Museum dan Galeri Arsip Statis Kota Padang berfungsi sebagai pusat pelestarian dokumentasi sejarah Kota Padang. Terletak di lantai dua Gedung Balaikota lama, bangunan warisan kolonial Hindia Belanda ini mempertahankan keaslian arsitekturnya dan menjadi situs penting dalam perjalanan historis kota.[1][2]
Koleksinya mencakup lebih dari 200 Staatsblad (lembaran negara era kolonial), peta-peta historis, dokumen resmi, foto-foto kuno, surat kabar masa lampau, lukisan, buku, serta diorama. Arsip audiovisual juga tersedia dalam bentuk video dokumenter, menampilkan berbagai peristiwa penting, termasuk penyerangan Loji Belanda oleh masyarakat Kuranji dan penetapan 7 Agustus sebagai Hari Jadi Kota Padang.[3]
Museum ini turut mengadopsi teknologi digital interaktif, seperti pemindaian kode batang (barcode) pada kolase foto, yang memberikan akses langsung ke informasi kontekstual. Koleksi yang tersaji mendokumentasikan lintasan sejarah Kota Padang dari masa kolonial, masa kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga era kontemporer, termasuk peristiwa bencana alam dan pandemi global. Museum dan Galeri Arsip Statis Kota Padang menampilkan beragam koleksi, mulai dari foto-foto kuno, peta-peta historis, dokumen resmi peninggalan masa Hindia Belanda, hingga surat kabar tempo dulu yang merekam berbagai peristiwa bersejarah. Tersedia pula cuplikan video pendek yang menyajikan kilasan momen-momen penting dalam sejarah Kota Padang.[3][4]
Peresmian
Museum dan Galeri Arsip Stasis di Gedung Balai Kota Lama yang berada di Kawasan Pasar Raya Padang, diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 7 Desember 2024 oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Jefrinal Arifin, bersama Penjabat (Pj) Wali Kota Padang, Andree Algamar.[5] Peresmian ini ditandai dengan penandatangan prasasti oleh kedua pejabat tersebut.[6]