Ngantang adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang terletak di barat laut. Ngantang terletak di persimpangan strategis yang menghubungkan Kediri, Blitar, Batu dan Kota Malang. Pusat Kecamatan Ngantang merupakan kota kecil yang terdapat pasar, alun-alun, masjid besar, RSUD, dan infrastruktur lainnya. Kecamatan ini terletak di sebuah lembah dengan hawa yang sejuk karena dikelilingi pegunungan yang hijau seperti Gunung Kelud dan Kawi. Hal itu juga membuat Ngantang menjadi salah satu pusat wisata di Kabupaten Malang dengan spot paling ikonik yaitu Bendungan Selorejo yang juga memiliki PLTA. Ngantang juga dikenal sebagai sentra durian, kopi, hingga sususapi perah.[1][2][3]
Ngantang merupakan lokasi beberapa situs bersejarah misalnya Prasasti Ngantang yang menceritakan kemenangan Kerajaan Kadiri pimpinan Jayabaya melawan Jenggala sehingga kedua kerajaan tersebut bisa disatukan pada abad ke-12.[4] Situs lainnya adalah makam Karaeng Galesong, bangsawan dari Kerajaan Gowa (Makassar) yang beraliansi dengan Trunojoyo dari Madura dalam memerangi VOC pada abad ke-17.[5] Di pusat kecamatan juga dibangun Monumen Palagan Mendalan untuk mengenang perjuangan puluhan prajurit di Ngantang dan Kasembon dalam menghadang Belanda yang ingin menguasai PLTA Mendalan di Kasembon tahun 1948.[6]
Geografi
Peta administrasi dan lokasi Ngantang
Ngantang adalah kecamatan yang tergolong dalam kawasan Malang barat yang terpisah jauh dari ibu kota kabupaten di Kepanjen karena harus melewati Kota Batu dan Kota Malang terlebih dahulu. Ngantang terletak di sebuah lembah subur yang dikelilingi pegunungan dengan hutan yang lebat. Beberapa gunung yang mengelilingi Ngantang antara lain Gunung Kelud dan Kawi di selatan. Di antara kedua gunung tersebut terdapat jalur menuju Blitar. Sedangkan bagian utara merupakan kawasan lereng Gunung Argowayang. Pusat kecamatan Ngantang sendiri berada di kaki bukit kecil bernama Selokurung. Ikon dari kecamatan ini adalah Bendungan Selorejo. Bendungan tersebut berada di Kali Konto yang alirannya berlanjut ke Waduk Mendalan di Kasembon dan Waduk Siman di Kediri. Jalan penghubung dengan kecamatan lain berkelok-kelok tetapi memiliki pemandangan yang indah.[7]
Batas wilayah Kecamatan Ngantang adalah sebagai berikut:[7]
Ngantang adalah wilayah yang memiliki sejarah yang sangat panjang. Daerah Ngantang yang saat itu berupa desa bernama Hantang yang terdiri dari 12 dusun menjadi salah satu wilayah yang setia membantu perjuangan Jayabaya dari Kerajaan Kadiri melawan Kerajaan Jenggala. Perjuangan tersebut membuahkan hasil sehingga Jayabaya berhasil menyatukan Kadiri dengan Jenggala. Desa Hantang kemudian mendapat hak-hak istimewa yang tertulis pada Prasasti Hantang (1057 Saka / 1135 M). Dalam prasasti tersebut juga diukir semboyan "Panjalu Jayati" yang berarti "Kediri menang".[4] Namun kemenangan Kadiri tidak berlangsung lama dengan adanya Pertempuran Ganter sekitar tahun 1221. Ken Arok dari Tumapel menyatakan perang melawan Kerajaan Kadiri pimpinan Kertajaya. Pertempuran tersebut terjadi di daerah "Ganter" atau sekarang disebut Dusun Ganten di Ngantang. Ken Arok berhasil mengalahkan Kadiri dan mendirikan kerajaan baru bernama Singasari di Tumapel. Peninggalan dari kisah tersebut sekarang masih bertahan dalam bentuk Candi Ganter di Desa Tulungrejo.[8]
Pada abad ke-17, Karaeng Galesong menjadi salah satu tokoh pejuang melawan VOC di Nusantara pada masa itu. Beliau adalah putra Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa (Makassar) dari permaisuri keempatnya. Berdasarkan Perjanjian Bungaya tahun 1667, Makassar resmi menyerah terhadap aliansi VOC dan Kerajaan Bone. Akan tetapi, Karaeng Galesong dan pasukannya terus menyatakan perang terhadap VOC terutama di kawasan Pulau dan Laut Jawa. Karaeng Galesong pernah membantu Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten melawan Amangkurat I dari Mataram yang dibantu VOC. Karaeng Galesong juga bersekutu hingga menjadi menantu Trunojoyo dari Madura dalam Pemberontakan Trunojoyo. Namun perjuangan tersebut berakhir dengan wafatnya Karaeng Galesong pada tahun 1679 akibat sakit dan sekarang dimakamkan di Ngantang.[5]
"The Kluet Volcano from Ngantang, Java" - karya Marianne North (1876)
Di pusat Kecamatan Ngantang dibangun Monumen Palagan Mendalan pada tahun 1981. Monumen ini memperingati perjuangan prajurit TNI dalam menghadang Agresi Militer Belanda II yang ingin menguasai PLTA Mendalan di Kasembon pada Desember 1948. Sebagian besar pertempuran terjadi di Mendalan. Namun juga ada pertempuran di daerah Klangon dekat Bendungan Selorejo yang dilakukan pasukan Soediarto dan Martawi untuk menghambat pergerakan Belanda menuju Mendalan.[6]
Suasana Ngantang (1860-an)
Jalan di Ngantang (1860-an)
Air terjun di jalur Ngantang-Pujon
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Ngantang terdiri dari 13 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun atau dukuh, yakni sebagai berikut:[7]