Nama Na IX-X berasal dari sebuah cerita yang diceritakan oleh seorang tokoh di kecamatan Na IX-X, Sahbuddin Munte. Ia menjelaskan bahwa nama Na IX-X merupakan gabungan dari kata Na dan angka Romawi IX (9) dan X (10). Di mana Na adalah kata dari bahasa Batak Toba, yang berarti 'kita'. Sementara itu, angka 9 dan 10 adalah jumlah raja (pemimpin lokal) yang memimpin wilayah di kecamatan Na IX-X. Terdapat 9 raja di hilir dan 10 raja di hulu.[2]
Mereka yang disebut sebagai raja, adalah gelar untuk pemimpin yang pernah memerintah di wilayah yang sekarang menjadi kecamatan Na IX-X. Selain menjadi pemimpin rakyat mereka, mereka juga pejuang yang melawan pemerintah kolonial Belanda. Ia berkata, "Selama periode kolonial, Na IX-X tidak pernah bisa dikuasai oleh Belanda dalam waktu lama. Jika Belanda masuk, raja-raja di hilir akan memilih perang atau bersembunyi di hutan. Jika terjadi perang, raja di hulu akan membantu, jika ia bersembunyi di hutan, raja di hulu juga akan membantu. Nantinya, ketika raja di hulu jatuh, raja di hilirlah yang akan membantu. Bersikap ramah dan saling membantu adalah hal yang memperkuat persatuan mereka".[2]
Bukti perjuangan melawan penjajah oleh raja-raja di Na IX-X adalah monumen perjuangan yang dibangun oleh pemerintah di Aek Kota Batu (ibu kota kecamatan Na IX-X). Monumen ini dibangun untuk menghormati jasa ke-19 raja dalam membela kedaulatan rakyat mereka melawan penjajah Belanda. Selain monumen, ke-19 raja tersebut juga diberi hak untuk menamai wilayah mereka. Setelah berdiskusi, mereka menyepakati nama Na IX-X, yang masih digunakan hingga saat ini.[2]
Menurut Sahbuddin, 19 raja di Na IX-X memiliki nama keluarga (marga) Batak Toba, terdiri dari 15 raja bermarga Munte, 2 raja bermarga Pohan, 1 raja bermarga Ritonga, dan 1 raja bermarga Sipahutar. Menurut Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, monumen perjuangan di Aek Kota Batu, didedikasikan untuk 19 raja yang berjuang melawan Belanda.[2]
Berikut adalah nama-nama dari 19 raja di kecamatan Na IX-X:[2]
Raja Aek Kota Batu
Raja Pulo Godang
Raja Pulo Hopur
Raja Tardas
Raja Montong
Raja Hatapang
Raja Pasang Lela
Raja Berangir
Raja Japadang
Raja Napompar
Raja Padang Nabidang
Raja Batu Jonjong
Raja Masehi Jae
Raja Masehi Julu
Raja Huala Masehi
Raja Batu Tunggal
Raja Huta Baru
Raja Rimbaya
Raja Aek Kopong
Geografi dan iklim
Keadaan geografi
Desa/Kelurahan
Luas (km2)
Jarak ke ibu kota kecamatan (km)
Tinggi DPL (m)
Pematang
78,00
45
119
Batu Tunggal
62,50
12
53
Sungai Raja
57,50
9
5
Perkebunan Berangir
34,00
9
38
Pasang Lela
5,00
13
45
Silumajang
67,50
13
77
Hatapang
76,75
22
238
Meranti Omas
62,25
15
103
Bangun Rejo
19,62
7
50
Kampung Pajak
22,88
4
41
Aek Kota Batu
31,30
2
36
Simpang Merbau
16,20
3
54
Pulo Jantan
17,50
4
33
Total
554,00
Keadaan iklim
Bulan
Jumlah curah hujan (mm)
Jumlah hari hujan (hari)
Januari
144
12
Februari
105
7
Maret
156
12
April
239
15
Mei
235
10
Juni
176
8
Agustus
302
16
September
238
15
Oktober
210
11
November
330
16
Desember
227
10
Catatan
Pembaruan data untuk tahun 2022
Pemerintahan
No.
Nama camat
Periode jabatan
1
Zuhri
2010–2011
2
Sakti Sormin
2011–2015
3
Samsul Tanjung
2015–2017
4
Sukamto
2017–2018
5
Jhon Ferry
2018–2020
6
Abdul Hariman
2020–2022
7
M. Adlin Rizky Matondang
2022–2023
8
Sukur Pasaribu
2023–sekarang
Penduduk
Desa/kelurahan
Jumlah penduduk (jiwa)
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Pematang
1.011
950
1.961
Batu Tunggal
3.556
3.378
6.934
Sungai Raja
3.629
3.671
7.300
Perkebunan Berangir
1.240
1.156
2.396
Pasang Lela
1.717
1.675
3.392
Simalujang
3.164
2.951
6.115
Hatapang
578
568
1.146
Meranti Omas
1.641
1.560
3.201
Bangun Rejo
1.960
1.928
3.888
Kampung Pajak
2.715
2.637
5.352
Aek Kota Batu
3.443
3.407
6.850
Simpang Merbau
2.336
2.269
4.605
Pulo Jantan
3.330
3.291
6.621
Total
30.320
29.441
59.761
Demografi
Agama
Agama yang paling banyak dipraktikkan oleh penduduk kecamatan Na IX-X adalah Islam (91%), sedangkan sisanya beragama Kristen Protestan (9%). Terdapat 86 masjid dan 5 gereja sebagai tempat ibadah di kecamatan ini.[1]
Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh mayoritas penduduk kecamatan Na IX-X adalah bahasa Indonesia karena keragaman demografi penduduknya. Selain itu, penduduk aslinya menggunakan bahasa Batak Toba dan sebagian lainnya menggunakan bahasa Batak Angkola sebagai bahasa sehari-hari mereka. Sementara itu, bahasa lain yang cukup sering digunakan adalah bahasa Melayu (dialek Kualuh) dan bahasa Jawa.[1]
Suku bangsa
Suku bangsa asli dan mayoritas di kecamatan Na IX-X adalah suku Batak Toba, sebagian kecilnya adalah suku Batak Angkola. Sementara itu, terdapat juga sejumlah besar penduduk pendatang, terutama suku Jawa, Minangkabau, dan Melayu. Rinciannya pada tahun 2020 adalah Batak (83,35%), Jawa (14,28%), dan lainnya (2,37%).[1]
Pariwisata
Di Kecamatan Na IX-X, terdapat objek wisata alam yang sangat terkenal, yaitu Aek Buru, sungai berbatu dengan air yang bersih, jernih, dan dingin yang terletak di desa Batu Tunggal.
Selain Aek Buru, terdapat juga banyak lokasi wisata alam di kecamatan ini, warga setempat menyebutnya Teluk Tangga, Teluk Salak, dan berbagai lokasi wisata alam lainnya, yang terletak di desa Silumajang, sekitar 10 km dari Jalan Raya Lintas Sumatera.
Perekonomian
Sebagian besar pendapatan masyarakat di kecamatan Na IX-X berasal dari perkebunan dan sektor komoditas. Hasil perkebunan utama di kecamatan ini adalah kelapa sawit dan karet. Terdapat juga persawahan padi.[1]