Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini diproduksi pada 25 Agustus 1972. Pesawat tersebut merupakan Fokker F28-1000 berusia tujuh tahun yang terdaftar dengan registrasi PK-GVE dan nomor seri 11055.[1] Sebelumnya pesawat ini menggunakan registrasi PK-GJV sebelum didaftarkan ulang sebagai PK-GVE pada Juli 1974.[2] Hingga saat kecelakaan terjadi, pesawat telah mencatat total 14.154 jam terbang dalam 14.084 siklus penerbangan.[1]
Pesawat ini diberi nama "Mamberamo", diambil dari nama Sungai Mamberamo di Papua Barat.[3] Garuda Indonesia Airways membelinya pada tahun 1972 dengan harga kurang dari 5 juta Dolar Amerika Serikat.[4] Pada Maret 1979, maskapai tersebut memiliki 30 armada Fokker F28 sebelum kehilangan satu unit akibat kecelakaan di Gunung Bromo.[4]
Awak pesawat
Terdapat empat awak di dalam penerbangan tersebut. Kapten pesawat adalah A.E. Lontoh yang memiliki sekitar 7.000 jam pengalaman terbang dan bergabung dengan Garuda Indonesian Airways pada Mei 1969. Kopilotnya adalah Moh Nurtjahjo yang berusia 26 tahun.
Dua pramugari yang bertugas adalah Netty Meriyati Pittal Uli br. Simatupang yang berusia 21 tahun dan Raflesiawati Anwar Zen yang berusia 20 tahun. Netty menyelesaikan pendidikan pramugarinya pada Desember 1978 sebelum mulai bekerja pada awal 1979, sedangkan Raflesiawati mulai bekerja di maskapai tersebut pada April 1979.
Kecelakaan
Pesawat yang beroperasi dengan nomor penerbangan yang tidak diketahui itu telah berangkat dari Palembang sekitar 80 menit sebelumnya dan telah memperoleh izin untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu 05 di Bandar Udara Medan. Pesawat diminta melaporkan ketika melintasi suar radio nonarah (NDB) berkode "ON" pada ketinggian 2.500ft (760m).
Pilot kemudian melaporkan bahwa pesawat mempertahankan ketinggian 9.300ft (2.800m) karena NDB tersebut tidak dapat diandalkan. Pengendali pendekatan lalu menginstruksikan agar ketinggian tersebut dipertahankan hingga pesawat melewati NDB. Tidak lama kemudian, pilot melaporkan bahwa pesawat berada pada ketinggian 6.000ft (1.800m). Dalam kondisi tersebut, pesawat kemudian menabrak Gunung Sibayak, sebuah gunung berapi dengan ketinggian 7.200ft (2.200m), pada ketinggian sekitar 5.560ft (1.690m).
Dampak dan pascakecelakaan
Kecelakaan ini diumumkan secara resmi pada hari berikutnya. Menurut Reuters, penduduk setempat berhasil mencapai lokasi jatuhnya pesawat sekitar pukul 02.00 dini hari, dan setelah itu tim pencari dikirim dari Medan. Sementara itu, menurut Agence France-Presse, sebuah pesawat pencarian danpenyelamatan (SAR) berhasil menemukan puing-puing pesawat dari udara.
Tidak ditemukan korban selamat. Tim SAR kemudian menuju lokasi kejadian untuk menyelidiki penyebab kecelakaan. Selain itu, Menteri PerhubunganRoesmin Noerjadin juga terbang ke Medan guna melakukan penyelidikan lebih lanjut.[4]
Seorang wartawan harian Analisa melaporkan bahwa warga yang menyaksikan kejadian tersebut mendengar suara ledakan sebelum melihat kobaran api di lokasi kecelakaan. Ia juga melaporkan bahwa warga yang turut membantu operasi pencarian dan penyelamatan hanya menemukan "pecahan-pecahan logam serta potongan besar bangkai pesawat". Sayap dan ekor pesawat merupakan satu-satunya bagian yang masih dapat dikenali.
Maskapai memberikan santunan sebesar Rp3,4 juta kepada keluarga setiap korban. Selain itu, bagasi penumpang juga diberikan ganti rugi sebesar Rp2.000 per kilogram.[5] Sebanyak 48 jenazah yang tidak teridentifikasi dari kecelakaan Garuda Indonesia Penerbangan 152 kemudian dimakamkan di sebuah pemakaman di luar Bandar Udara Internasional Polonia, lokasi yang sama dengan tempat dimakamkannya 57 korban kecelakaan ini.
Penyelidikan
Pada sore hari setelah kecelakaan, Roesmin Noerjadin menyatakan bahwa meskipun seorang anggota tim SAR mengaku telah menemukan perekam suara kokpit (CVR) dan perekam data penerbangan (FDR), informasi tersebut masih belum dapat dipastikan kebenarannya oleh para ahli.
Pada 14 Juli, ia menyatakan bahwa cuaca buruk dan awan rendah kemungkinan besar menjadi penyebab kecelakaan tersebut.
↑Endres, Günter G. (1979). World airline fleets (dalam bahasa Inggris). Hounslow, Middlesex: Airline Publ. ISBN978-0-905117-52-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)