Sejarah
Pendirian museum ini dilaksanakan berdasarkan amanat para pendiri USM, yang terdiri dari para akademisi terkemuka seperti Prof. Sudarto, S.H., Prof. Dr. Moeljono S. Trastotenojo, dan lainnya. Museum tersebut bertujuan mendokumentasikan perjalanan historis institusi ini sejak didirikan pada 1987, termasuk tahapan transformasinya dari politeknik menjadi universitas.[1][2]
Museum Universitas Semarang dibangun sebagai institusi dokumentasi yang merekam jejak historis perkembangan universitas sejak masa pendiriannya pada 1987 hingga era kontemporer. Museum ini menyimpan berbagai benda bersejarah yang memiliki nilai simbolis dan naratif, mencakup periode kepemimpinan rektor, dinamika pembangunan fisik kampus, serta foto-foto dokumenter yang merepresentasikan tonggak perjalanan institusional USM.[2]
Menurut pernyataan Rektor USM, Dr. Supari, S.T., M.T., museum ini dirancang bukan sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan sebagai saksi kolektif yang mencerminkan evolusi dan semangat perjuangan civitas akademika dalam membangun lembaga pendidikan tinggi yang berdaya saing. Ia menegaskan bahwa Museum USM terbuka bagi mahasiswa internal maupun masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat sejarah berdirinya kampus dan kontribusinya dalam dunia pendidikan nasional.[2]
Pengembangan museum ini juga diorientasikan pada nilai edukatif dan inspiratif, di mana setiap koleksi di dalamnya diharapkan mampu menjadi bahan refleksi dan pembelajaran lintas generasi. Melalui pendekatan kuratorial yang inklusif, Museum USM tidak hanya memelihara warisan institusional, tetapi juga berperan sebagai pusat informasi yang memperkuat identitas akademik dan memfasilitasi pemahaman historis mengenai dinamika pendidikan tinggi di Indonesia.[3]
Dalam bangunan museum, dipamerkan koleksi dokumenter dan artefak historis seperti foto-foto para pendiri, struktur kepemimpinan, arsip visual kampus pada masa awal, sepeda milik salah satu pendiri, peralatan siaran Radio Jatayu, hingga ruang-ruang edukatif seperti studio podcast dan galeri inovasi. Koleksi ini ditujukan sebagai sarana pelestarian sejarah sekaligus sebagai sumber pengetahuan lintas generasi.[1][2]
Pembangunan museum memakan waktu 2,5 tahun dan dilakukan dengan melakukan studi perbandingan ke museum-museum di lingkungan perguruan tinggi lain sesuatu yang masih langka di Indonesia. Museum USM juga dibuka untuk publik luas, dengan harapan dapat menjadi wahana edukatif yang bersifat inklusif, utamanya bagi pelajar dan mahasiswa lintas institusi.[1][2]
Dengan semangat sejarah dan pembelajaran, pendirian museum ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas kelembagaan, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk memahami nilai-nilai perjuangan, dedikasi, serta kontribusi ilmu pengetahuan dalam pembangunan bangsa.