Dalam bahasa Indonesia, paku ini dikenal sebagai paku pedang. Dalam berbagai bahasa lain, paku ini dikenal dengan sejumlah nama, yang kadang-kadang juga dipakai pada jenis paku lain. Bahasa Sunda: paku harupat, paku sepat; Jawa: pakis kinca, pakis andam; bahasa Lingga: paku uban; bahasa Melayu: paku larat.[1]
Morfologi
Ternaepifit atau setengah epifit, mudah dijumpai tumbuh di tepi-tepi sungai, tebing, atau pada batang palem serta pohon lain. Rimpangnya tipis, menyerupai akar. Dari rimpangnya tumbuh ental yang memanjang, dapat mencapai 1,5m panjang, dengan anak-anak daun tersusun menyirip tunggal, mirip pedang atau mata tombak.
Persebaran
Di Indonesia dan daerah Asia tropis lainnya, Nephrolepis mudah dijumpai di rumah-rumah atau kebun. Tumbuhan ini mudah beradaptasi karena bersifat epifit dan memiliki rimpang yang tahan kering yang menjalar ke mana-mana.
N. exaltata diketahui memiliki kemampuan untuk menyerap gas toksik dari ruangan[2]
Taksonomi
Posisi Nephrolepis cukup sulit ditentukan untuk dimasukkan ke dalam suku (familia) tertentu. Pustaka sebelum era biologi molekuler memasukkannya ke dalam berbagai suku: Oleandraceae, Davalliaceae, maupun Dennstaedtiaceae.[1] Namun, ciri-ciri khas seperti hidatoda yang mengeluarkan cairan berkapur, banyaknya stolon yang dihasilkan, serta bentuk indusium dan spora yang berbeda, menjadikannya dimasukkan ke dalam suku tersendiri: Nephrolepidaceae.
Dengan mulai digunakannya alat-alat biologi molekuler dalam taksonomi saat ini, Nephrolepis dimasukkan dalam suku Lomariopsidaceae, walaupun banyak yang menganggap Nephrolepis lebih baik dikelompokkan sebagai genus tunggal dari suku Nephrolepidaceae.[3]
12Darnaedi, D.; Praptosuwiryo, T.N. "Nephrolepis (PROSEA)". Pl@ntUse. Diakses tanggal 23 Februari 2020.
↑Kobayashi, K.; etal. (2007). "Using Houseplants To Clean Indoor Air". Ornamentals and Flowers. OF-27.
↑PPG I (2016), "A community-derived classification for extant lycophytes and ferns", Journal of Systematics and Evolution, 54 (6): 563–603, doi:10.1111/jse.12229