum) di Jepang karena detail ini juga. Dalam Buddhisme Tiongkok, Guhyapāda dianggap sebagai salah satu dari Dua Puluh Empat Dewa Pelindung, yang merupakan kelompok dharmapala yang sering disemayamkan di aula utama kuil dan biara. Selain itu, Guhyapāda juga kadang-kadang dipasangkan atau diidentifikasi dengan Raja Kebijaksanaan Ucchuṣma, yang dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai Huiji Jingang (穢跡金剛).[6]
Nārāyaṇa
Nārāyaṇa (Hanzi Tradisional: 那羅延金剛; Hanzi Sederhana: 那罗延金刚; Pinyin: Nàluōyán Jīngāng; bahasa Jepang: Naraen Kongō; bahasa Korea: Narayeon geumgang; bahasa Vietnam: Na la diên kim cương) digambarkan dengan tangan kosong atau memegang pedang. Ia melambangkan kekuatan terpendam, dengan mulut yang tertutup rapat. Mulutnya digambarkan mengucap bunyi "hūṃ", atau "heng" atau "un". Di Tiongkok, ia juga dikenal sebagai Jenderal Heng (哼将 Hēng Jiāng) yang mengacu pada detail ikonografi ini. Demikian pula, ia juga dikenal sebagai Ungyō (吽形code: ja is deprecated , bentuk "um"), istilah umum patung bermulut tertutup dalam pasangan om di Jepang karena detail ini.
Buddhisme Nio Zen merupakan praktik yang diajarkan oleh biksuZen Suzuki Shōsan (1579–1655). Beliau merekomendasikan para pengikutnya untuk bermeditasi pada Nio dan bahkan mengadopsi ekspresi garang dan sikap bela diri mereka untuk menumbuhkan kekuatan, ketangguhan, dan keberanian dalam menghadapi kesulitan.[7]
Pengaruh pada Taoisme
Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa dan Taoisme, mereka dikenal sebagai dua jenderal Heng dan Ha (哼哈二將, Hēng Hā èr jiàng). Dalam novel Taois Fengshen Yanyi, tokoh penjaga gerbang Zheng Lun dan Chen Qi akhirnya diangkat menjadi dewa.[8]