Sebelum difungsikan sebagai Museum Perundingan Linggarjati, bangunan ini awalnya merupakan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918. Pada tahun 1921, bangunan tersebut direnovasi oleh seorang warga Belanda bernama Tersana menjadi rumah semi permanen. Selanjutnya, pada periode 1930–1935, setelah dibeli oleh keluarga Van Ost Dome, bangunan kembali diubah menjadi rumah tinggal dengan bentuk yang menyerupai kondisi saat ini. Pada tahun 1935–1946, bangunan tersebut disewa oleh Heiker, seorang warga Belanda, dan dijadikan hotel dengan nama Hotel Rus Toord. Fungsi bangunan sebagai hotel tetap berlanjut pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Pada masa itu, nama hotel diubah menjadi Hotel Hokay Ryokan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, hotel tersebut kembali berganti nama menjadi Hotel Merdeka.[2]
Museum Perundingan Linggajati terletak di lokasi bersejarah tempat berlangsungnya perundingan antara pihak Indonesia dan Belanda pada tahun 1946-1947. Perundingan Linggajati sendiri berlangsung dari 10-15 November 1946. Selama perundingan, villa ini digunakan sebagai tempat menginap delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Perdana MenteriSutan Sjahrir.[3]
Setelah perundingan berakhir, bangunan ini sempat terbengkalai selama beberapa dekade. Pada tahun 1975, pemerintah Indonesia memutuskan untuk merenovasi dan mengubah bangunan ini menjadi sebuah museum untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut.[4]
Museum Perundingan Linggajati diresmikan oleh PresidenSoeharto pada tanggal 11 November 1976, bertepatan dengan peringatan 30 tahun Perundingan Linggajati.[5] Sejak saat itu, museum ini berfungsi sebagai pusat informasi dan edukasi tentang peristiwa penting dalam sejarah diplomasi Indonesia. Hingga kini, tata ruang Museum Perundingan Linggarjati masih mempertahankan pembagian ruangan yang menyerupai bangunan hotel pada masa sebelumnya.[2]
Dalam perkembangannya, museum ini telah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran untuk menjaga keaslian bangunan sekaligus meningkatkan fasilitas bagi pengunjung. Pada tahun 2012, museum ini kembali direnovasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas pameran dan pelayanan.[6]
Informasi Kunjungan
Museum Perundingan Linggajati dibuka untuk umum dengan jadwal sebagai berikut:
Hari operasional: Selasa - Minggu (Tutup hari Senin dan hari libur nasional)
Jam operasional: 08.00 - 16.00 WIB
Durasi kunjungan rata-rata: 1-2 jam
Pengunjung disarankan untuk menghubungi museum terlebih dahulu untuk konfirmasi jadwal terkini dan prosedur kunjungan.
12Marijan, Kacung (2012) Album budaya: direktori museum Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Jakarta. hlm. 286-287
↑Kahin, George McTurnan (2003). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca, NY: Cornell Southeast Asia Program Publications. hlm.196–197. ISBN978-0877277347.
↑Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2013). Sejarah Museum di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm.87–88.