Nasionalisme etnik, juga dikenal sebagai etno-nasionalisme, adalah jenis nasionalisme yang mendefinisikan "bangsa" berdasarkan etnik.[1]
Gagasan utama yang diangkat oleh kelompok nasionalis etnik adalah "bangsa didefinisikan oleh warisan budaya yang sama, yang biasanya mencakup bahasa yang sama, agama yang sama, dan nenek moyang etnik bersama".[2] Gagasan ini berbeda dengan gagasan "bangsa" berdasarkan budaya, karena gagasan tersebut memungkinkan seseorang dari kelompok etnik lain untuk berasimilasi. Gagasan ini juga berbeda dengan nasionalisme linguistik yang mendefinisikan "bangsa" berdasarkan bahasa yang dituturkan.
Asumsi utama dalam gagasan ini adalah kelompok etnik dapat didefinisikan dengan jelas, dan setiap kelompok memiliki hak penentuan nasib sendiri. Aspirasi yang diinginkan bisa bermacam-macam, dari keinginan untuk memiliki pemerintahan sendiri di dalam suatu negara, keinginan untuk memperoleh otonomi, hingga keinginan untuk merdeka. Dalam hubungan internasional, nasionalisme etnik dapat melahirkan gerakan iredentisme.
De Benoist, Alain. "Nationalism: Phenomenology & Critique." Counter-Currents.com, 16 May 2012.
De Benoist, Alain. "On Identity." Telos, Vol. 2004, No. 128 (Summer 2004), pp.9–64. Telos page, online text
De Benoist, Alain. Vu de droite: Anthologie critique des idées contemporaines (2002). excerpt
De Benoist, Alain. Les Idées à l’endroit (1979). text search
Esman, Milton J., and Itamar Rabinovich, eds. Ethnicity, Pluralism, and the State in the Middle East (1988)
Gurr, Ted Robert, and Barbara Harff. Ethnic Conflict in World Politics (1994) online
Jones, Larry Eugene & Retallack, James, eds.. Between Reform, Reaction, and Resistance. Studies in the History of German Conservatism from 1789 to 1945 (1993). text search
Kramer, Lloyd. Nationalism in Europe & America: Politics, Cultures, and Identities since 1775 (2011) online
Mohler, Armin. Die Konservative Revolution in Deutschland 1918–1932 (1972). excerpt and text search