Museum Tanjungpandan atau Museum UPTD Pemkab Belitung[1] merupakan museumpertambangan yang terletak di Jalan Melati No. 41A,[2] Tanjung Pandan Kabupaten Belitung.[3] Museum ini diresmikan pada tanggal 2 Maret 1962 oleh Presiden Perusahaan Penambangan Timah Belitung Kurnadi Kartaadmadja. Museum ini didirikan dengan dasar Surat perintah Menteri Pertambangan RI tahun 1959 kepada setiap Perusahaan Penambangan Timah yang ada di Belitung, Bangka, dan Singkep. Ir. M.E.A. Apitule, direktur utama Tambang Timah Belitung pada waktu itu menugaskan Dr. R. Osberger, seorang Eksplorasi dan Geologi Perusahaan Penambangan Timah di Kabupaten Belitung untuk melaksanakan pendirian Museum.[4]
Sebelum menjadi museum memerintah Kabupaten Belitung museum ini bernama museum geologi. Dengan SK nomor: 013/ba-0000/94-B1. Museum Geologi dihibahkan kepada pemerintah Kabupaten Belitung. Selaku pemberi hibah adalah Erry Riyana Hardjapamekas dalam (Direktur Utama PT Tambang Timah) dan penerima hibah adalah Haji Urip TP. Alam (Bupati kepala daerah tingkat 2 Kabupaten Belitung). Setahun setelah penghibahan tersebut, kemudian Bupati kepala daerah tingkat 2 Belitung mengubah nama museum geologi PT Timah Belitung menjadi museum Pemerintah Kabupaten daerah tingkat 2 Belitung dan menetapkan museum tersebut sebagai objek wisata dan rekreasi di daerah tingkat 2 Belitung.[5][6]
Museum Pemda Belitung ini masih terletak di dalam Kota Tanjungpandan, tak jauh dari Pantai Tanjung Pendam.[7] Di Museum ini pengunjung dapat menelisik sejarah penambangan timah di Pulau Belitung dalam bentuk replika tambang dan peralatannya, barang-barang peninggalan bersejarah, dan juga sebuah kebun mini lengkap dengan sarana bermain anak.[8]
Sejarah
Pada tahun 1959, Menteri Pertambangan menginstruksikan agar perusahaan-perusahaan tambang timah di wilayah Belitung, Bangka, dan Singkep mendirikan sebuah museum. Menindaklanjuti hal tersebut, Ir. M.E.A. Apitule selaku Direktur Utama Tambang Timah Belitung saat itu, menunjuk Dr. R. Osberger untuk memimpin pendirian museum tersebut.[6] Osberger, seorang warga negara Austria yang ahli dalam bidang geologi, menjabat sebagai Kepala Dinas Eksplorasi dan Geologi pada Perusahaan Penambangan Timah di Kabupaten Belitung.[6][9]
Pada tahun 1962, Museum Pertambangan diresmikan pada tanggal 2 Maret 1962 oleh Ir. Kurnadi Kartaatmadja. Kala itu Ir. Kurnadi adalah Presiden Direktur Perusahaan Penambangan Timah Belitung.[6]
Pada tanggal 15 Juni 1994, PT Timah menghibahkan museum kepada Pemerintah Kabupaten Belitung. Berita acara ditandatangani oleh Erry Riyana Hardjapamekas selaku Direktur Utama PT. Timah kepada H. Oerip Tp. Alam selaku Bupati Kabupaten Belitung.[6]
Pada tahun 1995, nama Museum Geologi PT Timah Belitung diganti menjadi Museum Pemerintah Kabupaten Tingkat II Belitung.[6]
Koleksi
Koleksi museum terdiri atas koleksi pertambangan timah dan koleksi benda budaya. Koleksi pertambangan timah mengetengahkan cara-cara penambangan timah dari yang paling sederhana sampai yang modern.[4] Sementara koleksi benda budaya terdiri atas benda peninggalan raja-raja yang pernah berkuasa di Pulau Belitung, di antaranya Kerajaan Balok, Badau, dan Belanto berupa tombak, pedang, keris, stempel, keramik, dan mata uang.[10][4]
Terdapat juga koleksi senjata berupa samurai, pedang, dan senjata laras panjang peninggalan kolonial Belanda. Samurai peninggalan Jepang tersebut bertarikh 1514, sehingga menjadi salah satu koleksi tertua yang dimiliki Museum Tanjung Pandan.[10]
Pada ruangan lain, pengunjung dapat melihat koleksi berupa aneka peralatan yang digunakan masyarakat Belitung tempo dulu. Terdapat setrika, pahar, tempat sirih, cerek, periuk tembaga, dan gantang.[10]
Waktu kunjung
Museum Tanjungpandan dapat dikunjungi setiap hari. Jam buka Museum Tanjungpandan dimulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00.[11]
Tiket masuk
Untuk tarif masuk ke Museum Timah Tanjung Pandan ini sebesar Rp. 3.000,- per orang.[12]
Jarak tempuh
Jarak museum dari Bandara Internasional Hanandjoedin sekitar 40,5 km. Sedangkan jarak dari Pelabuhan Tanjung Pandan sekitar 44 km.[6]
12Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan (2012). Album Budaya: Direktori Museum Indonesia(PDF). Jakarta: Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm.746–749. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)